5 Faktor yang Tingkatkan Risiko Inkontinensia Alvi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
5 Faktor yang Tingkatkan Risiko Inkontinensia Alvi

Halodoc, Jakarta - Seseorang yang memiliki fungsi tubuh yang normal, pastinya mampu untuk mengendalikan buang air besar (BAB). Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuat tubuh tak mampu menahan atau mengendalikan BAB. Alhasil tinja bisa keluar tiba-tiba tanpa disadari.

Nah, inkontinensia alvi merupakan kondisi yang bisa menyebabkan hal di atas. Kok bisa? Kondisi ini disebabkan karena rektum (usus bagian akhir), anus (dubur), dan sistem saraf tak berfungsi normal. Pertanyaannya, apa sih penyebab dan faktor risiko yang bisa memicunya? 

Gejala Berdasarkan Jenisnya

Pada dasarnya, gejala inkontinensia alvi ini bergantung pada jenis yang diidap. Nah, berikut ini penjelasan singkatnya. 

  • Inkontinensia mendesak (urge incontinence), yang ditandai dengan dorongan tiba-tiba untuk buang air besar dan sulit untuk dikendalikan.

  • Inkontinensia tinja pasif, yang ditandai dengan kotoran keluar tanpa disadari atau tanpa dorongan untuk buang air, serta dapat keluar ketika pengidap buang angin.

Beberapa gejala lain yang juga dapat dirasakan pengidap, yaitu:

  • Anus  gatal atau mengalami iritasi.

  • Diare.

  • Inkontinensia urine.

  • Sembelit.

  • Nyeri atau kram perut.

  • Perut terasa kembung.

Baca juga: 4 Gejala Inkontinensia Alvi yang Perlu Diketahui

Dalam beberapa kasus, inkontinensia alvi ini bisa menimbulkan perdarahan atau muncul bercak darah. Hati-hati dengan kondisi ini, sebab bisa saja menunjukkan gejala peradangan dalam usus besar dan rektum. Tak cuma itu, perdarahan ini juga bisa menandai adanya penyakit Crohn atau tumor rektum. Oleh sebab itu, segeralah temui dokter bila mengalami perdarahan. 

Disebabkan Banyak Gejalanya

Berbicara penyebab inkontinensia alvi, sama halnya dengan berbicara sederet masalah kesehatan. Pasalnya, inkontinensia alvi tak hanya disebabkan oleh faktor tunggal. Nah, berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan inkontinensia alvi. 

  • Kerusakan saraf pengendali sfingter anus, yang dapat diakibatkan oleh persalinan, peregangan berlebihan saat buang air, atau cedera saraf tulang belakang.

  • Diare, yang mengakibatkan tinja lebih berair, sehingga memperburuk inkontinensia tinja.

  • Kerusakan sfingter anus, yaitu cincin otot yang terletak di ujung lubang anus, yang dapat diakibatkan oleh episiotomi atau prosedur pembedahan vagina yang dilakukan setelah persalinan normal.

  • Keterbatasan ruang pada rektum untuk menampung kotoran, akibat adanya jaringan parut pada dinding rektum, sehingga fleksibilitas rektum berkurang.

  • Kondisi medis yang menyebabkan kerusakan fungsi saraf, seperti diabetes, multiple sclerosis, stroke, demensia, atau penyakit Alzheimer, sehingga menyebabkan inkontinensia tinja.

  • Konstipasi kronis, yang mengakibatkan kotoran mengeras, sehingga sulit bergerak melewati rektum serta menyebabkan kerusakan saraf dan otot.

  • Rectal prolapse, yaitu kondisi ketika rektum turun hingga ke anus.

  • Rectocele, yaitu kondisi ketika rektum menonjol ke luar hingga area vagina wanita.

  • Tindakan pembedahan, seperti prosedur bedah pada hemoroid atau kondisi lain yang berkaitan dengan anus atau rektum, berisiko mengakibatkan kerusakan saraf.

Baca juga: Anak Alami Inkontinensia Alvi, Apa Sebabnya?

Dari Lansia Hingga Obat Pencahar

Pada umumnya, banyak orang mengalami inkontinensia alvi paling tidak sekali dalam hidupnya. Nah, selain penyebab-penyebab di atas, ada pula faktor risiko yang bisa memicu inkontinensia alvi. 

  1. Orang lanjut usia di atas 65 tahun.

  2. Wanita yang menjalani metode kelahiran normal.

  3. Beberapa kondisi medis seperti Crohn disease, prolaps rektum, dan pasca terapi radiasi. 

  4. Pengidap kerusakan fungsi saraf, seperti diabetes, multiple sclerosis, stroke, demensia, atau penyakit Alzheimer, sehingga menyebabkan inkontinensia tinja.

  5. Penggunaan obat pencahar dalam jangka panjang.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!