Ad Placeholder Image

Apa Arti Selingkuh? Kenali Batasan Hati dan Janji

11 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 September 2026

Kenali apa itu selingkuh beserta dampak psikologisnya, dan segera hubungi psikolog di Halodoc untuk bantu pulihkan trauma mentalmu.

Apa Arti Selingkuh? Kenali Batasan Hati dan JanjiApa Arti Selingkuh? Kenali Batasan Hati dan Janji

DAFTAR ISI


Ketika sebuah hubungan asmara atau pernikahan dilanda badai, salah satu pertanyaan yang sering kali muncul dan memicu perdebatan panjang adalah mengenai apa itu selingkuh. Bagi sebagian orang, berselingkuh mungkin hanya sebatas melakukan kontak fisik dengan orang lain di luar pasangan sah. Namun, bagi sebagian lainnya, saling berbalas pesan mesra atau menyembunyikan interaksi dengan lawan jenis sudah termasuk dalam kategori pengkhianatan yang fatal.

Penting untuk dipahami bahwa perselingkuhan bukan sekadar masalah moral atau dinamika hubungan semata, melainkan sebuah krisis yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya dapat memicu trauma mendalam, memengaruhi fungsi otak, dan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri serta dunia di sekitarnya. Kondisi ini sering kali menempatkan korban dalam situasi stres kronis yang memerlukan penanganan psikologis secara tepat.

Sebagai individu yang hidup di era modern dengan kemudahan akses komunikasi, batasan mengenai kesetiaan menjadi semakin bias. Hal inilah yang membuat pemahaman mengenai definisi, jenis, hingga dampak dari perselingkuhan menjadi sangat penting untuk dipelajari. Dengan mengenali akar masalahnya, kamu dapat lebih waspada dalam menjaga hubungan sekaligus melindungi kesehatan mentalmu sendiri.

Nah, mau tahu penjelasan medis dan psikologis mengenai apa itu selingkuh, dampaknya terhadap tubuh, serta bagaimana cara memulihkan diri dari trauma tersebut? Berikut ulasan selengkapnya!

Memahami Makna: Apa Itu Selingkuh?

Secara psikologis, jawaban dari pertanyaan apa itu selingkuh merujuk pada pelanggaran kesepakatan atau komitmen eksklusivitas (baik secara emosional maupun seksual) antara dua orang yang berada dalam sebuah hubungan romantis. Pelanggaran ini melibatkan adanya pihak ketiga, yang berujung pada hilangnya rasa percaya, kejujuran, dan keintiman di antara pasangan utama.

Para ahli psikologi hubungan menegaskan bahwa perselingkuhan selalu melibatkan tiga elemen utama: adanya rahasia (keterlibatan pihak ketiga yang disembunyikan), keterlibatan emosional (sekecil apa pun bentuknya), dan alkimia seksual (adanya ketertarikan atau ketegangan romantis/seksual). Oleh karena itu, batasan selingkuh sangat bergantung pada aturan tak tertulis atau kesepakatan yang telah dibuat oleh masing-masing pasangan.

Sebagai contoh, ada pasangan yang menganggap bahwa menonton film porno bukanlah sebuah perselingkuhan, namun ada pula yang menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan visual. Kesimpulannya, apa itu selingkuh adalah ketika kamu melakukan sesuatu secara diam-diam dengan orang lain (atau hal lain) yang kamu tahu akan menyakiti pasanganmu jika ia mengetahuinya.

Jenis-Jenis Perselingkuhan yang Perlu Diwaspadai

Perselingkuhan tidak selalu terwujud dalam satu bentuk. Seiring berkembangnya teknologi dan kompleksitas interaksi manusia, jenis perselingkuhan pun ikut berevolusi. Berikut adalah beberapa jenis perselingkuhan yang paling umum terjadi:

1. Perselingkuhan Fisik (Physical Infidelity)

Ini adalah bentuk perselingkuhan yang paling jelas dan sering dijadikan patokan tradisional. Perselingkuhan fisik melibatkan sentuhan badan hingga hubungan seksual dengan orang selain pasangan resmi. Tindakan ini tidak hanya merusak kepercayaan secara emosional, tetapi juga membawa risiko kesehatan yang nyata, seperti penularan infeksi menular seksual (IMS).

2. Perselingkuhan Emosional (Emotional Infidelity)

Sering kali dianggap lebih menyakitkan daripada perselingkuhan fisik. Perselingkuhan emosional terjadi ketika seseorang membangun keintiman emosional, berbagi rahasia terdalam, dan menginvestasikan waktu serta perasaannya kepada orang lain di luar pasangannya. Meski tidak ada kontak fisik, ikatan hati yang terbentuk dapat menghancurkan pondasi pernikahan atau hubungan asmara.

3. Perselingkuhan Siber (Cyber Infidelity)

Di era digital, perselingkuhan siber menjadi fenomena yang marak terjadi. Ini mencakup penggunaan aplikasi kencan, sexting (mengirim pesan atau foto sensual), hingga melakukan video call intim dengan orang lain di dunia maya. Banyak pelaku berdalih bahwa “itu tidak nyata karena tidak bertemu langsung,” padahal dampaknya terhadap mental pasangan sama merusaknya.

4. Micro-Cheating (Perselingkuhan Skala Kecil)

Ini adalah serangkaian tindakan kecil yang secara halus menunjukkan bahwa seseorang berfokus secara emosional atau fisik kepada orang di luar hubungannya. Contohnya termasuk menyembunyikan status hubungan di media sosial, rutin menyukai foto mantan kekasih dengan intensi tertentu, atau menyimpan kontak seseorang dengan nama samaran. Simak informasi lain mengenai Relationship – Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya di sini.

Tanda-Tanda Potensial Pasangan Berselingkuh
  1. Perubahan mendadak pada kebiasaan penggunaan ponsel (menjadi sangat rahasia, mengubah password, atau tidak pernah melepaskan ponsel).
  2. Penurunan drastis atau justru peningkatan keintiman seksual yang tidak biasa untuk menutupi rasa bersalah.
  3. Sering memicu pertengkaran tanpa alasan yang jelas sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri (defensive).
  4. Menarik diri secara emosional, tampak tidak tertarik dengan kegiatan bersama, dan sering melamun.
  5. Adanya perubahan drastis pada penampilan fisik atau kebiasaan pengeluaran keuangan yang tidak bisa dijelaskan.

Penyebab Mengapa Seseorang Bisa Selingkuh

Memahami apa itu selingkuh tidak akan lengkap tanpa menelaah akar penyebabnya. Sebagai tenaga kesehatan profesional, kami melihat bahwa perselingkuhan jarang sekali terjadi tanpa adanya pemicu psikologis yang mendasarinya. Beberapa faktor penyebab utama antara lain:

1. Rasa Tidak Puas dan Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi

Banyak kasus perselingkuhan berakar dari rasa frustrasi kronis dalam hubungan. Kebutuhan ini bisa berupa kebutuhan seksual yang tidak terpuaskan, atau lebih sering, kebutuhan akan apresiasi, validasi, dan kehangatan emosional. Ketika seseorang merasa diabaikan, mereka rentan mencari pemenuhan tersebut dari luar.

2. Rendahnya Rasa Percaya Diri (Low Self-Esteem)

Terkadang, selingkuh bukan tentang mencari pasangan yang lebih baik, melainkan mencari versi diri yang lebih baik. Seseorang dengan krisis percaya diri (misalnya saat memasuki usia paruh baya) mungkin berselingkuh untuk membuktikan bahwa dirinya masih menarik, berharga, dan diinginkan oleh orang lain.

3. Faktor Lingkungan dan Peluang

Peluang memainkan peran besar. Berada di lingkungan kerja dengan tingkat stres tinggi, sering melakukan perjalanan dinas, atau bergaul dengan lingkaran pertemanan yang mewajarkan perselingkuhan dapat menumpulkan batas moral seseorang, membuat perselingkuhan terasa lebih mudah dilakukan.

4. Gangguan Kepribadian dan Trait Psikologis

Dari sisi klinis, individu dengan ciri kepribadian tertentu, seperti narsistik tingkat tinggi atau mereka yang memiliki gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment style), memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak setia. Mereka sering memprioritaskan ego pribadi dan kesulitan membangun komitmen emosional yang mendalam tanpa merasa terancam.

Dampak Psikologis dan Fisik Akibat Perselingkuhan

Mengetahui bahwa pasangan berselingkuh adalah sebuah peristiwa traumatis. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya sekadar “patah hati”, melainkan memicu respons stres yang masif pada tubuh. Secara biologis, otak akan merespons pengkhianatan ini seperti ancaman terhadap kelangsungan hidup.

Korban perselingkuhan sering kali mengalami kondisi yang disebut sebagai Post-Infidelity Stress Syndrome (PISD), yang gejalanya sangat mirip dengan Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD). Gejala ini meliputi:

  • Intrusi Mental: Pikiran yang terus-menerus memutar kembali bayangan perselingkuhan, mimpi buruk, dan overthinking yang tidak terkendali. Pahami informasi lebih lanjut seputar Kesehatan Mental – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya di sini.
  • Gejala Fisik: Peningkatan hormon stres (kortisol dan adrenalin) menyebabkan jantung berdebar, gangguan tidur parah (insomnia), penurunan nafsu makan, masalah pencernaan, hingga kelelahan kronis.
  • Disregulasi Emosi: Perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari kesedihan mendalam, kemarahan yang meledak-ledak, hingga rasa mati rasa (numbness).
  • Krisis Identitas: Menurunnya harga diri secara drastis, merasa diri tidak berharga, cemas, dan berpotensi memicu depresi klinis.

Hubungi Psikolog di Halodoc Jika Kamu Butuh Teman Cerita

Jika kamu butuh teman bercerita, psikolog di Halodoc siap menjadi pendengar yang baik.

Mereka bisa memberi saran yang kamu butuhkan untuk menghadapi situasi sulit ini. 

Jangan khawatir, psikolog di Halodoc telah memiliki pengalaman dan memiliki rating yang baik dari para pasien yang telah ditangani sebelumnya.

Ini daftarnya: 

1. Veenu S.Psi, M.Psi, Psikolog

Pilihan psikolog yang dapat kamu hubungi, yaitu Veenu S.Psi, M.Psi, Psikolog.

Ia merupakan psikolog klinis yang mendapat gelarnya dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 2005 dan Universitas Gadjah Mada pada 2008. 

Veenu S.Psi, M.Psi, Psikolog, saat ini berpraktik di Kota Yogyakarta dan tergabung sebagai anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dengan nomor STR 152482223-4661009.

Dengan pengalaman 19 tahun yang dimiliki, ia mampu menjadi teman cerita yang baik untukmu.

Jadwalkan Sesi Konsultasi dengan Veenu S.Psi, M.Psi, Psikolog mulai dari Rp 115.000,- di Halodoc

2. Istiqomah S.Psi., M.Psi., Psikolog

Kamu juga bisa memilih Istiqomah S.Psi., M.Psi., Psikolog untuk menceritakan keluhan dan kendala yang sedang dialami.

Istiqomah S.Psi., M.Psi., Psikolog adalah lulusan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada 2021 dan 2024.

Saat ini, ia berpraktik di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dan tergabung sebagai anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dengan nomor STR HV00001614283517.

Dengan pengalaman 2 tahun yang dimiliki, Istiqomah S.Psi., M.Psi., Psikolog bisa menjadi teman cerita yang baik untukmu dalam menghadapi masa-masa sulit.

Jadwalkan Sesi Konsultasi dengan Istiqomah S.Psi., M.Psi., Psikolog mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc

3. Khadijah Amaliah S.Psi, M.Psi, Psikolog

Selanjutnya adalah Khadijah Amaliah S.Psi, M.Psi, Psikolog yang bisa kamu hubungi untuk menceritakan keluhanmu.

Ia merupakan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau pada 2011 dan juga Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada 2020.

Saat ini, ia berpraktik di Pekanbaru, Riau, dan tergabung sebagai anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dengan nomor STR HZ00001507139589.

Dengan pengalaman 5 tahun yang dimiliki, Khadijah Amaliah S.Psi, M.Psi, Psikolog bisa menjadi teman cerita yang baik untukmu dalam menghadapi masa-masa sulit.

Jadwalkan Sesi Konsultasi dengan Khadijah Amaliah S.Psi, M.Psi, Psikolog mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc

Jika psikolog sedang tidak tersedia atau offline, kamu tak perlu khawatir.

Sebab kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc atau berkonsultasi dengan dokter lainnya.

Tunggu apa lagi? Yuk pakai Halodoc sekarang!

Langkah Pemulihan dan Cara Mengatasinya

Setelah memahami sepenuhnya apa itu selingkuh beserta dampaknya, langkah paling krusial selanjutnya adalah proses pemulihan. Baik kamu memilih untuk berpisah maupun mencoba memperbaiki hubungan, pemulihan mental adalah prioritas utama.

1. Izinkan Diri untuk Berduka

Pengkhianatan adalah bentuk kehilangan—kehilangan sosok pasangan yang selama ini kamu kenal, kehilangan masa depan yang dibayangkan, dan kehilangan rasa aman. Jangan menekan emosimu. Menangis, marah, dan merasa hancur adalah respons yang sepenuhnya normal. Berikan waktu bagi dirimu untuk memproses duka ini tanpa terburu-buru mengambil keputusan besar.

2. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Reaksi paling umum dari korban selingkuh adalah bertanya, “Apa kurangnya diriku?” Ingatlah, perselingkuhan adalah seratus persen tanggung jawab dan pilihan sadar dari pelaku. Kekurangan dalam hubungan seharusnya dikomunikasikan, bukan dijadikan alasan untuk mengkhianati komitmen. Jangan biarkan tindakan buruk orang lain mendefinisikan nilai dirimu.

3. Fokus pada Perawatan Fisik dan Mental

Stres berat akan menguras cadangan energi dan nutrisi dalam tubuh. Pastikan kamu tetap terhidrasi, mencoba makan makanan bergizi meskipun nafsu makan menurun, dan menjaga pola tidur. Jika stres menyebabkan tubuhmu rentan sakit, kamu bisa beli suplemen atau vitamin melalui aplikasi kesehatan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan menstabilkan sistem saraf selama masa krisis ini.

4. Terapi Pasangan (Jika Memilih Bertahan)

Jika kedua belah pihak sepakat untuk memperbaiki hubungan, komitmen yang luar biasa besar sangat dibutuhkan. Pelaku harus memutuskan segala kontak dengan pihak ketiga dan bersikap transparan sepenuhnya. Mengikuti konseling pernikahan bersama terapis profesional sangat disarankan guna menjembatani komunikasi, mencari akar masalah, dan membangun kembali kepingan kepercayaan yang hancur.

Tips Menjaga Kewarasan Saat Menghadapi Perselingkuhan
  1. Hindari membuat keputusan impulsif (seperti membalas dendam atau langsung menyebarkan aib di media sosial) saat emosi sedang memuncak.
  2. Cari support system yang objektif, seperti sahabat terpercaya, keluarga inti, atau tenaga profesional.
  3. Batasi rasa ingin tahu yang berlebihan (pain-shopping), seperti terus-menerus mencari tahu detail pihak ketiga, karena hanya akan menambah luka batin.

Studi Terkait Dampak Perselingkuhan pada Kesehatan Mental

Journal of Family Psychology menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa individu yang diselingkuhi berisiko tinggi mengalami gangguan kecemasan umum dan depresi mayor dalam kurun waktu enam bulan pertama pasca-kejadian. Studi ini juga menyoroti adanya perubahan fungsi neurobiologis pada korban, di mana amigdala (pusat rasa takut di otak) menjadi hiperaktif.

Temuan ini menegaskan bahwa rasa sakit akibat perselingkuhan bukanlah sekadar kelemahan emosional, melainkan cedera psikologis yang nyata secara klinis. Oleh karena itu, intervensi medis melalui psikoterapi sangat direkomendasikan agar korban tidak mengembangkan pola kelekatan yang traumatis di masa depan.

Memahami apa itu selingkuh membantu kita menyadari bahwa batasan kesetiaan harus dikomunikasikan secara jelas sejak awal hubungan. Jika kamu saat ini sedang berjuang menghadapi trauma akibat pengkhianatan, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dan pemulihan adalah hal yang sangat mungkin dicapai seiring berjalannya waktu dan penanganan yang tepat.

Jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika gejala stres sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Kamu bisa menemukan suplemen pendukung kesehatan atau berkonsultasi langsung dengan ahli kesehatan mental melalui aplikasi Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. Infidelity and Behavioral Couple Therapy: Relationship Outcomes Over 5 Years Following Therapy.
Psychology Today. Diakses pada 2024. The Trauma of Infidelity.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Chronic stress puts your health at risk.
National Institutes of Health (NCBI). Diakses pada 2024. Psychological Interventions for the Treatment of Post-Infidelity Stress.

FAQ

1. Sebenarnya apa itu selingkuh dalam sebuah hubungan?

Selingkuh adalah pelanggaran terhadap kesepakatan komitmen dan eksklusivitas antara dua individu dalam sebuah hubungan romantis. Ini melibatkan kebohongan, penyembunyian interaksi dengan pihak ketiga, dan pengalihan keintiman (baik fisik maupun emosional) yang seharusnya hanya diberikan kepada pasangan.

2. Apakah chat mesra tanpa pernah bertemu sudah termasuk selingkuh?

Ya, tindakan tersebut termasuk dalam kategori perselingkuhan emosional dan siber (cyber infidelity). Meskipun tidak ada pertemuan fisik, membagikan energi romantis, waktu, dan perhatian secara intensif kepada orang lain di luar pasangan adalah bentuk pengkhianatan komitmen.

3. Mengapa orang yang hubungannya bahagia masih bisa berselingkuh?

Perselingkuhan tidak selalu berakar dari pernikahan atau hubungan yang bermasalah. Terkadang, seseorang berselingkuh karena adanya isu internal pada dirinya sendiri, seperti kebutuhan akan eksplorasi diri, mencari tantangan baru, kebosanan, atau sekadar membuktikan daya tarik (ego) tanpa ada niat untuk meninggalkan pasangannya.

4. Apakah hubungan masih bisa diselamatkan setelah adanya perselingkuhan?

Hubungan bisa diselamatkan jika kedua belah pihak bersedia bekerja keras. Pelaku harus benar-benar menyesali perbuatannya, memutuskan kontak dengan pihak ketiga, dan bersikap transparan. Di sisi lain, korban juga harus memiliki kemauan untuk memaafkan. Proses ini umumnya membutuhkan waktu yang panjang dan pendampingan dari konselor atau psikolog pernikahan.