31 December 2018

3 Jenis Gangguan Telinga yang Perlu Diketahui

3 Jenis Gangguan Telinga yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta - Telinga adalah salah satu dari lima panca indera yang fungsinya sangat penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Merawat dan memeriksanya secara rutin adalah salah satu keharusan untuk mencegah adanya gangguan telinga. Sebab jika gangguan telinga terjadi, maka hal ini bisa sangat mengganggu aktivitas seperti misalnya jadi sulit mendengar atau semacamnya. Gangguan telinga umumnya terjadi karena telinga sangat mudah terpapar atau terkontaminasi dari luar. Gangguan juga bisa terjadi karena adanya gangguan pada saraf telinga. Nah, berikut ini terdapat beberapa jenis gangguan pada telinga yang perlu kamu ketahui:

  • Penumpukan Kotoran Telinga

Apa yang sebetulnya kita sebut kotoran telinga sebetulnya adalah earwax, yakni komponen alamiah yang akan dihasilkan telinga guna menjaga kesehatan telinga. Earwax ini akan menjaga telinga dengan cara menangkap debu dan partikel asing lainnya yang masuk ke dalam telinga sehingga benda-benda tersebut tidak masuk ke bagian dalam telinga yang memicu kerusakan atau infeksi pada gendang telinga.

Baca Juga: Jangan Terlalu Sering, Ini Bahaya Mengorek Telinga

Sebetulnya earwax ini akan mengering dan keluar dengan sendirinya bersama dengan debu dan kotoran lain. Tetapi karena saluran telinga umumnya kecil dan bentuknya kurang wajar, maka bisa saja terjadi penumpukan di saluran telinga dan sulit untuk dikeluarkan. Ditambah dengan kebiasaan mengorek telinga menggunakan cotton bud atau kebiasaan memakai ear plug, maka potensi penyumbatan telinga akan menjadi semakin besar. Jika penumpukan earwax ini sudah banyak dan mengganggu, maka muncul gejala seperti menurunnya kemampuan mendengar, nyeri pada telinga, telinga terasa penuh, berdengung, dan rasa gatal. Jika sudah seperti ini, maka kamu wajib memeriksakan diri ke spesialis THT untuk memeriksakannya dan mengambil semua tumpukan earwax dengan alat khusus.

  • Otitis Interna

Penyakit ini adalah infeksi saluran telinga bagian tengah yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Gangguan ini bisa dialami oleh orang dewasa, tetapi umumnya terjadi pada anak. Pada bagian tengah telinga terdapat ruang berisi udara yang terletak di belakang gendang telinga. bagian ini memiliki tulang kecil yang bergetar apabila ada suara. Infeksi yang terjadi bisa menyebabkan penumpukan cairan dan peradangan di area yang terinfeksi. Otitis interna juga bisa dikaitkan oleh penyakit lain seperti alergi atau flu yang mengakibatkan penyumbatan dan pembengkakan area pernapasan, tenggorokan dan eustachia.

Baca Juga: 5 Tanda Harus Mulai Buat Janji dengan Dokter THT

Seorang anak dengan gangguan telinga ini mengalami gejala seperti sulit tidur, rewel, demam tinggi, sakit kepala dan kehilangan nafsu makan. Jika terjadi pada orang dewasa, gejala yang terjadi adalah nyeri pada telinga, keluarnya cairan dari telinga, dan menurunnya kemampuan mendengar. Jika sudah mengalami gejala seperti yang disebutkan, maka wajib untuk segera datang ke dokter spesialis THT.

  • Tinnitus

Satu lagi gangguan telinga yang umum menyerang adalah tinnitus. Mereka yang mengalami gangguan telinga ini merasakan sensasi pendengaran seperti berdengung, mendesis, atau suara lainnya. Bagi kebanyakan orang, tinnitus dianggap sebagai gangguan ringan. Pada kasus yang parah, tinnitus menyebabkan orang sulit untuk berkonsentrasi atau tidur. Hal ini mengganggu pekerjaan dan hubungan pribadi, sehingga mengakibatkan tekanan psikologis.

Baca Juga: Sering Mendengarkan Musik Keras, Berisiko Terkena Tinnitus?

Tinnitus tidak bisa dibilang sebagai penyakit, melainkan gejala dari kondisi kesehatan tertentu. Kondisi tinnitus diindikasikan seseorang mengalami cedera telinga, gangguan pada sistem sirkulasi tubuh, atau menurunnya fungsi pendengaran yang muncul seiring bertambahnya usia. Kabar buruknya, tinnitus tidak bisa disembuhkan. Namun untuk mencegah kondisi semakin parah, pasien bisa melakukan terapi khusus dan menggunakan alat bantu dengar. Selain itu, mencegah terjadinya tinnitus dapat dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti menghindari mendengarkan musik keras melalui earphone, menghindari area yang memiliki paparan suara keras. Nilai ambang batas kebisingan yang aman adalah 85 dB, waktu pemaparan yang aman adalah 8 jam/hari atau 40 jam/minggu. Jadi jika lebih dari itu, ada baiknya menggunakan pelindung telinga.

Jika merasakan gangguan pendengaran, sebaiknya kamu meminta dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) untuk mengatasinya. Atau jika ragu, kamu bisa membicarakan masalah seputar telinga dengan dokter lewat aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Membeli produk kesehatan semakin mudah dengan Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.