• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Kondisi yang Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Kondisi yang Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania

4 Kondisi yang Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 19 Agustus 2022

“Megalomania umumnya merupakan gejala dari kondisi gangguan kejiwaan dan kondisi tertentu. Misalnya seperti gangguan bipolar, skizofrenia, hingga adanya trauma atau cedera kepala.”

4 Kondisi yang Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania4 Kondisi yang Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania

Halodoc, Jakarta – Megalomania atau delusions of grandeur (delusi keagungan) merupakan salah satu gangguan kejiwaan yang perlu diwaspadai. Sebab, gangguan ini dapat membuat seseorang sangat memusatkan perhatiannya pada diri sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang mengidap megalomania (megalomaniak) akan merasa lebih hebat atau lebih pintar dibandingkan orang lain. 

Beberapa orang sehat memang dapat memiliki pendapat yang terlalu tinggi tentang diri mereka sendiri. Namun, tidak seperti orang normal, seorang megalomaniak yakin tak tergoyahkan bahwa delusi mereka benar. Perlu diketahui bahwa gangguan kepribadian ini dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan mental dan kondisi tertentu. 

Namun, kira-kira apa saja kondisi yang dapat memicu gangguan kejiwaan megalomania? Simak informasinya di sini! 

Kondisi yang Dapat Memicu Gangguan Kejiwaan Megalomania 

Hingga saat ini, para ahli tidak tahu persis apa penyebab utama megalomania. Kendati demikian, megalomania umumnya merupakan gejala dari kondisi gangguan kejiwaan. Berikut adalah beberapa jenis gangguan jiwa yang dapat memicu megalomania:

1. Gangguan Bipolar 

Bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan periode depresi diikuti oleh periode manic atau mania. Selama masa mania, pengidap bipolar mungkin memiliki rasa diri yang sangat tinggi. Situasi ini dapat bermanifestasi sebagai delusi keagungan atau megalomania. Bahkan, selama episode manik, pengidap bipolar mungkin akan menghabiskan terlalu banyak uang, sulit tidur, tampak sangat hiper, atau berperilaku agresif.

2. Skizofrenia 

Skizofrenia merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan delusi, halusinasi, dan pengidapnya akan kesulitan membedakan kenyataan dari fantasi. Kondisi ini dapat menyebabkan pola pikir yang tidak lazim, perubahan suasana hati atau perilaku, kesulitan fokus, masalah memori, dan kesulitan menjalani rutinitas sehari-hari. Selain itu, pengidap skizofrenia juga mungkin memiliki beberapa delusi yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

skizofrenia juga dapat memicu pengidapnya memiliki keyakinan atau waham tertentu akan dirinya.  Terdapat berbagai macam waham yang dapat muncul pada penderita skizofrenia, salah satunya megalomania.

3.Gangguan Kepribadian Narsistik 

Gangguan kepribadian secara langsung dapat memengaruhi kepribadian pengidapnya. Contohnya mengubah cara seseorang berhubungan dengan orang lain dan diri mereka sendiri. Nah, perlu diketahui bahwa pengidap gangguan kepribadian narsistik, dapat memiliki perasaan yang sangat tinggi tentang pentingnya diri mereka sendiri. Alhasil, pengidap gangguan kepribadian narsistik akan mencari validasi dan sanjungan, percaya diri mereka istimewa dan unik, dan kurang empati. 

4. Adanya Trauma atau Cedera Otak 

Kerusakan pada otak akibat cedera atau trauma terkadang dapat mengubah cara orang berpikir. Kondisi ini dapat berpotensi menyebabkan delusi pada sebagian orang. Bahkan, cedera otak juga dapat menyebabkan halusinasi, masalah memori, perubahan kepribadian, dan kesulitan dengan keterampilan dasar, seperti membaca. Selain akibat cedera dan trauma, kerusakan otak juga dapat disebabkan oleh lesi otak, stroke, dan tumor otak.

Itulah beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya gangguan kejiwaan megalomania atau delusi keagungan. Mulai dari gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan kepribadian narsistik, hingga adanya trauma atau cedera otak. 

Megalomania merupakan gangguan kejiwaan yang tidak dapat disepelekan. Sebab, kondisi ini kerap tidak disadari oleh pengidapnya, sehingga ia dijauhi oleh orang-orang sekitarnya. Terlebih lagi, terkadang pengidap megalomania tidak sadar bahwa dirinya memerlukan pertolongan medis. 

Maka dari itu, jika kamu atau orang terdekatmu merasakan beberapa gejala megalomania, seperti perubahan suasana hati yang signifikan atau selalu merasa lebih hebat, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Sebab, penanganan yang dilakukan sedari dini tentunya dapat meminimalkan risiko komplikasi serius yang mengintai.

Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit dengan dokter untuk memeriksakan kondisimu. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

Healthline. Diakses pada 2022. What Are Delusions of Grandeur?
WebMD. Diakses pada 2022. What Are Delusions of Grandeur?
Medical News Today. Diakses pada 2022. What are delusions of grandeur?