• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 12 Karakter Anak Tunggal yang Perlu Orangtua Pahami

12 Karakter Anak Tunggal yang Perlu Orangtua Pahami

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Mengasuh anak tunggal boleh dibilang gampang-gampang susah. Sebab, mengasuh anak tunggal bisa menjadi pengasuhan ‘tekanan tinggi’. Orangtua dengan anak tunggal biasanya tidak ingin membuat kesalahan dalam mengasuh anak. Itulah sebabnya, mereka sangat berhati-hati dalam mengasuh Si Kecil. Boleh dibilang, semuanya harus ‘sempurna’. 

Tantangan mengasuh anak tunggal bukan cuma itu saja. Orangtua juga harus mengetahui segala karakteristik anak tunggal yang beragam. Alasannya jelas, dengan mengetahui karakteristik Si Kecil, ibu dan ayah lebih mudah untuk memahami mereka. Lantas, apa saja sih karakteristik anak tunggal yang perlu diketahui orangtua? 

Baca juga: Jenis Pola Asuh Anak yang Perlu Dipertimbangkan Orangtua

Dari Kritis sampai Rentan Terhadap Stres

Anak satu-satunya atau tunggal umumnya mendapatkan seluruh sumber daya sosial, emosional, dan materi yang disediakan oleh orangtuanya. Nah, karena orangtua biasanya melakukan investasi yang tinggi dalam mengasuh dan menafkahi anak, mereka sering memiliki ekspektasi yang tinggi pula terhadap anaknya kelak. Singkat kata, orangtua berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. 

Kembali ke pertanyaan di atas, apa saja sih karakteristik anak tunggal? Ada yang percaya kalau anak tunggal itu manja, enggan berbagi, sulit bersosialisasi, dan sukar diajak berkompromi. Sebenarnya karakteristik anak tunggal amat beragam, berikut ini contohnya:

  1. Bersikap kritis terhadap diri sendiri ketika standar perilaku dan kinerja yang lebih tinggi tidak dipenuhi.
  2. Menyukai perhatian sosial dan suka menjadi pusat perhatian keluarga di rumah.
  3. Peka secara emosional atau peka secara emosional dengan orangtua.
  4. Lebih suka berteman dengan dengan beberapa teman dekat atau sahabat, daripada menjalani pertemanan dengan banyak orang.
  5. Berkemauan keras.
  6. Merasa sangat terikat pada orangtua, sering kali membawa rasa kewajiban dan tanggung jawab untuk merawat mereka.
  7. Merasa tidak nyaman dengan konflik karena tidak mengalami kesulitan atau persaingan dengan saudara kandung.
  8. Berambisi untuk mencapai keinginan yang diharapkan orangtua.
  9. Bergantung pada orangtua untuk dukungan emosional mereka.
  10. Dapat diandalkan oleh orangtua.
  11. Enggan untuk mengambil keputusan secara bersama-sama, terutama dalam situasi yang hasilnya bisa memengaruhi kesejahteraannya.
  12. Rentan terhadap stres akibat tekanan yang dipaksakan untuk menjadi sosok yang bertanggung jawab atau berprestasi. 

Baca juga: Jangan Disamakan, Ini Beda Pola Asuh pada Balita dan Remaja

Amati Adanya Sindrom Anak Tunggal

Apakah ibu pernah mendengar teori “only child syndrome” atau sindrom tunggal? Teori ini datang dari dua psikolog di awal 1900-an. Keduanya menggunakan kuesioner untuk mempelajari dan mengkategorikan anak-anak dengan sejumlah sifat yang berbeda. Menurut hasil penelitian tersebut, anak tunggal atau tanpa saudara kandung anak-anak tanpa memiliki daftar panjang sifat-sifat perilaku negatif.

Ahli di atas menggambarkan anak tunggal sebagai individu yang manja, egois, bossy, kesepian, dan sulit bersosialisasi (cenderung menjadi antisosial). Beberapa ahli beranggapan karakteri ini bisa dibawa ke masa dewasa.

Misalnya, di masa mendatang mereka akan mengalami kesulitan bergaul dengan rekan kerja, menunjukkan hipersensitivitas terhadap kritik, dan memiliki keterampilan sosial yang buruk.

Nah, mereka yang setuju dengan teori tersebut percaya, kondisi tersebut dapat terjadi pada anak-anak yang dimanja, atau terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan dari orangtua, termasuk perhatian yang tidak terbagi.

Mereka yang yakin dengan teori ini percaya bahwa anak tunggal tumbuh menjadi individu yang egois, yang hanya memikirkan diri dan kebutuhannya sendiri. 

Baca Juga: Mengenal RIE Parenting, Pola Asuh Anak Kekinian

Hal yang perlu ditegaskan, teori di atas hanya berdasarkan hasil survei. Meskipun teori ini telah masuk ke dalam budaya populer (bersama dengan teori urutan kelahiran), tapi sebagian besar hasilnya juga tidak berdasar.

Sebab, penelitian terbaru menunjukkan bahwa menjadi anak tunggal, tidak membuat mereka berbeda dari teman sebaya yang memiliki saudara kandung. Di samping itu, tidak adanya saudara kandung, tidak serta merta membuat anak tunggal menjadi egois atau antisosial. 

Mau tahu lebih jauh mengenai karakteristik anak tunggal dan pola asuh yang paling tepat? Ibu bisa bertanya langsung pada psikolog melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 



Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. The Adolescent Only Child
Healthline. Diakses pada 2020. Only Child Syndrome: Proven Reality or Long-Standing Myth?