• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Tips Mengatasi Trauma setelah Melahirkan

3 Tips Mengatasi Trauma setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
3 Tips Mengatasi Trauma setelah Melahirkan

“Beberapa wanita dapat mengalami trauma melahirkan atau istilah medisnya postpartum PTSD (post-traumatic stress disorder). Masalah kesehatan mental ini tidak boleh diabaikan. Bila mengalaminya, segera cari bantuan ahli dan minta dukungan dari orang terdekat, seperti suami dan keluarga.”


Halodoc, Jakarta - Perubahan besar dalam hidup seorang wanita saat hamil dan melahirkan memang rentan menggoyahkan mental. Meski banyak sekali momen bahagia dan mengharukan, beberapa wanita juga mengalami trauma melahirkan.

Meski terjadi pasca persalinan, trauma melahirkan berbeda dengan depresi postpartum dan baby blues. Ingin tahu lebih lanjut? Yuk, simak pembahasannya berikut ini!

Baca juga: Persalinan Pertama, Pilih Melahirkan di Bidan atau Dokter?

Trauma setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

Meski gejalanya mirip dengan depresi postpartum, trauma melahirkan adalah kondisi yang berbeda. Istilah medis untuk kondisi ini adalah postpartum post-traumatic stress disorder atau disingkat postpartum PTSD. 

Ini adalah kondisi kesehatan mental yang terjadi karena dipicu oleh peristiwa menakutkan, baik hanya menyaksikan ataupun mengalami langsung. Jadi, bagi beberapa ibu, proses persalinan dapat memicu trauma berat, hingga membuatnya mengalami kecemasan, kilas balik peristiwa, dan mimpi buruk tentang kejadian itu. 

Risiko terjadinya trauma melahirkan pun meningkat bila kondisi ibu kurang diperhatikan selama proses persalinan. Mengutip laman American Psychiatric Association, ibu dengan trauma melahirkan selalu masih terbayang mengenai pengalaman traumatis yang pernah dialaminya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini? Berikut ini tipsnya:

1.Minta Bantuan Ahli

Bila merasakan gejala depresi dan trauma setelah melahirkan, segera cari bantuan ahli seperti psikolog atau psikiater. Kamu juga bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk membicarakan kondisi mentalmu dengan psikolog atau psikiater kapan saja.

Pengobatan untuk trauma melahirkan yang bisa dilakukan adalah cognitive behavioral therapy (CBT), atau eye movement desensitization and reprocessing (EMDR). Terapi EMDR dilakukan untuk mengganti emosi negatif dengan pikiran dan perasaan positif.

Baca juga: Ini 7 Makanan Sehat untuk Ibu Usai Melahirkan

2.Cari Dukungan Orang Terdekat

Dukungan dari orang terdekat sangat penting dalam mengatasi trauma melahirkan. Keberadaan suami, anggota keluarga, dan sahabat terdekat membantu pengidap kondisi ini untuk mengenali penyebab dan meredakan gejala yang dialami.

Selain itu, dukungan dari orang terdekat yang mendukung dan mencintai juga diharapkan dapat membawa energi positif. Jika memungkinkan, minta juga bantuan untuk merawat dan menjaga bayi saat sedang tidak bisa melakukannya.

3.Minum Obat

Selain terapi, dokter juga biasanya memberikan resep obat untuk meredakan gejala. Kamu bisa beli obat yang diresepkan dengan mudah melalui aplikasi Halodoc juga, lho.

Obat-obatan yang diresepkan dokter bertujuan untuk membantu diri agar lebih fokus dan nyaman dalam mengelola gejala, merawat bayi, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Tentunya, obat yang diberikan juga biasanya aman untuk diminum selama masa menyusui. 

Selain menjalani pengobatan, penting juga untuk memahami bahwa pikiran dan perasaan kamu pengalaman traumatis saat melahirkan dapat berubah lebih baik secara bertahap. Jadi, beri waktu pada diri sendiri untuk bisa pulih perlahan-lahan. 

Transformasi kehidupan dari seorang wanita biasa menjadi seorang ibu juga merupakan proses yang tidak mudah. Namun, di balik proses sulit itu, tentunya ada banyak masa-masa membahagiakan yang akan jadi kenangan indah di masa depan. Oleh karena itu, cobalah lebih fokus pada hal-hal positif.

Baca juga: Ketahui Perbedaan Doula dan Bidan Sebelum Persalinan

Dampak Jika Tidak Ditangani

Sama halnya seperti penyakit fisik, masalah kesehatan mental yang tidak diatasi juga dapat membawa dampak buruk. Berikut ini di antaranya:

  • Akan merasa enggan untuk hamil dan melahirkan lagi.
  • Menjadi sulit menerima perawatan atau tindakan medis lanjutan bila dibutuhkan.
  • Menjadi sulit menyusui bayi dengan lancar, misalnya karena sakit, produksi ASI yang rendah, kurang percaya diri, atau ingatan akan pengalaman traumatis.

Tak hanya itu, bila kamu mengalami trauma melahirkan, besar kemungkinan kamu juga bisa mengalami depresi. Hal ini berpengaruh kepada hubungan dengan pasangan, termasuk soal kehidupan seks setelah melahirkan.

Referensi:
American Psychiatric Association. Diakses pada 2021. What Is Posttraumatic Stress Disorder?
Postpartum Depression. Diakses pada 2021. Postpartum Post-Traumatic Stress Disorder.
Postpartum Depression Alliance of Illinois. Diakses pada 2021. Post-Traumatic Stress Disorder After Traumatic Childbirth.
Kids Health. Diakses pada 2021. Posttraumatic Stress Disorder (PTSD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).