• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

5 Penyebab Depresi yang Sering Diabaikan

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
undefined

Halodoc, Jakarta - Depresi adalah gangguan suasana hati yang bisa menyebabkan seseorang terus-menerus merasa sedih dan kehilangan minat. Hal ini dapat memengaruhi pola pikir, perasaan, dan perilaku seseorang.

Tidak hanya itu,  depresi juga bisa memicu masalah fisik maupun emosional. Pengidap depresi biasanya merasa sedih, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang disukainya, putus asa, merasa tidak berharga, dan menyalahkan diri sendiri. 

Baca juga: Bukan Hujan, Sulit Bangun Pagi karena Atypical Depression

Potensi Penyebab Depresi

Depresi juga dikenal sebagai penyakit yang kompleks. Tidak ada yang tahu persis penyebabnya, tetapi para ahli yakin bahwa beberapa alasan bisa jadi penyebabnya. Melansir Healthline, berikut ini hal yang bisa jadi penyebab seseorang alami depresi, yaitu:

  • Riwayat Keluarga. Faktanya, kamu berisiko lebih tinggi untuk mengalami depresi jika memiliki riwayat keluarga yang mengalami depresi atau gangguan suasana hati lainnya. Depresi sifatnya sangat kompleks, artinya mungkin ada banyak gen berbeda yang masing-masing memberikan efek kecil, daripada gen tunggal yang berkontribusi terhadap risiko penyakit. Genetika depresi, seperti kebanyakan gangguan kejiwaan, tidak sesederhana atau seumum penyakit genetik murni lainnya.

  • Trauma. Beberapa peristiwa bisa memengaruhi cara tubuh kamu bereaksi terhadap ketakutan dan situasi yang membuat stres. Hal ini bisa terjadi karena kekerasan fisik, seksual, atau emosional yang meningkatkan kerentanan terhadap depresi klinis.

  • Struktur Otak. Risiko depresi menjadi lebih besar jika lobus frontal otak kurang aktif. Namun, para ilmuwan tidak tahu apakah ini terjadi sebelum atau setelah timbulnya gejala depresi.

  • Kondisi Medis. Kondisi tertentu meningkatkan risiko yang lebih tinggi untuk alami depresi. Depresi bisa terjadi sebagai efek samping dari penyakit kronis, seperti insomnia, nyeri kronis, atau attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD).

  • Penggunaan Obat. Riwayat penyalahgunaan narkoba atau alkohol memengaruhi risiko alami depresi. Namun, beberapa obat yang diresepkan dokter juga bisa meningkatkan risikonya. Seperti isotretinoin (digunakan untuk mengobati jerawat), obat antivirus interferon-alfa, dan kortikosteroid. 

Baca juga: Hubungan Obesitas dan Depresi yang Perlu Diwaspadai

Bagaimana Mengetahui Seseorang Alami Depresi

Sayangnya, tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosis depresi. Namun, penyedia layanan kesehatan dapat membuat diagnosis berdasarkan gejala dan evaluasi psikologis seseorang. Pada kebanyakan kasus, mereka akan mengajukan serangkaian pertanyaan tentang beberapa hal, seperti:

  • Suasana hati;

  • Nafsu makan;

  • Pola tidur;

  • Tingkat aktivitas;

  • Pikiran.

Depresi dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan lainnya, maka penyedia layanan kesehatan juga dapat melakukan pemeriksaan fisik dan meminta melakukan tes darah. Sebab terkadang masalah tiroid atau kekurangan vitamin D juga dapat memicu gejala depresi.

Jangan abaikan gejala depresi. Jika suasana hati kamu tidak membaik atau semakin buruk, segera periksakan diri ke rumah sakit. Buat janji dokter pun kini lebih mudah dengan dokter melalui aplikasi Halodoc

Depresi adalah penyakit kesehatan mental yang serius yang berpotensi menyebabkan komplikasi. Jika tidak segera mendapatkan pengobatan, komplikasi tersebut, antara lain: 

  • Kenaikan atau penurunan berat badan;

  • Sakit fisik;

  • Penyalahgunaan narkoba;

  • Serangan panik;

  • Masalah hubungan dengan orang terdekat;

  • Isolasi sosial

  • Keinginan bunuh diri

  • Kebiasaan yang menyakiti diri sendiri.

Baca juga: Benarkah Sering Begadang Bisa Sebabkan Depresi?

Perawatan untuk Atasi Depresi

Hidup dengan depresi bisa sangat menyulitkan, tetapi perawatan tertentu bisa meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. Beberapa langkah perawatan tersebut, antara lain: 

  • Konsumsi obat-obatan, seperti antidepresan, antiansietas, dan obat antipsikotik. 

  • Psikoterapi. Berbicara dengan terapis juga membantu pengidapnya mempelajari keterampilan untuk mengatasi perasaan negatif. Kamu juga bisa memanfaatkan sesi terapi keluarga atau kelompok untuk meringankan gejala depresi. 

  • Terapi cahaya. Paparan dengan dosis cahaya putih juga membantu mengatur suasana hati. Terapi cahaya biasanya digunakan pada gangguan afektif musiman, yang sekarang disebut gangguan depresi mayor dengan pola musiman.

  • Olahraga. Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik selama 30 menit selama 3 hingga 5 hari seminggu. Olahraga meningkatkan produksi endorfin dalam tubuh, yang merupakan hormon yang meningkatkan suasana hati.

  • Merawat Diri. Kamu dapat mengurangi gejala depresi dengan merawat diri sendiri. Hal ini termasuk tidur yang cukup, makan makanan sehat, menghindari orang-orang negatif, dan berpartisipasi dalam kegiatan yang menyenangkan.

Faktanya, kamu bisa berhasil menangani gejala dengan satu bentuk perawatan, atau beberapa kombinasi perawatan. Jadi, lebih baik segera periksakan diri ke dokter atau psikolog ketika mengalami gejala depresi.

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Everything You Want to Know About Depression.
Web MD. Diakses pada 2020. Causes of Depression.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. What Causes Depression?