Depresi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Depresi

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus-menerus merasa tertekan atau kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas hidup sehari-hari.

Baca juga: Depresi Bisa Terjadi pada Segala Usia

 

Faktor Risiko Depresi

Beberapa faktor risiko depresi, antara lain:

  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental pada keluarga.

  • Menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang.

  • Memiliki ciri kepribadian tertentu, seperti rendah diri, terlalu keras dalam menilai diri sendiri, pesimis, atau terlalu bergantung kepada orang lain.

  • Mengidap penyakit kronis atau serius, seperti gangguan hormon tiroid, cedera kepala, HIV/AIDS, diabetes, kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung.

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur.

  • Mengalami kejadian traumatik, seperti kekerasan seksual, kematian, kehilangan orang yang dicintai, atau masalah keuangan.

 

Penyebab Depresi

Beberapa penyebab depresi, antara lain:

  • Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat depresi berisiko lebih tinggi mengidap depresi juga.

  • Senyawa kimia otak. Orang yang mengalami depresi biasanya terdapat ketidakseimbangan senyawa kimia di otaknya (neurotransmitter).

  • Seseorang yang bisa mengalami depresi bila pernah mengalami kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang bermasalah, atau situasi yang dapat membuat stres, dapat memicu timbulnya depresi.

Baca juga: Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

 

Gejala Depresi

Beberapa gejala depresi, antara lain:

  • Selalu merasa bersalah.

  • Merasa putus asa, rendah diri, dan tidak berharga.

  • Selalu merasa cemas dan khawatir yang berlebihan.

  • Suasana hati buruk atau sedih berkelanjutan.

  • Mudah marah atau sensitif.

  • Mudah menangis.

  • Sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan.

  • Tidak tertarik dan tidak memiliki motivasi terhadap segala hal.

  • Timbul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

  • Selalu merasa kelelahan dan hilang tenaga.

  • Perubahan siklus menstruasi pada wanita.

  • Konstipasi.

  • Gerakan tubuh dan bicara yang lebih lambat dari biasanya.

  • Hilang gairah seksual.

  • Gangguan tidur.

  • Perubahan berat badan dan selera makan.

Baca juga: Ciri dan Tanda Gejala Depresi Pada yang Wajib Kamu Ketahui

 

Diagnosis Depresi

Dokter akan mendiagnosis depresi dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikologis, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah jika diperlukan. Pemeriksaan tersbeut dilakukan untuk mengetahui penyebab depresi.

 

Komplikasi Depresi

Depresi adalah gangguan serius yang bisa berakibat fatal bagi pengidap dan keluarga. Depresi sering kali menjadi lebih buruk bila tidak diobati, serta mengakibatkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan yang memengaruhi setiap area kehidupan pengidap.

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat depresi, antara lain:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas, yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan diabetes.

  • Penyakit fisik.

  • Pelarian berupa alkohol atau penyalahgunaan narkoba.

  • Kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial.

  • Menimbulkan konflik keluarga, kesulitan hubungan, dan masalah pekerjaan atau sekolah.

  • Isolasi sosial.

  • Muncul perasaan ingin bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau bunuh diri.

  • Keinginan untuk mutilasi diri.

  • Kematian dini akibat kondisi medis.

Baca juga: Depresi dan Cemas Berlebihan Dapat Memicu Mimpi Buruk

 

Pengobatan Depresi

Beberapa cara yang bisa dilakukan dokter untuk membantu pengidap mengatasi depresi yang dialaminya, antara lain:

  • Psikoterapi.

  • Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu pengidap melepaskan pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respon positif.

  • Problem-solving therapy (PST), untuk meningkatkan kemampuan pengidap menghadapi pengalaman yang memicu rasa tertekan.

  • Interpersonal therapy (IPT) untuk membantu mengatasi masalah yang muncul saat berhubungan dengan orang lain.

  • Terapi psikodinamis untuk membantu pengidap memahami apa yang dirasakannya dan bagaimana merespon perasaan tersebut.

  • Obat antidepresan, seperti escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, citalopram, venlafaxine, duloxetine, dan bupropion. Penggunaan obat-obatan ini harus selalu dalam pengawasan dokter karena efek samping yang cukup banyak.

  • Terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) untuk pengidap depresi yang tidak membaik setelah diberi obat-obatan, mengalami gejala psikosis, serta pengidap yang mencoba bunuh diri.

                                               

Pencegahan Depresi

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah depresi, antara lain:

  • Hindari kebiasaan menyendiri dengan mencari komunitas yang baik.

  • Buat hidup lebih sederhana dengan membuat perencanaan jangka pendek dan panjang.

  • Berolahraga secara teratur, minimal 3-5 kali dalam seminggu dengan durasi sekitar 30 menit.

  • Konsumsi makanan dengan gizi seimbang dan pola makan yang teratur.

  • Buat hidup lebih santai dan hindari stres.

  • Hindari konsumsi minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika sudah melakukan pencegahan, tapi depresi menyerang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, segera kunjungi dokter untuk meminta saran. Penanganan yang dilakukan sedini mungkin bisa membantu mencegah kondisi bertambah semakin parah.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Depression (major depressive disorder) - Symptoms and causes.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Depression: Tests, symptoms, causes, and treatment.
Diperbarui pada tanggal 3 September 2019.