• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Mitos Penyakit Demensia yang Harus Dihindari

5 Mitos Penyakit Demensia yang Harus Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Tak sedikit orang yang memahami demensia sebagai suatu penyakit. Padahal, demensia adalah sekelompok gejala yang memengaruhi daya ingat, berpikir, dan berkomunikasi yang cukup parah sehingga mengganggu kehidupan pengidapnya.

Singkatnya, demensia bukan suatu penyakit, melainkan gejala-gejala yang mengindikasikan penyakit tertentu, contohnya penyakit Alzheimer. Selain itu, banyak pula mitos-mitos seputar demensia yang belum tentu benar. Berikut ini sejumlah mitos tentang demensia yang jangan dipercaya.

Baca juga: Inilah Tahapan Terjadinya Demensia

Mitos Seputar Penyakit Demensia

Ada beberapa mitos tentang demensia yang kebenarannya perlu diluruskan, yaitu:

1. Bagian dari Proses Penuaan

Kalo mendengar kata pikun, kamu pasti langsung berfikir tentang penyakitnya para lansia. Bahkan, pikun dianggap sebagai hal yang normal dalam proses penuaan. Pikun maupun demensia sebenarnya bukan sesuatu yang normal dalam proses penuaan. Demensia adalah sekelompok penyakit neurodegeneratif yang memengaruhi orang muda maupun tua. 

2. Tidak Dapat Diobati

Memang tidak ada obat khusus untuk mengobati demensia. Namun, tersedia perawatan dan obat-obatan untuk mengatasi gejalanya. Semakin cepat demensia terdeteksi, maka keberhasilan perawatan dan kualitas hidup pengidapnya bisa semakin baik. Perawatan demensia juga berguna untuk mencegah risiko perkembangan penyakit lain yang menyertainya.

3. Demensia dan Alzheimer adalah Sama

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang demensia adalah bahwa setiap jenis kehilangan ingatan yang mungkin dialami seseorang adalah penyakit Alzheimer. Hal ini tidak benar. Demensia bisa menjadi salah satu gejala penyakit Alzheimer, tetapi tidak semua orang yang mengidap demensia pasti berkembang menjadi Alzheimer. 

4. Penyakit Keturunan

Walaupun ada beberapa jenis demensia langka yang berhubungan dengan genetik, sebagian besar kasus demensia dan penyakit Alzheimer tidak diwariskan.

5. Tidak Bisa Dicegah

Demensia nyatanya bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat seperti, konsumsi makanan sehat, berolahraga teratur, tidak merokok dan terlibat dalam stimulasi kognitif untuk mencegah penurunan kognitif dan demensia. Sebaiknya mulai perubahan gaya hidup ini sejak masih di usia mudah dan jangan menunggu sampai kamu berumur lebih tua. 

Baca juga: Cegah Demensia Sejak Dini dengan Kebiasaan Ini

Tips Mencegah Demensia

Melansir dari Mayo Clinic, berikut pola hidup sehat untuk mencegah penyakit demensia, yaitu:

  • Jaga pikiran tetap aktif. Kegiatan seperti membaca, memecahkan teka-teki, bermain permainan kata, dan pelatihan memori menunda timbulnya demensia dan mengurangi efeknya.
  • Aktif secara fisik dan sosial. Aktivitas fisik dan interaksi sosial dapat menunda timbulnya demensia dan mengurangi gejalanya. 
  • Berhenti merokok. Seseorang yang punya kebiasaan merokok di usia paruh baya lebih berisiko tinggi mengalami demensia dan penyakit lainnya. Berhenti merokok mampu mengurangi risiko dan akan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
  • Minum vitamin. Orang-orang yang memiliki kadar vitamin D rendah lebih mungkin mengembangkan penyakit Alzheimer dan bentuk lain dari demensia. Pastikan untuk mendapatkan vitamin D melalui makanan, suplemen, dan paparan sinar matahari.
  • Pertahankan pola makan sehat. Konsumsi makanan sehat penting untuk meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko perkembangan demensia. Cobalah makan ikan berlemak seperti salmon tiga kali seminggu dan kacang-kacangan setiap hari.
  • Tidur berkualitas. Pastikan kamu tidak begadang dan mendapatkan waktu tidur yang cukup setiap harinya. 

Baca juga: Konsumsi 3 Makanan Ini Agar Fungsi Otak Tetap Terjaga

Itulah tips untuk mencegah perkembangan demensia. Bicarakan dengan dokter Halodoc kalau kamu punya pertanyaan lain mengenai demensia. Lewat aplikasi, kamu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Cedars Sinai. Diakses pada 2020. Myths about Dementia, Alzheimer's and Memory Loss.
Dementia Australia. Diakses pada 2020. Confronting the myths.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dementia.