Ad Placeholder Image

5 Manfaat Ganja Medis dan Efek Sampingnya bagi Tubuh

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Juni 2026

“Selama 3000 tahun ganja telah digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, termasuk epilepsi. Pemakaiannya tidak boleh sembarangan karena gangguan mental jadi salah satu efek sampingnya.”

5 Manfaat Ganja Medis dan Efek Sampingnya bagi Tubuh5 Manfaat Ganja Medis dan Efek Sampingnya bagi Tubuh

DAFTAR ISI


Ganja kering, yang berasal dari tanaman Cannabis sativa atau Cannabis indica, telah lama menjadi topik perdebatan panas di dunia medis maupun hukum. Di beberapa negara, tanaman ini mulai dilegalkan untuk keperluan medis dan rekreasi, namun di banyak negara lainnya, termasuk Indonesia, ganja tetap diklasifikasikan sebagai narkotika berbahaya yang dilarang keras penggunaannya.

Dalam dunia farmakologi, tanaman ini memang mengandung senyawa aktif yang memiliki efek langsung terhadap sistem saraf pusat manusia. Pemahaman yang keliru di masyarakat sering kali menyamakan tren global dengan keamanan mutlak, padahal penggunaan ganja tanpa pengawasan medis yang ketat (di negara yang melegalkannya) dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental dan fisik yang serius.

Sebagai informasi kesehatan, penting bagi kamu untuk memahami fakta medis di balik ganja kering, efek sampingnya, serta alasan mengapa tanaman ini dilarang di Indonesia. Artikel ini akan membahas secara objektif dari kacamata medis mengenai kandungan ganja dan dampaknya bagi tubuh.

Nah, mau tahu apa saja fakta medis mengenai ganja kering? Berikut ulasannya!

Mengenal Ganja Kering dan Kandungannya

Ganja kering umumnya dikonsumsi dengan cara dihisap seperti rokok, dicampur ke dalam makanan, atau diseduh menjadi teh. Efek yang ditimbulkan oleh ganja berasal dari ratusan senyawa kimia yang disebut cannabinoid. Terdapat dua senyawa utama yang paling banyak diteliti dan memiliki efek dominan terhadap tubuh, yaitu:

  • THC (Tetrahydrocannabinol): Ini adalah senyawa psikoaktif utama dalam ganja yang membuat penggunanya merasa “melayang” atau high. THC bekerja dengan mengikat reseptor di otak yang mengatur kesenangan, memori, pikiran, konsentrasi, persepsi sensorik, dan persepsi waktu.
  • CBD (Cannabidiol): Berbeda dengan THC, CBD tidak memiliki efek psikoaktif (tidak membuat mabuk). Dalam pengobatan modern di luar negeri, ekstrak CBD sering dieksplorasi untuk meredakan nyeri, peradangan, dan kejang tanpa memicu efek euforia.

Manfaat Medis di Beberapa Negara

Di negara-negara yang telah melegalkan ganja medis (seperti beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Kanada, dan Belanda), penggunaannya sangat diregulasi dan bukan dalam bentuk ganja kering sembarangan, melainkan sediaan farmasi yang dosisnya terukur. Beberapa kondisi medis yang diizinkan untuk diterapi menggunakan turunan ganja di negara tersebut meliputi:

1. Nyeri Kronis: Kandungan cannabinoid diyakini dapat mengubah jalur persepsi nyeri di otak.
2. Epilepsi Tahan Obat: Obat berbasis CBD (seperti Epidiolex) telah disetujui oleh FDA (Amerika Serikat) untuk mengobati kejang parah pada sindrom Lennox-Gastaut dan Dravet.
3. Multiple Sclerosis (MS): Digunakan untuk mengurangi kekakuan otot (spastisitas).
4. Mual akibat Kemoterapi: Obat sintetis berbasis THC digunakan untuk meningkatkan nafsu makan dan menekan mual pada pasien kanker.

Namun, perlu ditekankan bahwa dokter tidak pernah menyarankan pasien untuk sekadar menghisap ganja kering yang dibeli secara ilegal, karena dosis zat aktifnya tidak dapat diprediksi dan asapnya merusak paru-paru.

Bahaya Menghisap Asap Ganja Kering
  1. Asap ganja mengandung racun, iritan, dan karsinogen (zat pemicu kanker) yang serupa dengan asap rokok tembakau.
  2. Penggunaan jangka panjang meningkatkan risiko bronkitis kronis, batuk berdahak persisten, dan infeksi saluran pernapasan.
  3. Menghisap ganja saat hamil dapat memengaruhi perkembangan otak janin dan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah.

Efek Samping dan Bahaya Ganja Kering

Penggunaan ganja kering, terutama tanpa indikasi dan pengawasan medis, membawa risiko efek samping yang tidak main-main, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Jika kamu mengalami masalah kecemasan atau gangguan tidur akibat efek putus zat, penanganan medis profesional sangat diperlukan.

1. Dampak Jangka Pendek

Sesaat setelah ganja dikonsumsi, pengguna dapat mengalami takikardia (detak jantung meningkat drastis), mulut kering, mata merah, gangguan koordinasi motorik, dan penurunan daya ingat sementara. Dalam dosis tinggi, THC dapat memicu kecemasan parah, serangan panik, paranoia, hingga psikosis akut (halusinasi dan delusi).

2. Dampak Jangka Panjang dan Kecanduan

Mitos yang beredar menyebutkan bahwa ganja tidak menyebabkan kecanduan. Secara medis, klaim ini salah. Penggunaan ganja kering secara rutin dapat menyebabkan Cannabis Use Disorder (CUD). Pengguna akan mengalami toleransi (butuh dosis lebih tinggi) dan gejala putus zat (sulit tidur, gelisah, nafsu makan hilang) jika berhenti menggunakannya. Selain itu, pada remaja yang otaknya masih berkembang, ganja dapat menurunkan skor IQ secara permanen dan memicu munculnya skizofrenia pada individu yang memiliki bakat genetik.

Status Hukum di Indonesia

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja (termasuk akar, batang, daun, bunga, dan bijinya) masuk dalam Narkotika Golongan I. Artinya, ganja kering hanya boleh digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan (dengan izin sangat ketat) dan dilarang keras digunakan untuk terapi medis maupun rekreasi.

Daripada menggunakan zat terlarang yang berisiko merusak masa depan dan kesehatanmu, lebih baik jaga kesehatan tubuh dengan cara yang aman. Kamu bisa beli suplemen kesehatan dan multivitamin resmi yang terdaftar BPOM untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan kebugaran mental tanpa melanggar hukum.

Studi Mengenai Efek Ganja pada Kesehatan

The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine menerbitkan studi komprehensif di tahun 2017 yang menjelaskan bahwa meskipun ada bukti konklusif terkait efektivitas ganja untuk nyeri kronis dan mual, risiko kesehatan mentalnya sangat nyata.

Studi tersebut menegaskan adanya kaitan yang kuat antara penggunaan ganja yang sering dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan sosial, depresi, dan pemikiran bunuh diri, terutama pada populasi usia muda. Hal ini menegaskan mengapa pengawasan medis ketat diperlukan dan pengobatan mandiri (self-medication) menggunakan ganja kering sangat berbahaya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiatri) via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala kecemasan, gangguan tidur, depresi, atau masalah terkait penyalahgunaan zat seperti yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Cannabis.
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI. Diakses pada 2024. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
National Institute on Drug Abuse (NIDA). Diakses pada 2024. Cannabis (Marijuana) DrugFacts.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Medical marijuana.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. Diakses pada 2024. The Health Effects of Cannabis and Cannabinoids.

FAQ

1. Apakah ganja kering legal untuk pengobatan di Indonesia?

Tidak. Berdasarkan UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, ganja termasuk Narkotika Golongan I yang dilarang keras untuk digunakan dalam terapi medis maupun rekreasi di Indonesia. Penggunaannya dapat dikenakan sanksi pidana berat.

2. Apa perbedaan antara kandungan THC dan CBD pada ganja?

THC adalah senyawa psikoaktif yang memberikan efek “mabuk”, halusinasi, dan mengubah persepsi. Sementara itu, CBD tidak bersifat psikoaktif dan lebih sering diteliti di dunia medis untuk sifat anti-inflamasi dan anti-kejangnya tanpa membuat pasien merasa melayang.

3. Bisakah seseorang mengalami kecanduan akibat ganja kering?

Bisa. Secara medis dikenal sebagai Cannabis Use Disorder (CUD). Pengguna rutin dapat mengalami ketergantungan fisik dan psikologis, ditandai dengan munculnya gejala putus zat seperti lekas marah, insomnia, dan hilangnya nafsu makan saat mencoba berhenti.

4. Apakah menghisap ganja lebih aman daripada merokok tembakau?

Tidak. Asap ganja kering mengandung banyak iritan paru-paru dan karsinogen yang sama dengan asap tembakau. Menghisapnya secara rutin dapat merusak jaringan paru-paru, memicu bronkitis kronis, dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan.