Ibu Hamil Harus Tahu 7 Gejala Solusio Plasenta

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ibu Hamil Harus Tahu 7 Gejala Solusio Plasenta

Halodoc, Jakarta - Ketika tengah mengandung, ada kalanya sebagian ibu mengalami masalah pada plasentanya. Misalnya, solusio plasenta, atau lepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam sebelum proses persalinan.

Lepasnya plasenta ini bisa sebagian ataupun seluruhnya. Ibu harus tahu, meski kondisi ini jarang terjadi, tapi solusio plasenta merupakan komplikasi kehamilan yang serius.

Baca juga: Ibu Hamil Perlu Tahu 9 Penyebab Solusio Plasenta

Plasenta sendiri di masa kehamilan memiliki fungsi untuk memberikan nutrisi dan oksigen pada janin dalam kandungan. Nah, solusio plasenta ini nantinya akan membahayakan nyawa ibu dan bayi bila tak segera ditangani. Pasalnya, kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan hebat pada ibu, dan pastinya mengurangi suplai nutrisi dan oksigen untuk Si Kecil.

Kenali Gejala-Gejalanya

Sebenarnya ada waktu-waktu tertentu yang membuat ibu rawan mengalami solusio plasenta. Misalnya, di usia kehamilan di atas enam bulan (trimester ketiga), terutama beberapa pekan sebelum proses persalinan. Nah, berikut beberapa gejalanya:

  1. Nyeri perut.

  2. Rasa nyeri pada punggung.

  3. Kontraksi yang berlangsung cepat.

  4. Rahim terasa sakit.

  5. Kelainan denyut jantung janin.

  6. Gerakan bayi dalam kandungan jadi kurang aktif yang tak seperti biasanya.

  7. Perdarahan pada Miss V.

Baca juga: Pada Usia Kehamilan ke Berapa Solusio Plasenta Terjadi?

Nah, bila ibu merasakan gejala-gejala diatas, segeralah diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat.

Penyebab dan Faktor Risikonya

Penyebab solusio plasenta biasanya tidak diketahui, tapi ada faktor risiko terkait terjadinya solusio plasenta, di antaranya:

  • Hipertensi maternal.

  • Trauma maternal, seperti jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor.

  • Merokok.

  • Konsumsi alkohol.

  • Penggunaan kokain.

  • Tali pusat pendek.

  • Dekompresi rahim tiba-tiba.

  • Fibromyoma retroplasenta.

  • Perdarahan retroplasenta akibat tusukan jarum, seperti pada amniocentesis.

  • Abnormalitas pembuluh darah rahim.

  • Memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.

  • Korioamnionitis.

  • Ketuban pecah dini.

  • Usia ibu lebih dari 35 tahun.

  • Usia ibu kurang dari 20 tahun.

  • Janin laki-laki.

  • Status ekonomi sosial rendah.

  • Peningkatan serum alpha-fetoprotein ibu.

  • Hematoma subkorionik.

Memicu Sederet Komplikasi

Ingat, jangan main-main dengan kondisi yang satu ini. Pasalnya, masalah plasenta ini bisa membahayakan ibu dan bayinya. Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan:

  • Syok akibat kehilangan banyak darah.

  • Masalah pembekuan darah

  • Risiko kambuh lagi sebesar 4 sampai 12 persen

  • Perdarahan pada rahim

  • Gagal ginjal atau organ lainnya karena kehilangan darah.

Sedangkan bayi bisa saja mengalami:

  • Lahir prematur.

  • Pertumbuhan yang terganggu karena tak mendapatkan nutrisi yang cukup.

  • Tak mendapatkan cukup oksigen.

  • Bayi lahir mati (stillborn).

Baca juga: Solusio Plasenta Bisa Sebabkan Syok Saat Persalinan

Lalu, bagaimana sih cara mengatasi masalah plasenta ini? Sebenarnya, jenis perawatan yang dilakukan tergantung dari tingkat keparahannya, usia kandungan, dan seberapa besar pengaruhnya bagi bayi. Andaikan ibu mengalami kondisi ringan dan bayi tak mengalami tekanan, ibu bisa menjalani perawatan di rumah dengan rutin sepanjang kehamilan.

Namun bila kondisinya cukup parah, mau tak mau ibu harus menjalani rawat inap, sehingga kesehatan ibu dan bayi dapat diawasi dengan ketat.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Ibu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!