• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 8 Hal Fatal yang Terjadi Tubuh Jika Alami Hipoksia

8 Hal Fatal yang Terjadi Tubuh Jika Alami Hipoksia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Kurangnya kadar oksigen dalam tubuh pastinya dapat menimbulkan berbagai masalah serius, karena oksigen merupakan sumber kehidupan bagi tiap manusia. Di dunia medis, kurangnya kadar oksigen dalam tubuh disebut hipoksia. 

Ketika hipoksia terjadi maka sel-sel dan jaringan yang ada di seluruh tubuh tak dapat berfungsi dengan normal. Singkat kata, hipoksia adalah kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kerusakan bagi tubuh. 

Hipoksia ini bisa dipicu oleh beragam hal, contohnya penyakit paru-paru, infeksi yang menyebabkan sepsis, penyakit jantung, penyakit akibat ketinggian, terjebak di kebakaran, tenggelam, hingga berada di tempat dengan suhu yang dingin. 

Lantas, apa saja dampak hipoksia bagi tubuh? Apa saja komplikasi hipoksia yang perlu diwaspadai? 

Baca juga: Mengidap Hipoksia, Ketahui 3 Cara Pengobatannya

Dari Vertigo sampai Kematian

Pada dasarnya, terdapat beragam komplikasi hipoksia yang bisa terjadi pada tubuh. Komplikasi ini bisa muncul akibat pemberian oksigen untuk menangani hipoksia. Hati-hati, pemberian oksigen secara berlebihan (hiperoksia) dapat meracuni jaringan tubuh dan menyebabkan:

  1. Vertigo.
  2. Perubahan perilaku.
  3. Katarak.
  4. Gangguan sistem pernapasan.
  5. Kejang.

Hal sebaliknya juga berlaku, penurunan kadar oksigen yang dibiarkan tanpa penanganan juga bisa memicu kondisi serius, seperti: 

  1. Kerusak sel atau jaringan tubuh.
  2. Kerusakan organ-organ tubuh seperti otak.
  3. Koma. 

Menurut ahli di National Institutes of Health - MedlinePlus, komplikasi hipoksia pada otak (hipoksia serebral) dapat menempatkan seseorang dalam keadaan vegetatif yang berkepanjangan.

Artinya, orang tersebut mungkin memiliki fungsi kehidupan dasar, seperti pernapasan, tekanan darah, siklus tidur-bangun, dan membuka mata, namun dirinya tidak dapat merespons lingkungan di sekitarnya. 

Orang yang berada dalam kondisi ini biasanya meninggal dalam waktu satu tahun, tapi ada juga beberapa di antaranya yang mungkin bertahan lebih lama. Hati-hati, hipoksia serebral ini juga bisa memicu komplikasi lainnya, seperti gumpalan di pembuluh darah, infeksi paru-paru (pneumonia), dan malnutrisi.

Hal yang perlu digarisbawahi, sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Saking sensitifnya, beberapa sel-sel otak mulai mati kurang dari lima menit setelah suplai oksigen menghilang. Mau tahu dampaknya? Hipoksia pada otak dapat dengan cepat menyebabkan kerusakan otak yang parah, koma, hingga berujung pada kematian. 

Baca juga: Penyebab Hipoksia yang Berdampak pada Fungsi Tubuh

Beragam Perubahan pada Tubuh

Ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen, maka tubuh tidak dapat menjalankan fungsinya dengan normal. Nah, dalam kondisi ini akan muncul berbagai gejala hipoksia yang bisa dialami oleh pengidapnya, yaitu: 

  • Masalah pernapasan seperti sesak napas, napas cepat, batuk, dan mengi.
  • Masalah kardiovaskular seperti denyut jantung yang cepat.
  • Pada saraf pusat dapat memicu nyeri kepala, linglung, dan penurunan kesadaran.
  • Perubahan warna kulit dari biru ke merah ceri.
  • Gejala lainnya seperti gelisah, berkeringat, dan lemas.
  • Pada bayi dan anak, muncul gejala seperti lemas, lesu, rewel, gusar, tidak fokus, dan gelisah.

Bagaimana dengan gejala hipoksia pada bagian otak? Seseorang yang mengalami kondisi ini biasanya menunjukkan gejala, seperti: 

  • Kehilangan memori, bisa terjadi sementara.
  • Kemampuan untuk menggerakan tubuh menurun.
  • Sulit membuat keputusan.
  • Sulit untuk memperhatikan sesuatu.

Gejala hipoksia serebral yang parah meliputi:

  • Kejang.
  • Koma.
  • Kematian otak.

Baca juga: Koma Bisa Terjadi Bertahun-Tahun, Mengapa?

Segera temui atau tanyakan pada dokter untuk mendapatkan penanganan dan saran yang tepat bila mengalami gejala-gejala di atas. Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Cerebral hypoxia
Healthline. Diakses pada 2020. Brain Hypoxia
Drugs. Diakses pada 2020. Hypoxia. 
Verywell Health. Diakses pada 2020. Overview and Types of Hypoxia.