• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • WHO Ubah Social Distancing menjadi Physical Distancing, Apa Alasannya?

WHO Ubah Social Distancing menjadi Physical Distancing, Apa Alasannya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengubah frasa “social distancing” menjadi “physical distancing”. Social distancing merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus corona penyebab COVID-19. 

Social distancing adalah tindakan yang tidak memperkenankan seseorang berjabat tangan, dan menjaga jarak setidaknya satu meter saat berinteraksi dengan orang lain.  

Social distancing punya beberapa contoh. Mulai dari bekerja dari rumah (work from home), belajar di rumah bagi pelajar, menunda pertemuan atau acara yang dihadiri banyak orang, hingga tidak mengunjungi orang yang sedang sakit (cukup melalui telepon atau video call). Nah, lewat social distancing diharapkan penyebaran virus corona bisa diperlambat, bahkan dihentikan. 

Pertanyaannya, mengapa WHO mengganti frasa “social distancing” menjadi “physical distancing”? 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Jangan Memutus Kontak Sosial

Frasa social distancing boleh dibilang menjadi perintah untuk berdiam diri di rumah. Tujuannya untuk mencegah penyebaran virus corona. Akan tetapi, penggunaan frasa ini dinilai kurang pas. Ini karena, social distancing bisa disalahartikan dengan, memutus kontak dengan teman atau keluarga secara sosial. Padahal, kontak sosial juga tak kalah penting di tengah-tengah pandemi COVID-19.

Nah, dengan diubahnya social distancing menjadi physical distancing oleh WHO, diharapkan masyarakat global menjaga jarak fisik. Bukannya memutus kontak sosial dengan keluarga atau orang lainnya. 

Menurut Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis untuk respons COVID-19, sekaligus kepala unit penyakit dan zoonosis di WHO, saat ini berdiam di rumah atau mengurangi aktivitas publik lainnya, dapat membantu kita untuk terhindar dari penularan virus corona.

Maria juga menegaskan, physical distancing bukanlah menjaga jarak sosial, tetapi jarak fisik. "Namun, menjaga jarak fisik bukan berarti kita memutus hubungan sosial dengan orang yang kita cintai, dari keluarga kita," ujarnya dalam dokumen resmi WHO, Emergencies Press Conference on coronavirus disease outbreak - 20 March 2020

Kesehatan Mental Tak Kalah Penting

Selama masa sulit pandemi COVID-19, penting untuk terus menjaga kesehatan fisik dan mental. Keduanya bisa membantu kita untuk melawan COVID-19, bahkan ketika tubuh telah terinfeksi corona virus. Itulah saran yang dikatakan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam dokumen di atas. 

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental di tengah pandemi COVID-19 dan physical distancing. Mulai dari melakukan teknik relaksasi, beryoga, mendengarkan musik, membaca buku, dan berbagi kisah dengan orang lain yang kita percaya. 

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

Tak hanya Tedros saja, Maria pun juga mengamini hal yang sama. Menurutnya kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik di tengah pandemi ini. "Kami mengganti frasa menjadi physical distancing karena kami ingin orang-orang tetap berhubungan," ujarnya.

Nah, disinilah peran teknologi yang dapat menghubungkan kita dengan orang lain, meski terpisah jarak fisik. Jadi, kita bisa memanfaatkan internet dan teknologi untuk tetap terhubung dengan orang lain.

Perlu Dibarengi Strategi Lain

Melawan COVID-19 tak hanya cukup mengandalkan physical distancing. Menurut pakar WHO lainnya, Michael Ryan, Direktur Eksekutif Masalah Kedaruratan Kesehatan di WHO, harus ada tindakan lain untuk menangani virus corona. Seperti apa? 

Dirinya mengatakan, mengidentifikasi kasus dan melacak kontaknya (tracking contact), merupakan cara lain yang terus harus dilakukan. Cara ini bisa memisahkan virus dari populasi, sehingga kecepatan penularannya bisa diperlambat. 

Namun, bila penyakit ini telah mencapai tingkat tertentu, terutama dalam penularan komunitas, dan tak mungkin lagi mengidentifikasi semua kasus atau semua kontak, maka kita perlu memisahkan semua orang dari orang lain. Di sinilah peran physical distancing. Physical distancing dilakukan karena kita tak tahu persis siapa yang mungkin telah terinfeksi. 

Baca juga: Cek Risiko Tertular Virus Corona secara Online di sini

Ahli tersebut juga mengatakan, bila penemuan kasus (tracing), isolasi, mengkarantina yang diduga terinfeksi terus-menerus dilakukan, maka penerapan physical distancing tak perlu dilakukan secara ekstrim. 

Michael menyebut Singapura sebagai contohnya. Negara tersebut benar-benar berkomitmen pada konsep penyelidikan kasus, investigasi cluster, isolasi kasus, dan karantina. Michael mengatakan, pemerintah di sana benar-benar “terjebak” pada tugas itu. 

Nah, berkat strategi ini pemerintah di Singapura tak perlu menutup sekolah-sekolah di sana. Kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung. Physical distancing tak perlu diterapkan secara ekstrim. 

Yuk, pastikan sakitmu bukan karena virus corona. Bila dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit. Kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
WHO. Diakses pada 2020. Emergencies Press Conference on coronavirus disease outbreak - 20 March 2020.
BBC. Diakses pada 2020. Why social distancing might last for some time.