Ad Placeholder Image

Anak Menangis Tanpa Henti setelah Imunisasi, Orangtua Harus Apa?

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

"Setelah melakukan imunisasi, anak bisak mendadak jadi rewel atau bahkan menangis tanpa henti. Jika ini terjadi, ibu bisa menciptakan lingkungan yang nyaman dan memenuhi kebutuhan cairan Si Kecil. "

Anak Menangis Tanpa Henti setelah Imunisasi, Orangtua Harus Apa?Anak Menangis Tanpa Henti setelah Imunisasi, Orangtua Harus Apa?

DAFTAR ISI


Imunisasi adalah salah satu langkah kesehatan paling penting yang bisa diberikan oleh orang tua untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit menular dan berbahaya. Saat mendapatkan vaksinasi, tubuh bayi akan diperkenalkan pada antigen atau bentuk lemah dari virus maupun bakteri, sehingga sistem kekebalan tubuhnya dapat belajar memproduksi antibodi. Dengan begitu, ketika suatu saat bayi terpapar penyakit yang sebenarnya, tubuhnya sudah siap memberikan perlindungan maksimal.

Meskipun manfaat imunisasi sangat luar biasa, proses ini tidak jarang menimbulkan efek samping ringan pada bayi. Efek samping yang paling sering muncul adalah demam ringan, rasa nyeri pada area suntikan, hingga perubahan suasana hati bayi yang tiba-tiba menjadi lebih rewel dari biasanya. Kondisi ini wajar terjadi karena menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh Si Kecil sedang merespons vaksin yang masuk dan bekerja sebagaimana mestinya.

Namun, melihat bayi terus-menerus menangis dan merasa tidak nyaman tentu bisa membuat orang tua panik dan cemas. Terlebih bagi ibu baru, menghadapi bayi yang rewel setelah pulang dari klinik atau rumah sakit bisa menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah pentingnya bagi orang tua untuk membekali diri dengan pengetahuan seputar manajemen nyeri dan kenyamanan bayi pasca imunisasi.

Oleh karena itu, kamu tidak perlu terlalu khawatir. Ada berbagai panduan medis yang aman dan efektif untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut. Nah, mau tahu apa saja cara agar bayi tidak rewel setelah imunisasi? Berikut ulasan lengkapnya!

Penyebab Bayi Rewel Setelah Imunisasi

Sebelum mengetahui cara mengatasinya, kamu perlu memahami terlebih dahulu mengapa bayi bisa menjadi sangat rewel setelah mendapatkan suntikan vaksin. Secara medis, ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu munculnya perubahan suasana hati dan ketidaknyamanan pada bayi pasca imunisasi, di antaranya:

1. Nyeri pada Area Suntikan (Reaksi Lokal)

Mayoritas vaksin diberikan melalui suntikan intramuskular (ke dalam otot) pada bagian paha depan untuk bayi, atau lengan atas untuk anak yang lebih besar. Masuknya jarum suntik serta cairan vaksin dapat menyebabkan peradangan lokal. Area di sekitar bekas suntikan bisa menjadi merah, sedikit membengkak, terasa hangat, dan nyeri jika tersentuh. Rasa ngilu pada otot inilah yang membuat bayi merasa tidak nyaman saat bergerak, sehingga ia mengekspresikannya dengan menangis.

2. Demam Sebagai Respon Sistemik

Reaksi paling umum kedua adalah demam. Demam bukanlah sebuah penyakit, melainkan respons alami tubuh yang menandakan bahwa sel-sel darah putih sedang bekerja melawan antigen dari vaksin untuk membentuk antibodi. Beberapa vaksin seperti DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) dikenal lebih sering memicu demam pada bayi dibandingkan vaksin lainnya. Kenaikan suhu tubuh ini membuat bayi merasa pusing, lemas, dan tidak enak badan.

3. Keletihan dan Rasa Kantuk Berlebih

Proses pembentukan kekebalan tubuh menguras energi bayi. Akibatnya, bayi bisa merasa sangat lelah, lesu, dan jam tidurnya menjadi sedikit terganggu. Beberapa bayi mungkin tidur lebih lama dari biasanya, sementara yang lain justru sulit tidur nyenyak karena rasa nyeri. Gangguan siklus tidur ini berkontribusi besar pada sifat rewel dan tangisannya.

4. Faktor Psikologis dan Trauma Ringan

Selain reaksi fisik, bayi juga bisa merasakan ketakutan secara psikologis. Suasana klinik yang asing, dipegang dengan kuat oleh perawat atau dokter, serta rasa sakit yang tiba-tiba dari tusukan jarum bisa membuat bayi terkejut. Stres dan rasa takut ini sering kali terbawa hingga bayi tiba di rumah.

Cara Agar Bayi Tidak Rewel Setelah Imunisasi

Menghadapi bayi yang menangis tanpa henti memerlukan kesabaran ekstra. Jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan, kamu bisa menerapkan beberapa cara agar bayi tidak rewel setelah imunisasi berikut ini:

1. Perbanyak Pemberian ASI atau Susu Formula

Menyusui adalah salah satu cara paling ampuh untuk menenangkan bayi yang sedang menangis. Saat bayi mengisap puting ibu, tubuhnya akan melepaskan hormon endorfin yang bertindak sebagai pereda nyeri alami. Selain itu, rasa manis pada ASI dan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) antara ibu dan bayi memberikan efek penenang yang signifikan. Jika bayi minum susu formula, tawarkan susu lebih sering untuk memastikannya tetap terhidrasi, terutama jika ia sedang mengalami demam.

2. Berikan Kompres Dingin pada Area Bekas Suntikan

Jika kamu melihat area paha atau lengan bayi yang disuntik tampak kemerahan dan bengkak, segera berikan kompres dingin. Basahi kain bersih atau waslap dengan air dingin (bukan air es), peras hingga lembap, lalu tempelkan secara perlahan di atas area suntikan selama 10 hingga 15 menit. Sensasi dingin ini akan menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga efektif mengurangi pembengkakan dan mematikan saraf nyeri untuk sementara waktu. Lakukan secara berkala sesuai kebutuhan bayi.

3. Gendong dan Berikan Ayunan Lembut

Stimulasi vestibular melalui ayunan lembut sangat disukai bayi karena mengingatkan mereka pada suasana nyaman saat masih berada di dalam rahim ibu. Gendong bayi dengan posisi tegak di dada atau posisi menopang kepala. Berjalanlah perlahan sambil mengayun-ayunkannya dengan lembut. Kamu juga bisa sambil menyanyikan lagu nina bobo, menepuk pelan punggungnya, atau membunyikan suara “shhh” di dekat telinganya untuk menetralkan rasa sakitnya.

4. Pakaikan Baju yang Longgar dan Menyerap Keringat

Ketika bayi mengalami demam pasca imunisasi, banyak orang tua yang refleks memakaikan jaket atau menyelimuti bayi dengan tebal karena takut kedinginan. Secara medis, tindakan ini justru keliru. Pakaian tebal akan memerangkap panas tubuh sehingga suhu bayi akan semakin tinggi. Sebaiknya, pakaikan baju berbahan katun yang longgar, tipis, dan menyerap keringat. Biarkan sirkulasi udara di tubuhnya berjalan lancar agar panas tubuhnya bisa keluar dan menguap.

5. Alihkan Perhatian dengan Mainan

Untuk bayi yang sudah berusia di atas 3 bulan, mengalihkan perhatian adalah trik yang cukup efektif. Berikan mainan favoritnya, bacakan buku cerita yang penuh warna, atau putarkan musik yang menenangkan. Mengajak bayi berinteraksi dan bermain ringan dapat mengalihkan fokus otaknya dari rasa nyeri di area suntikan ke hal-hal yang lebih menyenangkan.

6. Pemberian Obat Pereda Nyeri dan Penurun Panas

Jika suhu tubuh bayi meningkat melebihi 38 derajat Celcius atau tangisannya tidak bisa ditenangkan dengan cara alami, pemberian obat bisa dipertimbangkan. Jika demam anak cukup mengganggu, ibu bisa beli obat penurun panas yang mengandung paracetamol, namun pastikan untuk selalu mengecek label kemasan atau berkonsultasi dengan tenaga medis terkait dosis yang tepat. Dosis paracetamol untuk bayi biasanya ditentukan berdasarkan berat badannya, bukan usianya.

Tips Persiapan Sebelum Membawa Bayi Imunisasi
  1. Pastikan bayi dalam keadaan sehat. Jika bayi sedang demam tinggi atau diare berat, jadwalkan ulang imunisasinya.
  2. Susui bayi sebelum berangkat agar perutnya kenyang dan ia tidak rewel karena lapar di perjalanan.
  3. Bawa mainan favorit atau selimut kesayangannya untuk memberikan rasa aman selama di ruang periksa.
  4. Orang tua harus tetap tenang. Bayi bisa merasakan kecemasan dari detak jantung dan ketegangan otot ibunya. Jika ibu rileks, bayi pun akan merasa lebih aman.

Hal yang Harus Dihindari Setelah Imunisasi

Selain melakukan tindakan yang dianjurkan, ada beberapa kesalahan umum yang kerap dilakukan orang tua yang justru bisa memperburuk kondisi bayi. Berikut hal-hal yang pantang dilakukan:

1. Memijat Bekas Suntikan

Meski niatnya ingin meredakan pegal, memijat atau menekan area bekas suntikan sangat dilarang. Pijatan pada area ini bisa menyebabkan peradangan semakin parah, merusak jaringan otot di sekitarnya, dan bahkan memicu pembentukan abses (benjolan berisi nanah).

2. Memberikan Obat Aspirin

Jangan pernah memberikan obat yang mengandung aspirin pada bayi atau anak-anak di bawah usia 12 tahun untuk menurunkan demam. Aspirin dapat memicu sindrom Reye, yaitu kondisi medis langka namun sangat mematikan yang menyebabkan pembengkakan pada organ hati dan otak.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Meskipun rewel dan demam ringan adalah efek yang sangat lumrah, ada batasan toleransi yang harus diwaspadai oleh orang tua. Kondisi ini dinamakan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang bersifat serius. Kamu harus segera bertindak jika bayi menunjukkan gejala-gejala berbahaya.

Jangan ragu untuk konsultasi ke dokter spesialis anak jika bayi menangis menjerit dengan nada tinggi secara terus-menerus (inconsolable crying) selama lebih dari 3 jam. Selain itu, perhatikan juga suhu tubuhnya. Jika demam mencapai lebih dari 39 derajat Celcius dan tidak kunjung turun meski sudah diberi obat pereda panas, segera cari pertolongan medis.

Gejala kedaruratan lain yang perlu diwaspadai meliputi bayi terlihat sangat pucat, lemas tidak berdaya, tidak mau menyusu sama sekali, mengalami kejang, atau muncul reaksi alergi parah (anafilaksis) seperti sesak napas, pembengkakan pada wajah dan tenggorokan, serta ruam merah yang menyebar cepat ke seluruh tubuh. Meski reaksi ini sangat langka, penanganan medis instan adalah kewajiban.

Studi Mengenai Efek Samping Imunisasi

Berbagai literatur medis telah banyak mengkaji tentang respon stres dan nyeri bayi pasca tindakan medis. Cochrane Database of Systematic Reviews menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa pemberian ASI sebelum, selama, dan sesudah prosedur penyuntikan jarum sangat efektif dalam mengurangi rasa sakit pada neonatus dan bayi. Studi tersebut menganalisis bahwa rasa manis, kontak fisik, dan hormon yang terlibat selama proses menyusui memberikan efek analgesik alami.

Selain itu, rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan bahwa langkah-langkah non-farmakologis, seperti pelukan, gendongan, dan kompres dingin yang tepat, harus menjadi garis pertahanan pertama bagi orang tua di rumah untuk mengatasi ketidaknyamanan bayi pasca vaksinasi sebelum beralih ke obat-obatan kimia.

Sebagai kesimpulan, tangisan dan sikap rewel bayi setelah disuntik vaksin merupakan hal yang wajar dan umumnya bersifat sementara, yakni berlangsung sekitar 1 hingga 2 hari. Pendekatan dengan penuh kasih sayang, kesabaran, serta pengetahuan medis yang tepat akan sangat membantu mempercepat proses pemulihan kenyamanan Si Kecil.

Jika kondisi bayi tidak membaik atau muncul gejala-gejala yang mengkhawatirkan, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan keamanannya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Immunization Stress-Related Responses.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Vaccine Side Effects and Comfort Measures.
Cochrane Database of Systematic Reviews. Diakses pada 2024. Breastfeeding or breast milk for procedural pain in neonates.

FAQ

1. Berapa lama biasanya bayi rewel setelah imunisasi?

Sebagian besar bayi hanya akan mengalami efek rewel dan demam ringan selama 1 hingga 2 hari pasca penyuntikan. Setelah masa tersebut, efek peradangan lokal umumnya akan mereda dan bayi kembali ceria seperti biasa.

2. Bolehkah bayi langsung dimandikan setelah imunisasi?

Boleh. Memandikan bayi menggunakan air hangat justru bisa membantu merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang dan menurunkan suhu jika ia demam. Pastikan memandikannya dengan cepat dan segera keringkan tubuhnya agar tidak kedinginan.

3. Apakah semua jenis imunisasi pasti menyebabkan bayi demam dan rewel?

Tidak semua. Beberapa vaksin seperti vaksin polio tetes (oral) sangat jarang menimbulkan demam. Reaksi demam yang cukup signifikan biasanya lebih sering terjadi pasca imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) atau campak.

4. Apakah normal jika bayi tidur terus setelah imunisasi?

Ya, sangat normal. Tidur adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh bayi untuk memulihkan energi yang terkuras akibat sistem imun yang sedang bekerja keras membentuk antibodi. Pastikan saja bayi tetap dibangunkan secara berkala untuk disusui agar asupan cairan dan nutrisinya terpenuhi.