Anak yang Gemuk Berisiko Obesitas saat Dewasa

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anak yang Gemuk Berisiko Obesitas saat Dewasa

Halodoc, Jakarta –  Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Menurut data dari WHO, pada 2016, diperkirakan 41 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami obesitas. 

Dulunya obesitas pada anak ini ditemukan pada negara dengan berpendapatan tinggi, tetapi negara dengan penghasilan menengah dan rendah juga ditemukan kondisi seperti ini. Lantas, apakah anak yang obesitas juga cenderung mengalami hal yang sama saat dewasa?

Baca juga: 5 Tips Mengatur Pola Makan untuk Anak Obesitas

Pemicu Obesitas pada Anak

Penyebab mendasar dari obesitas dan kelebihan berat badan adalah ketidakseimbangan energi antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dikeluarkan. Ada tiga perilaku yang meningkatkan obesitas pada anak, yaitu:

  1. Peningkatan asupan makanan padat energi yang tinggi lemak.

  2. Peningkatan ketidakaktifan fisik karena perubahan moda transportasi dan cara bermain anak zaman sekarang.

  3. Perubahan pola makan dan aktivitas fisik sering kali merupakan akibat dari perubahan lingkungan dan sosial yang terkait dengan pengembangan dan kurangnya kebijakan orang tua.

Obesitas lebih dari sekadar masalah estetika. Anak-anak dengan obesitas cenderung menjadi orang dewasa dengan obesitas (seringkali lebih parah), dengan risiko lebih tinggi terkena masalah kesehatan lainnya, serta kematian dini.

Selain itu, anak-anak dan remaja dengan obesitas, yang sudah berada pada usia yang rentan, menghadapi masalah psikologis dan sosial, termasuk harga diri yang rendah, diskriminasi, depresi, kecemasan, dan kesepian (masalah yang dapat mengikuti mereka hingga dewasa).

Anak-anak dengan obesitas juga kerap menjadi sasaran intimidasi, terlepas dari status sosial ekonomi, jenis kelamin, ras, prestasi akademik, atau faktor-faktor tertentu lainnya.  Sikap negatif ini juga dapat bertahan hingga dewasa. 

Stereotip berdasarkan berat badan mengarah ke prasangka, stigma, dan diskriminasi pada orang dewasa dengan obesitas di tempat kerja dan bidang kehidupan lainnya, termasuk lingkup keluarga. 

Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa stigma berat badan sebenarnya dapat meningkatkan risiko kebiasaan makan yang tidak sehat dan menurunkan tingkat aktivitas fisik. Anak-anak dengan obesitas yang diejek tentang berat badan mereka lebih cenderung untuk makan berlebihan dan terlibat dalam perilaku tidak sehat lainnya.

Baca juga: Cara Menerapkan Kebiasaan Minum Air Putih pada Anak

Peran Orang tua dalam Memanajemen Pola Hidup Anak

Hal yang pasti dan harus dilakukan oleh orang tua adalah menerapkan pola makan sehat mulai dari:

  1. Kontrol ukuran porsi.

  2. Makanlah makanan biasa dan jangan "mengunyah" camilan setelah pulang sekolah.

  3. Hindari makanan yang tinggi kalori tetapi rendah nutrisi. Ini termasuk minuman manis, makanan cepat saji, keripik, kue, dan permen.

  4. Konsumsilah makanan yang kaya serat (biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran).

  5. Tingkatkan aktivitas fisik. Dapatkan satu jam aktivitas fisik yang kuat setiap hari. Berjalan atau bersepeda ke sekolah.

Orang tua harus mendorong kebiasaan sehat dengan menjadi contoh perilaku hidup sehat. Hindari diet ketat, dan jangan mempromosikan rasa takut akan makanan. Jangan menggunakan makanan sebagai hukuman atau hadiah. Jangan lupa untuk meningkatkan harga diri anak.

Ingin tahu lebih banyak mengenai bagaimana mencegah obesitas pada anak serta perawatan dan penanganan yang seharusnya seperti apa, bisa tanyakan langsung ke HalodocDokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orang tua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:
Endocrineweb. Diakses pada 2019. Children with Obesity.
World Health Organization. Diakses pada 2019. Obesity and Overweight.