• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alami Gegar Otak Berulang, Apa Bahayanya?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alami Gegar Otak Berulang, Apa Bahayanya?

Alami Gegar Otak Berulang, Apa Bahayanya?

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 Maret 2022

“Gegar otak bisa memengaruhi fungsi otak, sehingga pengidapnya bisa mengalami sejumlah efek, seperti masalah konsentrasi, ingatan, keseimbangan, dan lain-lain. Bila terjadi lagi, gegar otak berulang bisa menyebabkan masalah jangka panjang dan pemulihannya akan lebih lama.”

Alami Gegar Otak Berulang, Apa Bahayanya?

Halodoc, Jakarta – Marc Marquez jatuh dari motornya sampai terpelanting ke udara pada sesi pemanasan jelang MotoGP Mandalika pada hari Minggu (20/3) pagi. Akibatnya, rider Honda itu mengalami gegar otak ringan dan harus absen dari pertandingan.

Sebelumnya, Marc Marquez diketahui juga pernah mengalami gegar otak akibat kecelakaan motor trail pada MotoGP Valencia tahun 2021. Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), trauma berulang yang terjadi pada kepala bisa menyebabkan dampak jangka panjang, lho. Ketahui bahayanya gegar otak berulang di sini.

Risiko Gegar Otak Berulang pada Atlet

Gegar otak merupakan salah satu cedera yang rentan terjadi pada atlet olahraga. Cedera ini bisa memengaruhi fungsi otak, sehingga pengidapnya bisa mengalami efek, seperti sakit kepala dan masalah konsentrasi, memori, keseimbangan, dan koordinasi. Namun, efek-efek tersebut biasanya hanya sementara. Kebanyakan orang yang mengalami gegar otak biasanya akan pulih beberapa minggu setelahnya.

Gejala gegar otak biasanya sembuh dalam 7–10 hari pada kasus yang terkait olahraga atau dalam 3 bulan untuk non-atlet. Namun, tidak semua orang seberuntung itu. Sebanyak hampir 30 persen pasien pasca gegar otak memiliki gejala yang tidak kunjung hilang, meski sudah beristirahat dan dalam waktu yang lama. Bahkan bila kamu sudah pulih dan tidak mengalami gejala jangka panjang, bukan berarti tidak ada konsekuensi dari gegar otak. Kamu akan lebih rentan mengalami gegar otak berulang daripada orang yang tidak pernah mengalaminya, terutama dalam tahun pertama setelah kamu mengalami kondisi tersebut.

Banyak orang, terutama atlet, yang pernah mengalami gegar otak, sering mengalaminya lagi. Menurut sebuah penelitian di Journal of American Medical Association, atlet yang mengalami cedera otak lebih rentan mengalaminya lagi (Gustkiewicz et al. 2003). 

Menurut CDC, orang yang pernah mengalami gegar otak berulang memiliki risiko berikut:

  • Mengalami pemulihan yang lebih lama atau gejala yang lebih parah.
  • Memiliki masalah jangka panjang, termasuk masalah berkelanjutan dengan konsentrasi, memori, sakit kepala, dan kadang-kadang keterampilan fisik, seperti sulit menjaga keseimbangan.

Bahaya Gegar Otak Berulang

Gegar otak atau dikenal juga dengan cedera otak traumatis ringan bisa disebabkan oleh guncangan atau pukulan pada kepala atau tubuh bagian atas. Ketika kamu mengalami trauma kepala, sistem kekebalan kamu akan menyebabkan peradangan di dekat lokasi cedera. Daerah otak yang terkena gegar otak mengalami kerusakan sementara dari struktur kecil di dalam dan di sekitar sel-sel itu.

Selama waktu itu, sel-sel itu tidak mendapatkan cukup oksigen untuk memberi sinyal normal yang dilakukan otak kamu secara teratur. Saat kamu mencoba melakukan sesuatu yang diatur oleh sel tersebut, seperti membaca buku atau berjalan seimbang, mereka tidak akan bisa menjalankan tugas tersebut. Jadi, jalur saraf lain akan mengambil alih, meskipun itu jalur yang kurang efisien untuk mengambil informasi itu.

Ketika kamu sudah pulih sepenuhnya dari cedera kepala, otak akan kembali menggunakan jalur normal untuk setiap proses yang diberikan. Sayangnya, itu tidak selalu terjadi. Terkadang, sel yang terkena dampak masih tidak bisa meminta oksigen yang cukup untuk melakukan proses yang biasa mereka lakukan. 

Semakin sering kamu mengalami trauma otak, semakin besar kamu memiliki gejala yang bertahan lama karena kegagalan otak untuk kembali normal. Efek jangka panjang dari gegar otak berulang dapat menyebabkan mulai dari sakit kepala hingga perubahan kepribadian hingga pelupa. Kondisi ini sering disebut sebagai sindrom pasca gegar otak.

Bahaya gegar otak berulang tidak hanya memengaruhi kemampuan berpikir saja, tetapi juga bisa sampai memengaruhi mental. Mengalami cedera otak tersebut beberapa kali bisa menyebabkan depresi, kemarahan, hilang ingatan, dan gejala lain yang membuat kamu merasa tidak seperti diri sendiri, bahkan bisa meningkatkan risiko bunuh diri. Perlu diketahui, kerusakan otak akibat gegar otak bisa menyebabkan gejala emosional yang bertahan lama yang tidak bisa sembuh tanpa pengobatan.

Gegar otak juga bisa meningkatkan risiko demensia. Studi terbaru menunjukkan bahwa ada hubungan antara gegar otak berulang dengan ensefalopati traumatis kronis, yaitu sejenis demensia. Beberapa peneliti sudah menemukan bahwa cedera otak traumatis dapat menjadi pemicu perubahan otak yang ada pada mereka yang mengidap penyakit Alzheimer.

Mengingat ada banyak bahaya dari gegar otak berulang yang bisa memengaruhi kualitas hidup, lindungilah bagian kepala sebaik-baiknya, apalagi bagi kamu yang memiliki pekerjaan yang berisiko tinggi terhadap cedera tersebut. Bila kamu pernah mengalami gegar otak, periksakan diri kamu bila mengalami gejala-gejala, seperti sering sakit kepala atau mengalami masalah keseimbangan. Kamu bisa memeriksakan kesehatan kamu dengan buat janji di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

Referensi:
Cognitive Fx. Diakses pada 2022. Multiple Concussions: Long-Term Effects and Treatment Options.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Repeated Head Impacts.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Concussion