• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hepatitis

Hepatitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
hepatitis

Pengertian Hepatitis

Hepatitis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan pada organ hati. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meskipun juga dapat disebabkan oleh kondisi lain. Selain infeksi virus, hepatitis bisa disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol, penyakit autoimun, serta zat racun atau obat-obatan tertentu. Penyakit ini juga dapat terjadi akibat antibodi sendiri yang menyerang jaringan hati, yang disebut hepatitis autoimun.

Hepatitis dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, terutama yang berkaitan dengan metabolisme. Hal ini terjadi karena hati berperan penting dalam metabolisme tubuh, antara lain:

  • Menghasilkan empedu untuk pencernaan lemak.
  • Menguraikan karbohidrat, lemak, dan protein.
  • Menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.
  • Mengaktifkan berbagai enzim.
  • Membentuk protein seperti albumin dan faktor pembekuan darah.
  • Menyimpan karbohidrat (dalam bentuk glikogen), vitamin, dan mineral.
  • Membuang bilirubin (zat yang membuat tubuh menguning), kolesterol, hormon, dan obat-obatan.

Ada jutaan orang yang hidup dan mengidap penyakit ini. Namun, tidak sedikit juga orang yang mengidap penyakit ini dan masih belum terdiagnosis. Pilihan pengobatan yang dilakukan juga dapat berbeda-beda tergantung dari jenis hepatitis yang diidap. Beberapa pencegahan juga perlu dilakukan untuk menghindari penyakit ini, seperti imunisasi dan tindakan pencegahan gaya hidup.

Penyebab Hepatitis

Hepatitis dapat disebabkan karena infeksi maupun bukan karena infeksi. Pembagian jenis hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus, yaitu:

  • Hepatitis A, disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV). Hepatitis A biasanya ditularkan melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi feses dari pengidap hepatitis A.
  • Hepatitis B, disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B dapat ditularkan melalui cairan tubuh yang terinfeksi virus hepatitis B, seperti darah, cairan Miss V, dan air mani.
  • Hepatitis C, disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV). Hepatitis C dapat ditularkan melalui cairan tubuh, terutama melalui berbagi pakai jarum suntik dan hubungan seksual tanpa kondom.
  • Hepatitis D, disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Virus hepatitis D tidak bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia tanpa adanya hepatitis B. Hepatitis D dapat ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya.
  • Hepatitis E, disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV). Hepatitis E mudah terjadi pada lingkungan yang tidak memiliki sanitasi yang baik, akibat kontaminasi virus hepatitis E pada sumber air.

Umumnya ibu yang mengidap hepatitis B dan C dapat menularkan kepada bayinya melalui jalan lahir. Selain disebabkan oleh virus, hepatitis juga dapat terjadi akibat kerusakan pada hati oleh senyawa kimia, terutama alkohol. Konsumsi alkohol berlebihan akan merusak sel-sel hati secara permanen dan berkembang menjadi gagal hati atau sirosis. Hepatitis yang disebabkan oleh alkohol disebut juga hepatitis alkoholik.

Penggunaan obat-obatan melebihi dosis atau paparan racun juga dapat menyebabkan hepatitis. Pada kasus yang jarang terjadi, hepatitis dapat disebabkan oleh penyakit autoimun, yakni kondisi di mana sistem imun tubuh menyerang dan merusak sel dan jaringan tubuh sendiri.  Selain itu, ada juga hepatitis neonatal, yaitu peradangan hati yang terjadi pada masa awal bayi lahir, biasanya antara satu dan dua bulan setelah lahir.

Faktor Risiko Hepatitis

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena hepatitis. Contohnya seperti faktor lingkungan, perilaku atau masalah kesehatan tertentu.

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang bisa menjadi penyebab atau pemicu hepatitis, antara lain:

  • Air yang tidak aman untuk diminum atau untuk mencuci peralatan makan.
  • Kurangnya fasilitas sanitasi, seperti kamar mandi atau tempat cuci tangan.
  • Kontak dengan jarum suntik bekas, alat suntik, atau benda lain yang terkontaminasi darah yang terinfeksi virus hepatitis.
  1. Perilaku

Begitu juga ada beberapa perilaku atau aktivitas yang bisa membuat kamu lebih mungkin terpapar virus, bahan kimia beracun, atau zat penyebab hepatitis. 

  • Berbagi jarum suntik atau benda lain yang mungkin terkontaminasi virus hepatitis.
  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman, seperti tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks atau bergonta-ganti pasangan.
  • Bekerja di sekitar bahan kimia beracun. Contoh pekerjaan yang meningkatkan risiko hepatitis antara lain tukang bersih-bersih, pelukis, penyedia layanan kesehatan, atau pekerja pertanian.
  • Minum air yang belum dimasak atau makan makanan yang tidak diolah dengan aman dan benar.
  • Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama.
  • Minum obat yang dipercaya terkait dengan hepatitis. 
  1. Masalah Kesehatan

Riwayat kesehatan seseorang juga bisa memengaruhi risikonya mengembangkan hepatitis.

  • Belum mendapatkan vaksinasi hepatitis.
  • Memiliki infeksi akut atau kronis dengan satu atau lebih virus hepatitis.
  • Memiliki gangguan autoimun.
  • Lahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis, khususnya hepatitis B.

Gejala Hepatitis

Jika kamu mengidap jenis hepatitis menular yang kronis, seperti hepatitis B dan C, bisa jadi tidak ada gejala yang timbul saat awal terpapar. Gejalanya baru timbul setelah tubuh terjadinya kerusakan yang dapat memengaruhi fungsi hati.

Di sisi lain, tanda dan gejala hepatitis akut dapat muncul dengan cepat. Beberapa gejala hepatitis yang dapat terjadi, yaitu:

  • Mengalami gejala seperti flu, misalnya mual, muntah, demam, dan lemas.
  • Feses berwarna pucat.
  • Mata dan kulit berubah menjadi kekuningan.
  • Nyeri perut.
  • Berat badan turun.
  • Urine menjadi gelap seperti teh.
  • Kehilangan nafsu makan.

 

Diagnosis Hepatitis

Langkah diagnosis hepatitis pertama adalah menanyakan riwayat timbulnya gejala dan mencari faktor risiko dari pengidap. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda atau kelainan fisik yang muncul pada pasien. Misalnya seperti dengan menekan perut untuk mencari pembesaran hati sebagai tanda hepatitis, dan memeriksa kulit serta mata untuk melihat perubahan warna menjadi kuning.

Beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis hepatitis, antara lain:

  1. Tes Fungsi Hati

Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan sampel darah untuk menentukan seberapa efisien hati untuk melakukan fungsinya. Hasil dari pemeriksaan ini dapat menjadi indikasi terjadinya masalah, terutama jika tidak ada gejala apa pun selama pemeriksaan fisik. Saat ditemukan tingkat enzim hati yang tinggi, bisa disimpulkan jika organ tersebut sedang mengalami stres, rusak, atau bermasalah.

  1. Tes Darah Lainnya

Jika hati tidak bekerja seperti semestinya, dokter dapat melakukan tes darah untuk mendeteksi sumber masalah. Metode ini dapat memeriksa virus yang terdapat dalam darah. Hal ini juga dapat mendeteksi kondisi antibodi tubuh yang dapat menyebabkan hepatitis autoimun.

  1. USG

Pemeriksaan ultrasonografi menggunakan gelombang ultrasonik untuk melihat kondisi hati melalui gambar yang dihasilkan. Tes ini memungkinkan dokter untuk memeriksa hati dan organ di sekitarnya, seperti kerusakan hati, tumor hati, hingga kelainan kandung empedu.

  1. Biopsi Hati

Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel jaringan dari hati. Sampel tersebut menentukan adanya infeksi atau peradangan yang terjadi pada hati. Hal ini juga bisa digunakan untuk mengambil sampel area yang tidak normal atau bermasalah pada hati.

Pengobatan Hepatitis

Pengobatan hepatitis A, B, dan E akut umumnya tidak membutuhkan pengobatan spesifik. Jika dilakukan, pengobatan difokuskan untuk meredakan gejala-gejala yang muncul (seperti mual muntah dan sakit perut). Pemberian obat-obatan juga harus berhati-hati, karena fungsi hati pengidap hepatitis akut sedang terganggu.

Sedangkan pengobatan hepatitis kronis, bertujuan untuk menghambat perkembangbiakan virus, serta mencegah kerusakan hati lebih lanjut. Pengobatan terhadap hepatitis kronis melibatkan obat-obatan antivirus.

Seseorang yang mengidap hepatitis kronis diharuskan untuk berhenti minum alkohol dan merokok untuk mencegah kerusakan hati bertambah parah. Selain itu, pengobatan hepatitis autoimun umumnya melibatkan obat imunosupresan, terutama golongan kortikosteroid.

Komplikasi Hepatitis

Hepatitis yang dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu berbagai komplikasi, antara lain: 

  • Fibrosis hati, kondisi ketika hati dipenuhi oleh jaringan parut sehingga tidak lagi bisa berfungsi dengan baik.
  • Sirosis hati, merupakan tahap lanjut dari fibrosis.
  • Kanker hati, bisa terjadi sebagai komplikasi dari sirosis.
  • Gagal hati. Meski komplikasi hepatitis ini jarang terjadi, tapi gagal hati merupakan kondisi serius yang bisa berakibat fatal.
  • Glomerulonefritis, gangguan ginjal yang disebabkan oleh peradangan yang seringkali berhubungan dengan respon imun. Komplikasi ini paling sering terjadi pada pengidap hepatitis B dan hepatitis C kronis.
  • Krioglobulinemia, penyakit langka yang disebabkan oleh sekelompok protein abnormal yang menyumbat pembuluh darah kecil. Komplikasi ini paling sering terjadi pada pengidap hepatitis B dan hepatitis C kronis.
  • Ensefalopati Hepatik. Kehilangan fungsi hati yang parah, seperti gagal hati, dapat menyebabkan otak meradang, yang dikenal sebagai ensefalopati.
  • Hipertensi portal, terjadi ketika sistem sirkulasi portal hati tersumbat akibat sirosi dan masalah lain.
  • Porfiria, merupakan komplikasi langka dari infeksi hepatitis C kronis.
  • Koinfeksi virus, yaitu ketika ada dua infeksi virus pada saat yang bersamaan.

Pencegahan Hepatitis

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko untuk terserang hepatitis. Namun, semua ini tergantung dari jenis hepatitis yang menyerang. Contohnya, pastikan untuk tidak banyak mengonsumsi atau mengurangi konsumsi alkohol untuk mencegah hepatitis alkoholik.

Berikut ini pencegahan hepatitis yang dapat dilakukan secara umum:

  • Melakukan vaksinasi. Sekarang ini sudah ada vaksin yang bisa mencegah hepatitis A dan B, tapi belum ada vaksin untuk hepatitis C. 
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Menjaga kebersihan sumber air agar tidak terkontaminasi virus hepatitis.
  • Mencuci bahan makanan yang dikonsumsi, terutama kerang dan tiram, sayuran, serta buah-buahan.
  • Tidak berbagi pakai sikat gigi, pisau cukur, atau jarum suntik dengan orang lain.
  • Tidak menyentuh darah tanpa sarung tangan pelindung.
  • Melakukan hubungan seksual yang aman. Misalnya, menggunakan kondom atau tidak berganti-ganti pasangan (setia pada satu pasangan).

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Semakin cepat hepatitis didiagnosis dan mendapatkan pengobatan, maka dampak buruk yang mungkin terjadi juga dapat dicegah. Selain itu, pastikan melakukan pemeriksaan fisik secara rutin setiap tahunnya agar tubuh tetap sehat.

Kamu bisa melakukan pemeriksaan fisik tahunan dengan buat janji medis di rumah sakit ternama melalui aplikasi Halodoc. Cukup dengan download aplikasi Halodoc, segera kemudahan dalam akses kesehatan dapat dilakukan hanya dengan sentuhan tangan. Jangan ragu lagi, segera unduh aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Hepatitis.
Medline Plus. Diakses pada 2022. Hepatitis.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Neonatal Hepatitis.
WebMD. Diakses pada 2022. Types of Hepatitis: A, B, and C.
Verywell Health. Diakses pada 2022. Causes and Risk Factors of Hepatitis.
Verywell Health. Diakses pada 2022.Common Complications of Hepatitis
Diperbarui pada 11 Mei 2022.