• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 9 Kondisi yang Tingkatkan Risiko Epidural Hematoma

9 Kondisi yang Tingkatkan Risiko Epidural Hematoma

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Jangan pernah abaikan trauma atau cedera yang memengaruhi kepala. Pasalnya, cedera dibagian kepala bisa menyebabkan kondisi yang disebut epidural hematoma. Kondisi ini terjadi ketika munculnya gumpalan darah di ruang antara tengkorak dan selubung pelindung otak akibat ada lapisan otak, jaringan, dan pembuluh darah yang robek. 

Epidural hematoma dapat memberi tekanan pada otak dan menyebabkan otak membengkak. Tekanan dan kerusakan pada jaringan otak kemudian dapat memengaruhi penglihatan, ucapan, mobilitas dan kesadaran pengidapnya. Jika tidak diobati, epidural hematoma dapat menyebabkan kerusakan otak yang berlangsung lama bahkan kematian.

Baca juga: Beda Epidural Hematoma dan Subdural Hematoma

Faktor Risiko Epidural Hematoma

Epidural hematoma sering disebabkan oleh trauma atau cedera kepala. Nah, berikut sejumlah kondisi yang meningkatkan risiko seseorang mengalami epidural hematoma:

  • Lansia yang cenderung mengalami penurunan keseimbangan atau mengidap penyakit tertentu yang berisiko menyebabkan jatuh.
  • Kesulitan berjalan.
  • Pernah mengalami trauma di kepala.
  • Minum obat pengencer darah.
  • Minum alkohol yang dapat menurunkan kesadaran, sehingga meningkatkan risiko terjatuh.
  • Orang-orang yang pekerjaannya berisiko tinggi mengalami kecelakaan.
  • Tidak memakai helm pelindung selama pekerjaan.
  • Tidak memakai sabuk pengaman saat berkendara.
  • Atlet olahraga yang berisiko jatuh, seperti senam.

Apabila kamu salah satu orang dengan kondisi di atas dan ingin tahu lebih lanjut seputar epidural hematoma, kamu bisa bertanya-tanya lebih dalam dengan dokter lewat aplikasi Halodoc. Tidak perlu repot ke rumah sakit, lewat Halodoc kamu bisa menghubungi dokter kapan dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Baca juga: Mirip Memar Kemerahan, Kenali 10 Jenis Hematoma Ini

Gejala Epidural Hematoma yang Perlu Diwaspadai

Gejala epidural hematoma berkembang dengan cepat setelah cedera, sehingga kondisi ini sering membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan gejala tergantung pada tingkat keparahan cedera dan seberapa cepat darah mengisi lapisan antara otak dan tengkorak. Beberapa tanda dan gejala epidural hematoma yang harus diwaspadai adalah:

  • Muntah.
  • Kebingungan.
  • Kejang.
  • Kehilangan penglihatan di satu sisi.
  • Pusing.
  • Pernapasan cepat.
  • Mual.
  • Sakit kepala parah.
  • Kelemahan di salah satu bagian tubuh.
  • Pupil membesar di satu mata.
  • Mengantuk atau kehilangan kewaspadaan.

Apabila tidak segera ditangani, seseorang yang mengalami epidural hematoma mungkin kehilangan kesadaran atau koma.

Pengobatan Epidural Hematoma

Jika dokter curiga bahwa orang tersebut mengalami epidural hematoma, dokter segera melakukan tes pencitraan, seperti CT scan, MRI, atau elektroensefalogram. Pemindaian ini akan membantu dokter melihat perdarahan di otak. Perawatan untuk epidural hematoma tergantung pada tingkat keparahan cedera dan kesehatan individu secara keseluruhan, serta adanya cedera atau penyakit lain.

Dalam banyak kasus, dokter perlu melakukan salah satu dari dua prosedur pembedahan untuk mengeluarkan darah dari otak. Kraniotomi sering dipilih untuk kasus hematoma yang parah. Dalam prosedur ini, bagian tengkorak diangkat sementara untuk menghilangkan hematoma. 

Jika tidak begitu parah, dokter kemungkinan akan merekomendasikan aspirasi. Aspirasi dilakukan dengan mengebor tengkorak untuk menghasilkan lubang kecil, sehingga darah pun bisa disedot melalui lubang tersebut. Penggunaan obat-obatan umumnya diresepkan sebelum dan sesudah operasi. 

Baca juga: Waspada, Epidural Hematoma Dapat Menyerang Tulang Belakang

Sebelum operasi, pengidap biasanya membutuhkan agen hiperosmotik untuk membantu mengurangi peradangan dan pembengkakan di otak. Setelah operasi, dokter kemungkinan akan meresepkan obat anti kejang, yang dapat diminum selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah cedera. Selain itu, dokter mungkin meresepkan atau merekomendasikan obat pereda nyeri atau obat anti-inflamasi untuk memudahkan pemulihan.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Epidural Hematoma.
Medical News Today. Diakses pada 2020. What is an epidural hematoma?.