Ad Placeholder Image

Apa Itu Sikap Denial? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

5 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Denial adalah mekanisme pertahanan psikologis yang memberikan perlindungan sementara.

Apa Itu Sikap Denial? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara MengatasinyaApa Itu Sikap Denial? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Kamu mungkin sering melihat kata “denied” di berbagai platform media sosial atau dalam percakapan sehari-hari. Secara harfiah dalam bahasa Inggris, denied artinya “ditolak” atau “disangkal”. Namun, apabila kita menarik kata dasar ini ke dalam ranah psikologi dan kesehatan mental, istilah ini merujuk pada sebuah kondisi yang disebut sebagai denial atau penyangkalan.

Dalam ilmu psikologi, denial adalah sebuah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dilakukan oleh alam bawah sadar seseorang ketika dihadapkan pada kenyataan, fakta, atau situasi yang terlalu berat untuk diterima. Bayangkan ketika kamu mendapatkan berita yang sangat mengejutkan dan menyakitkan, reaksi pertama yang sering muncul adalah pikiran yang mengatakan, “Tidak, ini tidak mungkin terjadi.” Itulah bentuk paling nyata dari denial.

Penting untuk dipahami bahwa mengalami fase denial adalah respons alami yang manusiawi. Ini adalah cara otak memberikan jeda atau waktu bagi mental kita untuk menyerap syok agar tidak hancur seketika. Namun, fase penyangkalan ini seharusnya hanya bersifat sementara. Apabila seseorang terus-menerus hidup dalam penyangkalan dan menolak kenyataan untuk jangka waktu yang lama, hal ini justru akan menjadi bumerang bagi kesehatan fisik dan mentalnya secara keseluruhan.

Sikap denial yang dibiarkan berlarut-larut dapat menghambat seseorang dalam mengambil keputusan penting, seperti menunda pengobatan medis, terjebak dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship), atau terjerumus lebih dalam pada masalah kecanduan. Jika penyangkalan yang kamu atau orang terdekatmu alami sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan penanganan yang tepat dari profesional.

Nah, ingin memahami lebih dalam mengenai apa itu fase penyangkalan, mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana cara keluar dari jebakan pikiran tersebut? Berikut adalah ulasan lengkapnya!

Apa Itu Denial dalam Psikologi?

Berdasarkan teori psikoanalisis yang pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud dan kemudian disempurnakan oleh putrinya, Anna Freud, denial diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism). Mekanisme pertahanan ini merupakan strategi psikologis yang digunakan secara tidak sadar oleh seseorang untuk melindungi dirinya dari kecemasan (anxiety), pikiran yang tidak dapat diterima, atau rasa sakit emosional yang ekstrem.

Ketika kenyataan terasa terlalu mengancam kestabilan emosi, otak secara otomatis akan memblokir informasi tersebut agar tidak masuk ke dalam kesadaran penuh. Orang yang berada dalam fase denial mungkin akan mengabaikan fakta yang jelas-jelas ada di depan mata, meremehkan konsekuensi dari suatu masalah, atau bahkan memutarbalikkan fakta untuk membuat diri mereka merasa lebih aman sementara waktu.

Sebagai contoh, seseorang yang baru saja didiagnosis mengidap penyakit kronis seperti diabetes atau kanker mungkin akan mencari opini dari banyak dokter lain (second opinion) bukan karena kebutuhan medis yang objektif, melainkan karena keyakinan yang kuat bahwa hasil tes laboratorium tersebut pasti salah. Mereka mungkin mengabaikan gejala yang muncul dan menolak untuk minum obat atau mengubah gaya hidup.

Mengapa Seseorang Mengalami Fase Denial?

Proses penyangkalan tidak terjadi begitu saja tanpa alasan. Ada banyak faktor pemicu yang membuat otak memilih untuk “menutup mata” terhadap realitas. Berikut adalah beberapa alasan psikologis utama mengapa seseorang bisa terperangkap dalam fase denial:

1. Mekanisme Perlindungan Diri (Self-Preservation)

Denial bertindak sebagai perisai pelindung bagi jiwa (psyche). Ketika dihadapkan pada trauma yang tiba-tiba, kapasitas otak untuk memproses informasi rasional dapat mengalami kelebihan beban (overload). Penyangkalan memberikan ruang bernapas (buffer) bagi pikiran untuk menyerap informasi buruk tersebut secara perlahan, tetes demi tetes, alih-alih dihadapkan pada banjir emosi yang bisa menyebabkan gangguan kejiwaan akut.

2. Ketakutan Akan Kehilangan Kendali

Manusia pada dasarnya menyukai rasa aman dan kendali atas hidup mereka. Ketika suatu krisis terjadi, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) secara mendadak atau kebangkrutan finansial, hal ini menghancurkan ilusi kendali tersebut. Denial muncul sebagai upaya putus asa untuk meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya masih baik-baik saja dan bahwa mereka masih memegang kendali atas situasi tersebut.

3. Perasaan Bersalah (Guilt) dan Malu (Shame)

Dalam kasus seperti kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, atau perilaku kompulsif lainnya, pelaku sering kali terjebak dalam denial karena tidak sanggup menghadapi rasa malu dan bersalah. Mengakui bahwa mereka memiliki masalah kecanduan sama dengan mengakui kelemahan diri mereka. Oleh karena itu, otak akan memproduksi narasi-narasi pembenaran seperti “Saya bisa berhenti kapan saja saya mau” atau “Saya minum alkohol hanya untuk bersosialisasi saja.”

Tanda-Tanda Kamu Mungkin Berada di Fase Denial
  1. Menolak membicarakan masalah yang sedang terjadi, meskipun masalah tersebut sangat mendesak.
  2. Selalu mencari alasan atau pembenaran (rasionalisasi) atas perilaku buruk yang dilakukan diri sendiri atau orang lain.
  3. Menyalahkan orang lain, lingkungan, atau keadaan atas situasi yang sebenarnya menjadi tanggung jawab pribadi.
  4. Memiliki keyakinan berlebihan bahwa masalah akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu tanpa perlu usaha nyata.
  5. Merasa sangat defensif, marah, atau tersinggung ketika orang terdekat mencoba mengingatkan atau menyoroti masalah tersebut.

Denial sebagai Tahap Pertama Kesedihan (Grief)

Pembahasan tentang denied artinya tidak akan lengkap tanpa menyinggung teori Five Stages of Grief (Lima Tahapan Kesedihan) yang diperkenalkan oleh seorang psikiater Swiss-Amerika ternama, Elisabeth Kübler-Ross, pada tahun 1969. Dalam bukunya yang berjudul “On Death and Dying”, Kübler-Ross merumuskan bahwa manusia umumnya melewati lima tahapan emosional saat menghadapi kehilangan yang mendalam, seperti kematian orang tercinta atau diagnosis penyakit mematikan.

1. Denial (Penyangkalan)

Ini adalah tahap pertama. Reaksi awal adalah keterkejutan (shock) dan penolakan. “Ini tidak mungkin terjadi pada saya.” Dunia terasa tidak masuk akal, luar biasa berat, dan hampa. Penyangkalan pada tahap ini membantu kita bertahan hidup dari kehilangan tersebut. Perlahan-lahan, ketika kita mulai menerima kenyataan dari kehilangan tersebut, proses penyembuhan baru bisa dimulai.

2. Anger (Kemarahan)

Setelah kenyataan mulai menembus perisai denial, rasa sakit yang selama ini tertahan akan muncul kembali. Karena tidak sanggup menanggungnya, rasa sakit ini dialihkan dan diekspresikan sebagai kemarahan. Kemarahan ini bisa ditujukan kepada diri sendiri, orang yang meninggal, dokter, keluarga, atau bahkan Tuhan.

3. Bargaining (Tawar-menawar)

Tahap ini melibatkan harapan rahasia bahwa kenyataan buruk tersebut dapat diubah atau ditunda. Individu mungkin akan membuat janji-janji kepada kekuatan yang lebih tinggi (“Jika Engkau menyembuhkan penyakitku, aku berjanji akan menjadi orang yang lebih baik”).

4. Depression (Depresi)

Setelah tawar-menawar disadari tidak membuahkan hasil, perhatian beralih ke masa kini. Rasa kehilangan dirasakan secara penuh. Ini bukanlah tanda masalah kesehatan mental kronis, melainkan respons yang tepat dan normal terhadap sebuah kehilangan besar. Seseorang akan menarik diri dari kehidupan sosial dan merasa sangat sedih.

5. Acceptance (Penerimaan)

Tahap akhir ini bukan berarti seseorang sudah “baik-baik saja” atau senang dengan kehilangan tersebut. Penerimaan berarti individu tersebut telah mengakui realitas dan kenyataan permanen dari kehilangan yang dialaminya, serta mulai belajar untuk hidup dan melangkah maju dengan kenyataan baru tersebut.

Berbagai Konteks Terjadinya Fase Denial

Denial dapat bermanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan. Mengenali konteks di mana denial sering muncul dapat membantu kita lebih waspada dan berempati terhadap diri sendiri maupun orang lain.

1. Denial dalam Kesehatan Medis

Banyak orang mengabaikan benjolan aneh di tubuh, rasa nyeri dada yang sering muncul, atau batuk berdarah. Mereka menolak pergi ke dokter karena takut diagnosis yang akan mereka terima. Ini adalah bentuk denial medis yang sangat berbahaya karena dapat menunda penanganan medis darurat, membuat penyakit yang tadinya bisa disembuhkan (seperti kanker stadium awal) berkembang menjadi stadium akhir yang mematikan.

2. Denial dalam Hubungan (Relationship Denial)

Dalam hubungan asmara, seseorang mungkin bertahan dengan pasangan yang kasar secara verbal, fisik, maupun emosional (abusive relationship). Korban sering kali mempraktikkan denial dengan membenarkan tindakan pasangannya (“Dia memukul karena dia sedang stres dengan pekerjaannya”, atau “Dia sangat mencintaiku, itu sebabnya dia sangat cemburu”). Menyangkal bahwa hubungan tersebut beracun adalah cara korban bertahan dalam situasi yang secara psikologis mengerikan.

3. Denial Finansial

Kondisi ini terjadi ketika seseorang menolak melihat realitas tumpukan hutang kartu kredit atau tagihan pinjaman online yang menumpuk. Alih-alih mengevaluasi pengeluaran dan mencari solusi, mereka mungkin malah terus berbelanja barang-barang mewah untuk mempertahankan gengsi, meyakinkan diri bahwa mereka akan mendapatkan rezeki nomplok suatu hari nanti untuk melunasi semuanya.

Dampak Buruk Denial yang Berkepanjangan

Meskipun pada awalnya penyangkalan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan yang berguna untuk meredam syok, berlama-lama di zona ini memiliki konsekuensi yang merusak. Beberapa dampak buruk dari denial yang berkepanjangan meliputi:

  • Eskalasi Masalah: Masalah yang disangkal tidak akan hilang, melainkan akan menumpuk dan membesar bagai bola salju. Masalah kesehatan yang diabaikan akan semakin parah, masalah keuangan akan berujung pada kebangkrutan, dan masalah kecanduan bisa berujung pada overdosis.
  • Gangguan Mental Lanjutan: Menekan kenyataan membutuhkan energi psikologis yang sangat besar. Pada akhirnya, pertahanan ini bisa runtuh dan memicu gangguan kecemasan menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder), serangan panik, atau depresi mayor yang mendalam.
  • Kehancuran Hubungan Sosial: Berada di sekitar seseorang yang terus-menerus menyangkal realitas bisa sangat melelahkan bagi keluarga dan teman-teman. Penolakan untuk mendengarkan masukan atau bantuan dapat menyebabkan isolasi sosial, di mana orang-orang terdekat akhirnya menyerah dan menjauh.
  • Kehilangan Momen Pemulihan: Semakin lama seseorang menolak fakta, semakin banyak waktu berharga yang terbuang. Waktu tersebut seharusnya bisa digunakan untuk memulai terapi psikologis, perawatan medis, atau mengambil langkah-langkah perbaikan yang konkret.

Cara Sehat Mengatasi Fase Denial

Mengatasi penyangkalan membutuhkan keberanian yang luar biasa karena hal itu berarti kita harus siap menghadapi rasa sakit emosional yang selama ini kita hindari. Jika kamu merasa sedang berada di fase ini, atau mencoba membantu orang lain, berikut adalah beberapa langkah sehat yang bisa diterapkan:

1. Lakukan Refleksi Diri dan Jujur pada Diri Sendiri

Langkah pertama dan paling penting adalah kejujuran radikal pada diri sendiri. Luangkan waktu dalam kesunyian, jauh dari distraksi ponsel dan pekerjaan. Tanyakan pada dirimu secara objektif: “Apa yang sebenarnya sedang aku hindari?”, “Fakta apa yang membuatku sangat ketakutan saat ini?”. Menulis jurnal (journaling) sangat efektif untuk memetakan pikiran yang berantakan menjadi kalimat-kalimat yang bisa dievaluasi secara logis.

2. Bicarakan dengan Orang yang Bisa Dipercaya

Jangan tanggung beban itu sendirian. Ceritakan ketakutanmu kepada sahabat dekat, pasangan, atau anggota keluarga yang tidak menghakimi. Sering kali, sudut pandang dari pihak ketiga (pengamat luar) dapat menembus kabut penyangkalan yang menutupi logika kita. Mendengar masalah kita diucapkan keras-keras di depan orang lain juga bisa membuat realitas tersebut terasa lebih nyata.

3. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Kenyataan yang buruk sering kali membuat kita merasa tidak berdaya. Lawan perasaan ini dengan mengidentifikasi hal-hal kecil yang masih berada di bawah kendalimu. Jika kamu didiagnosis penyakit, kamu tidak bisa mengendalikan keberadaan penyakit tersebut, namun kamu bisa mengendalikan jadwal minum obatmu, pola makanmu, dan seberapa sering kamu berolahraga.

4. Cari Bantuan Profesional (Terapi Psikologis)

Mengurai benang kusut dari mekanisme pertahanan diri sering kali membutuhkan bantuan ahli. Psikolog klinis atau psikiater dapat memberikan terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini dirancang khusus untuk membantu individu mengidentifikasi pola pikir yang terdistorsi (termasuk denial) dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih sehat dan realistis.

Studi Terkait Mekanisme Pertahanan Diri

American Psychological Association (APA) menerbitkan berbagai studi terkait peran mekanisme pertahanan diri, termasuk denial. Salah satu literatur dalam bidang psiko-onkologi menyoroti perilaku pasien kanker stadium lanjut. Studi menjelaskan bahwa sebagian kecil tingkat penyangkalan (mempertahankan rasa optimisme) di awal diagnosis berkorelasi dengan kualitas hidup yang lebih baik karena menurunkan tingkat stres secara drastis.

Namun, studi yang sama juga menekankan bahwa pasien yang mempertahankan tingkat denial secara penuh hingga menolak perawatan kemoterapi atau operasi, secara signifikan memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang lebih rendah. Hal ini membuktikan bahwa denial adalah sebuah paradoks medis: berguna sebagai pertolongan pertama psikologis, namun berakibat fatal jika dijadikan strategi bertahan hidup jangka panjang.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2024. APA Dictionary of Psychology: Denial.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Denial: When it helps, when it hurts.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. 5 Stages of Grief.
Verywell Mind. Diakses pada 2024. What Is Denial in Psychology?

FAQ

1. Apakah denied artinya sama dengan berbohong?

Tidak. Berbohong adalah tindakan sadar dan sengaja untuk menutupi kebenaran dari orang lain. Sementara itu, denial adalah mekanisme bawah sadar di mana otak menyembunyikan kebenaran dari diri sendiri demi melindungi kondisi emosional agar tidak hancur.

2. Berapa lama biasanya fase denial berlangsung?

Durasi fase penyangkalan sangat bervariasi pada setiap individu, mulai dari beberapa jam, beberapa hari, hingga berminggu-minggu tergantung pada seberapa besar trauma atau kehilangan yang dialami. Jika kondisi ini berlangsung selama berbulan-bulan, segera cari bantuan profesional.

3. Bagaimana cara menghadapi teman yang sedang denial?

Hadapi mereka dengan empati, bukan kemarahan. Jangan berdebat secara agresif atau memaksa mereka menerima kenyataan seketika. Tawarkan dukungan emosional, dengarkan keluh kesah mereka, dan secara perlahan perkenalkan mereka pada fakta yang ada saat emosi mereka mulai stabil.

4. Kapan harus ke dokter karena masalah penyangkalan ini?

Kamu harus mencari bantuan psikolog atau psikiater jika sikap denial sudah menyebabkan kamu menunda perawatan medis yang mengancam nyawa, merusak hubungan intim dengan keluarga, menyebabkan masalah finansial parah, atau memicu gejala depresi dan kecemasan yang melumpuhkan aktivitas harian.


Konsultasi dengan Psikolog Klinis via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikolog Klinis terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang