• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah Epiglotitis Merupakan Penyakit Genetik?

Apakah Epiglotitis Merupakan Penyakit Genetik?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Epiglotitis merupakan penyakit yang menyerang epiglotis, yaitu katup yang berfungsi menutupi trakea atau batang tenggorokan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pembengkakan dan peradangan pada bagian tersebut. Katup epiglotitis bertugas untuk melindungi batang tenggorokan agar tidak dimasuki makanan atau cairan pada saat menelan. 

Katup epiglotitis berada tepat di belakang pangkal lidah. Apakah penyakit ini merupakan penyakit genetik? Jawabannya tidak. Penyebab utama dari penyakit ini adalah infeksi bakteri, di antaranya bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae tipe B (Hib). Jenis bakteri tersebut diketahui sering memicu peradangan pada epiglotis.

Baca juga: Mengenal Peradangan pada Epiglotis

Penyebab Epiglotitis yang  Perlu Diketahui

Radang pada epiglotitis bisa menyerang siapa saja, dari segala usia. Gangguan kesehatan ini bukan merupakan penyakit genetik. Peradangan pada epiglotitis terjadi karena infeksi bakteri. Meski bisa menyerang siapa saja, radang ini disebut lebih rentan menyerang anak-anak dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, seperti pengidap HIV dan orang yang belum menerima vaksinasi Haemophilus influenzae type b (Hib).

Penyakit ini dikenali melalui gejala yang muncul. Pada anak-anak, epiglotitis ditandai dengan gejala yang muncul dan bisa memburuk dalam waktu yang sangat cepat. Sedangkan pada orang dewasa, gejala penyakit ini biasanya akan muncul dan memburuk secara perlahan. Epiglotitis ditandai dengan gejala berupa demam, sakit tenggorokan yang parah, sulit menelan, hingga sesak napas.

Kondisi ini juga bisa menyebabkan pengidapnya mengalami napas berbunyi nyaring, mudah gelisah, mengeluarkan air liur, serta suara serak. Epiglotitis bukan merupakan penyakit genetik, tetapi bisa menjadi kondisi gawat darurat medis. Epiglotitis bisa menghambat pernapasan dan memberi dampak buruk pada tubuh. Semakin lama, epiglotis bisa membengkak dan menutupi trakea, sehingga menghambat pasokan oksigen dan berujung pada kematian.

Baca juga: Apakah Epiglotitis Bisa Dicegah?

Penyakit ini terjadi karena ada infeksi bakteri. Infeksi kemudian menyebabkan epiglotis membengkak dan menghalangi keluar masuknya udara pada saluran pernapasan. Dalam tingkat yang cukup parah, kondisi ini berpotensi menyebabkan kematian karena terhambatnya jalur pernapasan. Selain infeksi, penyakit ini juga bisa dipicu oleh luka pada tenggorokan.

Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kondisi ini, misalnya benturan atau pukulan keras, masuknya benda asing atau senyawa kimia ke dalam tubuh, serta efek dari penyalahgunaan obat-obatan tertentu. Epiglotitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri bisa diobati dengan pemberian antibiotik. Pembengkakan juga bisa dikurangi dengan konsumsi obat-obatan jenis steroid. 

Penyakit ini bisa dicegah, dengan pemberian vaksin Hib. Di Indonesia, vaksin ini diberikan bersamaan dengan DPT dan hepatitis B, dan disebut sebagai vaksin Pentabio. Vaksin ini akan diberikan dalam 4 tahap, yaitu saat bayi berusia 2, 4, 6, dan 18 bulan. Sementara jika anak baru menerima vaksin di antara usia 1–5 tahun, vaksin hanya akan diberikan 1 kali. Selain itu, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh juga bisa membantu mencegah terjadinya peradangan. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala menyerupai epiglotitis, terutama pada anak-anak. 

Baca juga: Kenali 9 Tanda dan Gejala Epiglotis, Penyakit yang Sebabkan Sesak Napas

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter? Pakai aplikasi Halodoc saja! Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Epiglottitis.
Patient. Diakses pada 2020. Epiglottitis.
NHS UK. Diakses pada 2020. Epiglottitis.