• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 7 Komplikasi yang Bisa Terjadi pada Anak Setelah Divaksin DPT

7 Komplikasi yang Bisa Terjadi pada Anak Setelah Divaksin DPT

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Vaksin DPT (difteri, tetanus, dan pertusis) adalah kombinasi imunisasi yang diberikan melalui suntikan untuk melindungi tubuh dari infeksi yang disebabkan oleh difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan). Vaksin ini diberikan hanya untuk anak yang berusia 6 minggu sampai 6 tahun (sebelum anak berusia 7 tahun).

Vaksin DPT bekerja dengan memasukkan bakteri difteri, pertusis, dan tetanus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh. Kondisi ini memicu sistem kekebalan tubuh manusia untuk memproduksi antibodi dalam melawan infeksi dari ketiga penyakit tersebut jika suatu waktu menyerang. Adakah komplikasi atau efek samping dari pemberian vaksin DPT ini?

Baca juga: Bagaimana Cara Atasi Demam setelah Imunisasi DPT?

Komplikasi yang Dapat Terjadi Setelah Vaksin DPT pada Anak

Vaksin DPT adalah vaksin yang digunakan untuk imunisasi anak hingga usia 7 tahun. Fungsi vaksin ini yaitu melawan difteri, tetanus, dan pertusis secara bersamaan. Vaksin DPT ini tersedia dalam bentuk generik.

Hanya saja, hal perlu diwaspadai dari vaksin ini yaitu memungkinkan terjadinya komplikasi atau efek samping, meliputi:

  1. Reaksi di area suntikan (kemerahan, hangat, bengkak, nyeri saat ditekan, gatal, dan ruam).
  2. Demam.
  3. Mengantuk.
  4. Anak jadi rewel.
  5. Penurunan berat badan (anoreksia).
  6. Menangis terus-menerus.
  7. Kejang.

Karena efek samping ini, orangtua harus mempersiapkan anak sebelum melakukan vaksin. Jika anak sering menangis setelah mendapat suntikan vaksin. Untuk mengurangi rasa sakit atau demam yang disebabkan oleh imunisasi DPT, ibu dapat memberikan asetaminofen atau ibuprofen pada anak. Meskipun begitu, pastikan untuk memberikannya dengan resep dari dokter supaya dosis yang diberikan sesuai. 

Baca juga: Vaksin DPT Cegah Difteri Bukan Cuma pada Anak-Anak

Pada beberapa kasus, seorang anak tidak diperbolehkan untuk menerima vaksin DPT atau harus menunggu momen yang tepat untuk menerimanya. Beberapa kasus tertentu yang menyebabkan risiko berbahaya dan harus memberitahu dokter jika mengalaminya adalah:

  • Mengalami reaksi serius setelah diberikan vaksin sebelumnya, yang menyebabkan kejang atau nyeri hebat, serta pembengkakan.
  • Mengalami masalah sistem saraf, termasuk riwayat kejang.
  • Mengidap gangguan sistem kekebalan sindrom Guillain-Barre.

Dokter mungkin memutuskan untuk menunda vaksin tersebut hingga saatnya tepat. Selain itu, anak ibu mungkin diberikan vaksin alternatif yang hanya mengandung komponen difteri dan tetanus. Umumnya, seorang anak yang mengalami penyakit sedang atau berat harus menunda diberikannya imunisasi tersebut.

Kementerian Kesehatan RI sudah menganjurkan pemberian vaksin DPT untuk anak-anak sejak usia balita. Vaksin DPT terdiri dari 3 jenis, yaitu vaksin campuran DPT-HB-Hib, Vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan secara bertahap tergantung pada usia anak. 

Vaksin DPT adalah program imunisasi dasar dan lanjutan yang wajib diberikan pada anak. Vaksin dasar ini dimulai sejak bayi belum genap satu tahun, diberikan sebanyak 3 kali (usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan). Untuk selanjutnya, anak diberikan imunisasi lanjutan atau booster pada usia 18 bulan dan usia 5 bulan. 

Baca juga: Bukan Cuma Bayi, Orang Dewasa Butuh Imunisasi DPT

Vaksin DPT ini penting untuk dilakukan mengingat gangguan penyakit yang terjadi dapat berakibat fatal hingga mengancam nyawa. Selain itu, selalu bertanya pada dokter tentang segala hal yang terjadi pada anak. Mungkin saja, ternyata anak ibu harus menunda untuk mendapatkan imunisasi DPT.

Itulah yang perlu ayah dan ibu ketahui mengenai vaksin DPT untuk anak. Jika anak gejala yang tidak biasa setelah menerima vaksin DPT. Segera bicarakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapat saran penanganan. Yuk, segera download aplikasi Halodoc agar sehat lebih tenang. 

Referensi:

Very Well Health.Diakses pada 2020.All About Tetanus Shots
Healthline.Diakses pada 2020.What You Should Know About the DTaP Vaccine
RxList. Diakses pada 2020. DTP
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diphtheria, Tetanus, And Acellular Pertussis Vaccine (Intramuscular Route)