• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Tertular Hepatitis
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Tertular Hepatitis

3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Tertular Hepatitis

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 29 Juni 2022

“Mengonsumsi alkohol, konsumsi jenis obat tertentu secara berlebihan, melakukan aktivitas berisiko, dan tidak menjaga kebersihan dapat memicu peningkatan risiko penularan hepatitis.”

3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Tertular Hepatitis3 Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Tertular Hepatitis

Halodoc, Jakarta –  Hepatitis adalah penyakit yang mudah menular dengan gejala utamanya adalah nyeri sendi, demam, dan sakit kuning. Penyakit hepatitis bisa menjadi akut maupun kronis. Parahmya, jika tidak segera diobati, ia bisa menyebabkan komplikasi serius seperti kanker hati, sirosis, dan gagal hati. 

Selain karena infeksi virus, hepatitis juga bisa terjadi karena kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Informasi selengkapnya mengenai kebiasaan yang bisa menyebabkan penularan hepatitis bisa dibaca di sini!

Gaya Hidup Tidak Sehat yang Memicu Penularan Hepatitis

Semenjak hepatitis akut mulai menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO) do tegah pandemi ini, ada baiknya kamu tetap mengaplikasikan kebiasaan hidup sehat. Ini termasuk menghindari kebiasaan yang meningkatkan risiko tertular hepatitis.

Nah, beberapa kebiasaan tersebut, antara lain:

1. Mengonsumsi Alkohol Berlebihan

Konsumsi alkohol yang tidak terkontrol mengakibatkan hati mengalami peradangan. Kebiasaan ini juga menyebabkan sel hati mengalami kerusakan secara permanen. 

Akhirnya, fungsi hati pun akan terganggu. Apabila tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa berkembang lebih buruk menjadi sirosis dan gagal hati.

2. Konsumsi Obat Tertentu

Beberapa obat-obatan yang kamu konsumsi bisa berdampak terjadinya peradangan pada organ hati. Terlebih jika kamu mengonsumsinya melebihi dosis yang dianjurkan dokter. Ini dikenal dengan istilah toxic hepatitis.

3. Gaya Hidup Tidak Sehat

Selain itu, beberapa hal berikut ini juga meningkatkan risiko seseorang mengalami hepatitis:

  • Tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
  • Mengonsumsi makanan yang tidak dimasak dengan matang.
  • Berbagi pemakaian barang-barang pribadi dengan orang lain.
  • Melakukan hubungan intim tanpa menggunakan pengaman, terlebih pada mereka yang mengidap hepatitis jenis tertentu.
  • Menerima transfusi darah tanpa melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu. 

Pentingnya Deteksi Dini Gejala Hepatitis

Saat berada pada fase awal, pengidap hepatitis sering kali tidak akan merasakan adanya gejala hingga terjadi kerusakan dan masalah pada fungsi hati. Kasus hepatitis yang terjadi karena infeksi virus umumnya baru akan menunjukkan gejala setelah masa inkubasi terlewati. 

Masa inkubasi yang dibutuhkan setiap jenis virus hepatitis tentu tidak sama. Biasanya antara 2 minggu hingga 6 bulan. Gejala lainnya yang rentan terjadi pada pengidap hepatitis, yaitu:

  • Mual dan muntah.
  • Tubuh demam dan kelelahan
  • Feses mengalami perubahan warna menjadi pucat, sementara itu urine menjadi gelap.
  • Nyeri pada sendi dan area perut.
  • Nafsu makan berkurang sehingga terjadi penurunan berat badan.
  • Mengalami penyakit kuning, yaitu mata dan kulit yang berwarna kuning.

Waspadai jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada hepatitis. Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dan menghindari penularan. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Nah, untuk mendapatkan diagnosis yang akurat, terlebih dahulu dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pengidap beserta keluarganya. Setelah itu, akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah ada perubahan warna pada mata dan permukaan kulit. Area perut juga akan diperiksa untuk mengecek apakah terjadi pembesaran pada organ hati. 

Jika memang dibutuhkan, dokter juga mungkin melakukan serangkaian pemeriksaan berikut ini:

  • Pemeriksaan fungsi hati untuk mengetahui kerja hati sekaligus mendeteksi adanya masalah kesehatan pada organ ini.
  • Pemeriksaan antibodi virus hepatitis guna mengetahui eksistensi antibodi khusus untuk menangkal virus HAV, HBV, dan HCV. Pemeriksaan juga dilakukan untuk menentukan apakah hepatitis yang terjadi bersifat kronis atau akut.
  • Pemeriksaan perut dengan USG untuk membantu dokter lebih mudah mendeteksi masalah pada organ hati. Melalui pemeriksaan ini, masalah kesehatan, seperti kerusakan hati, tumor, pembesaran organ hati, dan kelainan pada empedu bisa diketahui.
  • Biopsi hati guna mengetahui apa yang menyebabkan kerusakan pada jaringan hati. 

Sementara itu, pengobatan hepatitis dilakukan sesuai dengan jenisnya, tingkat keparahan penyakitnya, dan kondisi pengidap secara keseluruhan. Hepatitis yang terjadi karena infeksi virus bisa sembuh tanpa perlu pengobatan apabila pengidap memiliki antibodi yang kuat. 

Referensi:
Everyday Health. Diakses pada 2022. What You Need to Know About Hepatitis. 
Healthline. Diakses pada 2022. Hepatitis.
Medline Plus. Diakses pada 2022. Hepatitis.