3 Faktor Risiko Ini Tingkatkan Risiko Terkena Konjungtivitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
 konjungtivitis, lensa kontak dapat, pink eye

Halodoc, Jakarta - Konjungtivitis atau yang juga dikenal pink eye merupakan kemerahan dan pembengkakan pada selaput kelopak mata dan permukaan mata. Lapisan ini disebut konjungtiva, sedangkan radang konjungtiva ini disebut pula dengan konjungtivitis. Lapisan mata umumnya terlihat jernih dan tidak berwarna. Konjungtivitis biasanya terjadi dan menyebar dengan mudah, terutama di kalangan anak-anak, di sekolah, apalagi di lingkungan asrama.

Mata yang sakit sering menular akibat dikucek tangan. Maka itu, perlu untuk selalu mencuci tangan. Selain itu berbagai kain lap, handuk, atau benda lainnya dengan orang yang mengalami konjungtivitis dapat menularkan infeksi.

Kondisi konjungtivitis biasanya sering disebabkan oleh virus. Namun, pada kasus lain dari konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh bakteri, termasuk Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, spesies Haemophilus, dan Chlamydia trachomatis, dan jamur meskipun jarang terjadi. Selain itu udara kering, alergi, asap, dan bahan kimia juga bisa menyebabkan penyakit mata ini.

Baca juga: 7 Penyakit Tak Biasa pada Mata

Terkadang konjungtivitis bakteri disebabkan pula oleh infeksi menular seksual (IMS), seperti Chlamydia. Apabila gejala tidak hilang setelah sebulan lamanya, kemungkinan ini menunjukkan IMS. Kebanyak jenis konjungtivitis bakteri akan sembuh lebih cepat dengan pengobatan. Konjungtivitis infeksi sangat menular dan dapat dengan mudah diteruskan pada orang lain.

Kamu perlu mengetahui risiko mata merah untuk menghindari penularan infeksi ke orang lain. Beberapa faktor risiko ini dapat meningkatkan risiko mata merah akibat konjungtivitis:

1. Penggunaan Lensa Kontak

Sering menggunakan lensa kontak dapat meningkatkan risiko mata merah dalam berbagai cara. Larutan pembersih terinfeksi oleh bakteri atau dapat mengiritasi, karena kandungan zat kimia di dalamnya. Lensa kontak itu mungkin tidak sesuai dengan mata, sehingga memicu terjadinya risiko konjungtivitis.

Baca juga: Kenali Pterygium Penyakit yang Sebabkan Tumbuhnya Selaput pada Mata

2. Mata Kering

Apabila kamu memiliki sindrom mata kering, maka akan sangat rentan mengalami mata merah. Maka itu, sebaiknya selalu antisipasi dengan penggunaan obat tetes mata hidrasi atau sesuai dengan resep dokter.

3. Kebersihan Benda

Kebiasaan kurang bersih dalam memelihara barang akan membuat kamu mudah mengalami mata merah, sebab infeksi bakteri dalam benda yang sering digunakan, seperti handuk atau tangan kamu sendiri. Jadi, pastikan semua benda-benda kamu bersih dan higienis, cuci tangan kamu sesering mungkin, dan hindari menggosok mata dengan tangan kotor.

Kamu dapat menggunakan obat tetes mata antibiotik untuk mengatasi bakteri pada konjungtivitis yang parah. Namun, kebanyakan konjungtivitis tidak memerlukan perawatan, karena biasanya gejala akan hilang dalam dua minggu. Selain itu, bersihkan kelopak dan bulu mata dengan menggunakan kapas dan air dari lapisan yang lengket atau berkerak. Sebelum gejala konjungtivitis hilang, sebaiknya hindari memakai lensa kontak terlebih dulu.

Baca juga: 4 Pertanyaan Seputar Mata Juling

Usahakan pula untuk menghindari pemicu alergi. Pengobatan dengan antihistamin biasanya digunakan untuk mengatasi konjungtivitis alergi. Untuk mencegah penyebaran, hindari berbagi penggunaan handuk atau bantal, dan cucilah tangan secara rutin.

Sebagian besar konjungtivitis yang terjadi tidak menimbulkan masalah kesehatan serius, tetapi dapat menimbulkan frustasi. Apalagi pada pengidap konjungtivitis alergi. Hal ini disebabkan pengidap akan mengalami rasa gatal hebat secara-terus menerus.

Komplikasi yang ditimbulkan konjungtivitis pun termasuk serius, tetapi jarang terjadi adalah jaringan parut pada mata (akibat konjungtivitis alergi yang parah) dan meningitis (jika infeksi menyebar). Jadi, jika kamu mengalami gejala terjadinya konjungtivitis sebaiknya segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.