15 November 2018

5 Fakta Mengenai Anemia Sel Sabit

5 fakta mengenai anemia sel sabit

Halodoc, Jakarta – Kamu mungkin sudah sering mendengar tentang penyakit anemia. Namun, tahukah kamu tentang salah satu jenis anemia bernama anemia sel sabit? Normalnya, bentuk sel darah merah itu bundar dan lentur sehingga mudah bergerak dalam pembuluh darah, tapi pada pengidap anemia sel sabit, sel darah merahnya berbentuk seperti sabit, kaku, dan lengket. Bentuk yang tidak normal ini akhirnya menyebabkan sel darah merah susah bergerak dan mudah menempel pada pembuluh darah kecil. Enggak hanya itu saja, masih banyak fakta anemia sel sabit yang perlu kamu tahu.

1. Gejala Anemia Sel Sabit Sudah Bisa Terlihat Sejak Umur 4 Bulan

Anemia sel sabit sebenarnya sudah muncul sejak usia 4 bulan, tetapi umumnya baru terlihat pada usia 6 bulan. Itulah mengapa para ibu perlu tahu gejala-gejala anemia sel sabit agar ibu dapat langsung memeriksakan Si Kecil ke dokter bila dia menunjukkan gejala tersebut. Meskipun gejala yang dialami setiap pengidap bisa berbeda-beda, tapi ibu bisa mengenali penyakit ini dari gejala umum anemia sel sabit berikut yang mungkin saja ditunjukkan oleh bayi:

  • Pusing,

  • Pucat,

  • Jantung berdebar,

  • Lemas dan cepat lelah,

  • Kaki dan tangan membengkak karena pembuluh darah terhambat,

  • Penyakit kuning,

  • Pertumbuhan terlambat,

  • Organ limpa membesar, dan

  • Bayi menjadi lebih rewel atau menangis terus akibat rasa nyeri yang bisa terjadi pada dada, perut, ataupun persendian dan tulang.

2. Cuaca Buruk Bisa Memicu Terjadinya Krisis Sel Sabit

Bentuk sel darah merah yang tidak normal ini tidak hanya bisa menempel pada pembuluh darah dan menghambat aliran darah, tapi juga membuat asupan oksigen untuk jaringan menjadi berkurang. Ketika kondisi tersebut terjadi, pengidap akan mengalami rasa nyeri yang hebat yang disebut krisis sel sabit. Rasa nyeri ini yang bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa minggu ini dikenal juga sebagai krisis sel sabit. Sebagian besar pengidap anemia sel sabit bisa mengalami krisis sel sabit hingga belasan kali dalam satu tahun. Pada pengidap remaja dan dewasa, krisis sel sabit bisa menimbulkan nyeri kronis karena terjadinya kerusakan atau luka di tulang dan sendi.

Nah, biasanya hal yang menjadi pemicu terjadinya krisis sel sabit ini adalah cuaca buruk seperti angin, hujan, ataupun dingin. Namun selain itu, pengidap juga bisa mengalami krisis ini bila mengalami dehidrasi, berolahraga terlalu berat, atau bahkan merasa tertekan.

3. Anemia Sel Sabit Tidak Menular, Melainkan Diturunkan

Anemia sel sabit merupakan penyakit turunan. Jadi, seseorang bisa mengidap penyakit ini bila memiliki kedua orangtua (harus keduanya) yang menurunkan mutasi gen. Presentase seorang anak terkena anemia sel sabit dengan kedua orang tua yang merupakan pembawa penyakit ini adalah 25 persen. Artinya, 1 dari 4 anak berisiko mengidap anemia sel sabit.

Namun, bila anak hanya mewarisi mutasi gen dari salah satu orangtua saja, maka dia hanya akan jadi pembawa penyakit anemia sel sabit saja dan tidak mengalami gejala apa pun. Jangan khawatir, selain dari orangtua ke anak, anemia sel sabit tidak bisa menular ke orang lain.

4. Anemia Sel Sabit Bisa Dideteksi Sejak di Kandungan

Anemia sel sabit sudah bisa dideteksi sejak bayi berada dalam kandungan. Caranya adalah dengan mengambil sampel air ketuban untuk mencari keberadaan gen sel sabit.

5. Anemia Sel Sabit Tidak Bisa Disembuhkan

Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan anemia sel sabit. Obat-obatan yang diberikan hanya bisa meredakan gejala dan mencegah masalah kesehatan lainnya akibat anemia sel sabit.

Itulah 5 fakta mengenai anemia sel sabit. Bila kamu merasakan gejala-gejala yang dicurigai sebagai gejala anemia sel sabit, segera periksakan diri ke dokter. Kamu juga bisa membicarakan masalah kesehatan apa saja yang kamu alami dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa minta saran kesehatan dari dokter kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Baca juga: