• Home
  • /
  • Benjolan Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker Anus

Benjolan Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker Anus

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ada Benjolan yang Terasa Nyeri di Anus, Hati-Hati Gejala Kanker Anus

Halodoc, Jakarta - Munculnya benjolan aneh di salah satu bagian tubuh memang perlu diwaspadai. Apalagi jika lokasinya terjadi di area-area yang jarang, seperti misalnya di anus, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan. Waspada, benjolan terjadi di usus dan disertai perdarahan, bisa menjadi tanda dari kanker anus

American Society of Clinical Oncology memperkirakan bahwa 8.300 kasus kanker anus terdiagnosis pada tahun 2019 dan sekitar 1.280 kematian tercatat. Dilaporkan juga bahwa sekitar setengah dari semua kasus kanker dubur didiagnosis sebelum keganasan tersebut menyebar.

Sementara itu, 13 persen hingga 25 persen didiagnosis setelah kanker menyebar ke kelenjar getah bening, dan 10 persen didiagnosis setelah kanker telah menyebar ke organ lain. Tingkat kelangsungan hidup hanya berada pada kisaran 67 persen, namun dengan pengobatan sejak dini, maka kanker dubur dapat diobati secara tuntas. 

Baca juga: Ambeien Parah Bisa Sebabkan Kanker Anus?

Lantas, Apa Saja Gejala Kanker Anus yang Harus Diwaspadai?

Penting untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit jika terdapat gejala aneh yang dicurigai sebagai tanda dari kanker anus. Nah, beberapa gejala kanker anus tersebut antara lain:

  • Muncul benjolan di dekat anus, dan kadang disertai dengan keluarnya darah;

  • Nyeri atau tekanan di daerah sekitar anus;

  • Gatal di sekitar anus;

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di daerah anal atau selangkangan;

  • Perubahan kebiasaan buang air besar.

Segera buat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc jika kondisi di atas kamu alami. Tujuannya untuk mencegah kanker berkembang lebih parah dan supaya pengobatan lebih mudah untuk dilakukan.

Baca juga: 5 Langkah yang Dilakukan untuk Mendeteksi Kanker Anus

Siapa Saja yang Bisa Alami Kanker Anus?

Sebagian besar kanker anus didiagnosis pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Sisanya adalah pada mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Perlu dipahami bahwa hubungan seks anal bisa mempertinggi risiko seseorang alami kanker anus. 

Tidak hanya itu, mereka yang mengalami infeksi dubur akibat human papillomavirus (HPV) yang mengakibatkan kutil kelamin juga merupakan salah satu faktor risiko utama kanker. Orang dengan sistem kekebalan tubuh rendah, seperti pasien dengan penyakit HIV cenderung lebih mudah terkena kanker anus. 

Baca juga: Pola Hidup untuk Mencegah Kanker Anus

Bagaimana Cara Mengobati Kanker Anus?

Ada berbagai jenis perawatan untuk mengatasi kanker anus, yaitu: 

Operasi. Terdapat beberapa jenis pembedahan yang bisa dilakukan, yaitu: 

  • Reseksi Lokal. Prosedur pembedahan ini memotong tumor dari anus bersama dengan beberapa jaringan sehat di sekitarnya. Reseksi lokal ini bisa dilakukan jika kankernya kecil dan belum menyebar. Prosedur ini menyelamatkan otot-otot sfingter sehingga pasien masih dapat mengontrol pergerakan usus. Tumor yang terbentuk di bagian bawah anus seringkali dapat diangkat dengan reseksi lokal.
  • Reseksi Abdominoperineal. Prosedur bedah ini mengeluarkan anus, rektum, dan bagian dari kolon sigmoid melalui sayatan yang dibuat di perut. Dokter kemudian menjahit ujung usus ke lubang, yang disebut stoma, dan dibuat di permukaan perut sehingga kotoran tubuh dapat dikumpulkan dalam kantong sekali pakai di luar tubuh (colostomy). Kelenjar getah bening yang mengandung kanker bisa diangkat selama operasi ini. Prosedur ini hanya digunakan untuk kanker yang tetap atau kambuh setelah perawatan dengan terapi radiasi dan kemoterapi.

Terapi Radiasi. Tindakan ini memanfaatkan sinar-X berenergi tinggi atau jenis radiasi lain untuk membunuh sel-sel kanker atau menjaga mereka agar tidak tumbuh. Ada dua jenis terapi radiasi:

  • Terapi radiasi eksternal menggunakan mesin di luar tubuh untuk mengirim radiasi ke area tubuh dengan kanker.
  • Terapi radiasi internal menggunakan zat radioaktif yang disegel dalam jarum, biji, kabel, atau kateter yang ditempatkan langsung ke dalam atau di dekat kanker.

Kemoterapi. Perawatan ini memanfaatkan obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker, baik dengan membunuh sel atau menghentikan sel saat melakukan pembelahan.

Faktanya, kanker anus lebih sering terjadi pada pria ketimbang wanita. Tingkat kejadian kanker dubur adalah enam kali lebih tinggi pada pria lajang dibandingkan dengan pria yang sudah menikah.

Jadi, sebaiknya selalu perhatikan ketika terdapat gejala aneh di dalam tubuh agar bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Referensi:
National Cancer Institute. Diakses pada 2019. Anal Cancer.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Anal Cancer.
Web MD. Diakses pada 2019. Anal Cancer.