• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah Ibu Melahirkan Boleh Puasa saat Nifas?

Apakah Ibu Melahirkan Boleh Puasa saat Nifas?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Nifas adalah darah yang keluar dari rahim setelah seorang wanita melahirkan. Masa ini dimulai kompilasi wanita telah mengeluarkan plasenta dan berlanjut hingga 40 hari setelah persalinan. Lantas, apakah selama nifas ibu diperbolehkan untuk berpuasa? Ini sejumlah hal yang perlu ibu ketahui.

Baca juga: Kenali Gejala Awal Baby Blues Syndrome pada Saat Nifas

Mengalami Masa Nifas, Bolehkah Berpuasa?

Jika dilihat dari sudut pandang hukum agama Islam, ibu yang berada pada masa nifas tidak diperbolehkan puasa di bulan Ramadan. Ternyata, hal ini bisa dijelaskan dalam kacamata medis alasan wanita tidak diperbolehkan berpuasa selama masa nifas. Selama masa nifas, ibu mengalami perubahan fisik maupun emosional

Masa nifas adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan kekuatan tubuh pasca melahirkan dengan memenuhi kebutuhan nutrisi ibu. Pola makan sehat penting untuk mempercepat proses pemulihan dan memberi ibu energi untuk merawat Si Kecil yang baru lahir. Selain itu, nutrisi yang tercukupi juga mencegah perubahan suasana hati, sehingga risiko depresi pasca melahirkan dapat diminimalisir. 

Puasa mengharuskan seseorang untuk menahan haus dan lapar dalam waktu yang cukup lama. Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan selama masa nifas karena ibu perlu mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang untuk memulihkan kondisi setelah persalinan. Berikut ini kondisi tubuh pasca persalinan:

  • Vagina. Organ ini akan mengalami pembengkakan dan peningkatan aliran darah. Umumnya akan membaik dalam waktu 610 minggu.
  • Perineum. Organ di antara vagina dan anus ini akan membengkak pasca persalinan. Umumnya akan membaik dalam waktu 12 minggu.
  • Rahim. Saat hamil, berat rahim bisa saja mencapai 1000 gram, tergantung ukuran janin. Pasca persalinan, beratnya akan menyusut hingga menjadi 50100 gram saja.
  • Leher rahim (serviks). Rasa sakit pada organ ini akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, tetapi bentuk dan ukurannya tidak akan kembali normal.
  • Dinding perut. Organ ini akan terasa lebih kendur. Untuk mengembalikan kekencangannya, disarankan untuk melakukan latihan secara rutin.
  • Payudara. Organ ini akan terasa kencang, penuh, dan nyeri saat nifas. Kondisi tersebut merupakan proses alami untuk memasuki masa menyusui.

Baca juga: Penjelasan tentang Darah Menstruasi Pertama Usai Melahirkan

Hal yang Terjadi Pada Tubuh Selama Masa Nifas

Melansir dari laman Parents, ibu perlu dua hingga tiga hari untuk buang air besar setelah melahirkan. Alasannya, setelah melahirkan otot-otot perut ibu melemah, usus mengalami trauma dan penggunaan obat penghilang rasa sakit dapat menyebabkan konstipasi. Untuk mencegah sembelit, ibu perlu rutin minum air putih setidaknya delapan gelas air sehari dan banyak konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian yang kaya serat. 

Kehamilan menyebabkan pembengkakan di tubuh dan peningkatan volume darah. Akibatnya, ibu juga lebih sering buang air kecil untuk mengeluarkan kelebihan cairan tersebut. Hormon di dalam tubuh juga masih berfluktuasi. Hal ini mengakibatkan kerontokan rambut, jerawat, emosi, dan keringat malam. Ibu yang memberikan ASI eksklusif mungkin mengalami pembengkakan pada puting sementara waktu.

Baca juga: Apakah Ibu Melahirkan Boleh Puasa Saat Nifas?

Itulah penjelasan mengenai boleh atau tidaknya puasa saat nifas. Selama masa pemulihan, beberapa wanita mengalami “baby blues” atau postpartum depression (PPD). Baby blues ditandai oleh perasaan sedih, putus asa, marah, dan gelisah. Ketika ibu mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya diskusikan segera dengan dokter lewat aplikasi Halodoc, ya.

Referensi :
Sutter Health Organization. Diakses pada 2021. Postpartum Nutrition.
The Guardian. Diakses pada 2021. How long will it take me to recover after giving birth?
Parents. Diakses pada 2021. What Postpartum Recovery Is Really Like.