• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alami Campak, Bolehkah Tetap Terkena Air?

Alami Campak, Bolehkah Tetap Terkena Air?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention disebutkan kalau campak adalah virus yang sangat menular yang hidup di lendir hidung dan tenggorokan orang yang terinfeksi. 

Penyebarannya dapat terjadi melalui batuk dan bersin. Selain itu, virus campak dapat hidup,  hingga dua jam di wilayah udara tempat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Pengidap campak tetap boleh terkena air ataupun mandi. Informasi selengkapnya mengenai campak bisa dibaca di bawah ini!

Perawatan dan Penanganan Campak

Alami campak, bolehkah anak terkena air? Tadi sudah disinggung kalau pengidap campak boleh terkena air, bahkan mandi. Namun, perhatikan juga kondisinya, jika merasa kedinginan ada baiknya menggunakan air hangat. Untuk anak-anak, bisa dengan dilap saja badannya dengan handuk lembut berbahan nyaman dan aman.

Baca juga: Ini Alasan Orang Dewasa Perlu Diberikan Virus Campak

Pengidap campak perlu beristirahat yang cukup serta tetap terhidrasi. Minumlah banyak air, jus buah, dan teh herbal untuk menggantikan cairan yang hilang karena demam dan berkeringat. Jika mengalami gangguan pernapasan ringan, gunakan pelembap untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan.

Terkadang cahaya yang terlalu terang membuat sulit untuk beristirahat, jaga pencahayaan lampu secukupnya. Hindari membaca atau menonton televisi jika cahaya dari lampu baca atau dari televisi mengganggu.

Selain perawatan rumahan biasanya, perawatan medis yang dilakukan untuk orang dengan campak, meliputi konsumsi obat yang dapat membantu meredakan demam yang disertai campak. Kemudian, juga konsumsi antibiotik yang dilakukan untuk mencegah perkembangan infeksi bakteri, seperti radang paru-paru atau infeksi telinga yang mungkin terjadi.

Mengonsumsi vitamin A juga disarankan. Soalnya anak-anak dengan tingkat rendah vitamin A lebih cenderung mengalami campak, bahkan lebih parah. Butuh informasi lebih detail mengenai penanganan campak, bisa ditanyakan langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc.  

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Fakta dan Komplikasi Campak

Tadi sudah disinggung kalau anak yang kekurangan vitamin A sangat rentan terhadap campak. Kerentanan akan campak ini juga dapat memicu komplikasi mulai dari infeksi telinga, bronkitis, radang tenggorokan, hingga croup.

Campak dapat menyebabkan peradangan kotak suara (laring) atau radang dinding bagian dalam yang melapisi saluran udara utama paru-paru (saluran bronkial). Pneumonia adalah komplikasi umum dari campak. Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu dapat mengembangkan jenis pneumonia yang sangat berbahaya yang kadang-kadang juga bisa berakibat fatal.

Baca juga: Bisakah Orang Terkena Campak Lebih dari Sekali?

Campak juga bisa mengakibatkan komplikasi radang otak. Jika kamu sedang hamil, campak bisa menyebabkan masalah pada kehamilan. Mulai dari kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah sampai dengan kematian ibu.

Jika seseorang di rumah mengalami campak, lakukan tindakan pencegahan ini untuk melindungi keluarga:

  1. Isolasi

Karena campak sangat menular dari sekitar empat hari sebelum sampai empat hari setelah ruam pecah, orang dengan campak tidak boleh beraktivitas dengan orang lain selama periode ini.  

  1. Vaksinasi

Pastikan bahwa siapa pun yang berisiko terkena campak yang belum sepenuhnya divaksinasi menerima vaksin campak sesegera mungkin. Ini termasuk bayi yang berusia lebih dari 6 bulan dan siapa saja orang dewasa yang belum divaksin atau belum pernah mengalami pernah campak sebelumnya.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Transmission of Measles.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Measles.