• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Pemarah, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Anak Pemarah, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Kata siapa sifat pemarah hanya dimiliki oleh orang dewasa saja? Jangan salah, tidak sedikit anak yang suka marah-marah, atau tumbuh menjadi pribadi yang pemarah. Meski kemarahan adalah emosi yang normal dan berguna, tapi sifat pemarah tidak demikian. Alasannya, sifat ini bisa merugikan diri anak dan orang-orang di sekitarnya. Apalagi, kalau kemarahan yang timbul menjadi tak terkendali atau agresif. 

Nah, pertanyaannya bagaimana cara mengatasi anak yang pemarah

Baca juga: Anak Mudah Marah dan Tersinggung, Hati-Hati Gejala ODD

1.Ajari Anak Tentang Perasaan

Cara mengatasi anak yang suka marah-marah bisa diawali dengan mengajari mereka mengenai perasaan. Anak-anak cenderung marah atau ‘menyerang’, ketika mereka tidak memahami perasaan mereka, atau tidak dapat mengungkapkannya secara verbal. 

Seorang anak yang tidak bisa berkata "Aku marah!" mungkin mencoba untuk menunjukkan dengan sikap ‘menyerang’. Atau seorang anak yang tidak dapat menjelaskan bahwa mereka sedang sedih, mungkin berperilaku tidak baik untuk menarik perhatian ibu.

Nah, untuk membantu anak belajar mengidentifikasi perasaan, mulailah dengan mengajarkan kata-kata perasaan dasar pada mereka. Contohnya seperti "marah", "sedih", "bahagia", dan "takut".

Jelaskan arti perasaan tersebut dengan cara kreatif atau yang mudah mereka mengerti. Misalnya dengan menggunakan gambar-gambar yang melukiskan emosi (gambar orang tersenyum, cemberut, marah, dll.).

Seiring waktu, mereka akan belajar untuk mengerti emosi yang mereka rasakan. Ketika anak mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang emosi dan bagaimana menggambarkannya, ajarkan mereka kata-kata perasaan yang lebih dalam. Contoh kecewa, frustasi, khawatir, atau kesepian. 

2.Hadapi Amarah Bersama

Cara menghadapi anak yang suka marah-marah bisa melalui tips ini. Cobalah untuk hadapi dan bekerja sama dengan anak untuk membantu mereka mengatasi amarahnya. Dengan begitu, ibu bisa memberitahu bahwa kemarahan adalah masalahnya, bukanya diri mereka. 

Untuk anak-anak yang lebih kecil, ibu bisa kok berimprovisasi saat membantu anak mengatasi amarahnya. Contohnya, memberi nama amarah dan cobalah menggambarkannya.

Misalnya, amarah bisa dilukiskan sebagai gunung berapi yang pada akhirnya dapat meledak. Hal yang perlu diingat, cara ibu menghadapi amarah bisa memengaruhi cara anak untuk menghadapi amarahnya. 

Baca juga: Ibu Mudah Marah Bisa Berdampak pada Karakter Anak, Benarkah?

3.Membantu Mereka Mengenali Tanda-Tandanya

Cara mengatasi anak yang pemarah juga bisa dengan membantunya untuk mengenali tanda-tanda kemarahan. Mampu mengenali tanda-tanda kemarahan sejak dini membantu anak untuk membuat keputusan yang lebih positif tentang cara menanganinya.

Bicarakan mengenai apa yang anak rasakan ketika mereka mulai marah. Ibu bisa membantu mereka untuk mengenali tanda-tandanya, yaitu: 

  • Jantung mereka berdetak lebih cepat.
  • Otot tubuh menjadi tegang.
  • Mengatupkan gigi.
  • Mengepalkan tangan.

4.Ajarkan Teknik Mengatasi Kemarahan

Terakhir, cara mengatasi anak yang suka marah-marah bisa dengan mengajari dirinya mengenai teknik atau manajemen mengatasi kemarahan. Salah satu cara terbaik untuk membantu anak yang sedang marah yaitu mengajari mereka teknik pengelolaan amarah yang spesifik. 

Misalnya dengan teknik pernapasan. Ajari mereka untuk menarik napas dalam-dalam, untuk membantu menenangkan pikiran dan tubuhnya ketika sedang kesal atau marah. Hal yang perlu diingat, beberapa anak membutuhkan cukup banyak latihan untuk menerapkan teknik ini. 

Banyak Pemicu Anak Suka Marah-Marah

Anak yang tumbuh menjadi pribadi pemarah sebenarnya bukan tanpa sebab. Banyak faktor pemicu yang bisa menyebabkan anak menjadi suka marah-marah. Menurut ahli di National Health Service UK, ada banyak hal yang memicu anak menjadi pemarah, yaitu: 

  • Melihat anggota keluarga lainnya berdebat atau marah satu sama lain.
  • Masalah pertemanan.
  • Ditindas atau menjadi korban bullying.  
  • Mengalami kesulitan dengan tugas atau ujian sekolah.
  • Merasa sangat stres, cemas atau takut tentang sesuatu.
  • Mengalami perubahan hormon selama masa pubertas.

Baca juga: Suka Marah-Marah Tanpa Sebab, Waspada Gangguan BPD

Pada beberapa kasus, mungkin ibu atau anak tidak mengetahui alasan mengapa anak menjadi pribadi pemarah. Jika itu masalahanya, ibu perlu membantu mereka untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kemarahan mereka. 

Bila ibu kesulitan mengalami hal ini, ibu bisa kok bertanya langsung pada psikolog melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi psikolog kapan saja dan di mana saja. Dengan begitu, ibu akan mendapatkan saran yang paling tepat dari ahlinya untuk menghadapi anak yang pemarah. 



Referensi:
National Health Service - UK. Diakses pada 2020. Dealing with child anger
Very Well Family. Diakses pada 2020. 7 Ways to Help a Child Cope With Anger