• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Fakta Mengenai Sunat yang Perlu Diketahui

5 Fakta Mengenai Sunat yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Fakta mengenai sunat belum banyak diketahui. Sunat, atau khitan adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis (preputium). Sebagian besar orang di Indonesia menjadikan sunat sebagai tradisi budaya, keyakinan agama, kebersihan pribadi, atau untuk mencegah berbagai penyakit.

Baca juga: Usia yang Tepat untuk Anak Laki-Laki Sunat

Tidak hanya pada bayi atau anak laki-laki, nyatanya sunat atau yang dikenal sebagai sirkumsisi dalam dunia medis ini juga dapat dilakukan oleh laki-laki dewasa. Namun, semakin usia besar maka proses sunat yang dijalankan semakin rumit dan berisiko.

Inilah Fakta Sunat yang Perlu Diketahui

Sayangnya, beberapa orang masih memiliki kepercayaan yang salah tentang sunat. Berikut ini fakta tentang sunat yang perlu diketahui:

  1. Parafimosis, Bukan Disunat Jin

Beberapa orang ada yang percaya bahwa disunat jin itu nyata. Padahal, kondisi penis seperti "disunat jin" dalam sisi medis disebut parafimosis. Ini adalah istilah medis untuk kelainan bentuk penis yang terjadi karena preputium tertarik ke belakang, melipat, serta menjerat batang penis. Sehingga, preputium tidak bisa lagi ditarik ke depan, dan membuat kepala penis terlihat seolah-olah seperti habis disunat.

Dilansir dari National Health Service UK, sunat dapat menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi parafimosis. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang cukup serius, seperti berkurangnya aliran darah menuju penis.

  1. Sunat untuk Mencegah Penyakit

Ketika seorang pria tidak disunat, uap air dapat terjebak antara penis dan kulup, yang dapat menciptakan lingkungan untuk tumbuhnya bakteri. Dilansir dari Mayo Clinic,  bahwa penis yang tidak disunat lebih rentan terhadap bakteri atau agen penyakit tertentu, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gonore (kencing nanah), kanker penis, dan radang uretra.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengatakan bahwa tindakan sunat mengurangi risiko seseorang mengalami penyakit menular seksual atau HIV.

Baca juga: Kenali Manfaat Sunat dari Sisi Kesehatan

  1. Kulup Lebih Kompleks dari yang Dibayangkan

Kulup yang dalam istilah medis disebut preputium, merupakan bagian kulit penis yang menyimpan jaringan otot dan terbagi atas pembuluh urat syaraf, selaput lendir, dan kulit. Di dalam kulup, terdapat membran mukosa (selaput lendir) yang dapat menjaga kelenjar agar tetap lembap.

Kelembapan ini yang bisa berbahaya bagi penyakit menular seksual, maupun secara kebersihan. Kulup juga mengandung sejumlah sel Langerhans atau sel imunitas yang menjadi sasaran infeksi virus HIV. Sebab itu, untuk mencegah berbagai penyakit, bagian kulup dihilangkan sebagian atau seluruhnya saat sunat.

  1. Sunat Tidak Memengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan

Beberapa orang meyakini bahwa sunat dapat membuat tubuh anak menjadi tambah tinggi. Faktanya, pertumbuhan dan perkembangan anak tidak berhubungan langsung dengan sunat. Faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak bukanlah sunat, melainkan hormon pertumbuhan, gizi, dan keturunan.

Baca juga: Ini Perbedaan Pria Disunat dan Tidak dari Segi Kesehatan

  1. Infeksi Hingga Perdarahan

Dilansir dari Healthline, meskipun proses sunat terbilang sederhana, bukan berarti proses ini tidak menimbulkan komplikasi kesehatan. Umumnya, ada beberapa komplikasi yang dialami oleh seseorang yang menjalani sunat, seperti perdarahan yang akan dialami beberapa hari setelah proses sunat, infeksi jika luka bekas sunat tidak dijaga kebersihannya dengan baik, reaksi obat bius pada area organ intim yang dapat menyebabkan alergi, serta luka bekas sunat yang muncul dan menyebabkan masalah kesehatan lainnya.

Jangan ragu untuk periksakan kesehatan jika kamu punya keluhan dengan alat reproduksi setelah menjalani proses sunat, kamu bisa bicara ke dokter melalui aplikasi Halodoc lho. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call, dan Chat untuk minta saran kesehatan kapan saja dan dimana saja.

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Getting Circumcised As an Adult
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Circumcision (Male)
World Health Organization. Diakses pada 2020. Circumcision Programmes for HIV Prevention
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Circumcision in Men