Advertisement

Avoidant: Lebih dari Sekadar Rasa Malu

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   21 Januari 2026

Avoidant adalah pola perilaku menghindar yang dipicu rasa takut akan penolakan dan sering kali berakar dari pengalaman traumatis.

Avoidant: Lebih dari Sekadar Rasa MaluAvoidant: Lebih dari Sekadar Rasa Malu

DAFTAR ISI

  1. Apa Itu Avoidant?
  2. Ciri-Ciri Perilaku Avoidant
  3. Avoidant Personality Disorder (AVPD)
  4. Penyebab Perilaku Avoidant
  5. Perbedaan Avoidant dengan Introvert/Pemalu
  6. Avoidant Sebagai Mekanisme Pertahanan Diri
  7. Cara Menangani Perilaku Avoidant
  8. Kesimpulan

Memahami apa itu avoidant sangat penting bagi siapa pun yang merasa sering menarik diri dari lingkungan sosial demi melindungi diri dari rasa kecewa.

Sikap ini bukan sekadar sifat pemalu biasa, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri yang berakar pada ketakutan mendalam akan penolakan, kritik, atau penilaian negatif orang lain.

Meskipun menghindar memberikan rasa aman sementara, pola perilaku ini dapat menghambat pertumbuhan emosional dan kualitas hubungan kamu di masa depan.

Apa Itu Avoidant?

Avoidant adalah istilah yang merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menghindar atau menarik diri dari interaksi sosial dan situasi yang dianggap bisa memicu emosi tidak nyaman.

Emosi-emosi tersebut meliputi rasa takut, cemas, malu, atau penolakan. Perilaku ini seringkali berakar pada rasa rendah diri yang mendalam.

Kondisi avoidant dapat muncul sebagai pola perilaku biasa (attachment style) atau gangguan kepribadian yang lebih parah dan menetap, yaitu avoidant personality disorder (AVPD).

Ciri-Ciri Perilaku Avoidant

Seseorang dengan kecenderungan avoidant umumnya menunjukkan ciri-ciri berikut:

  • Sensitif terhadap kritik: Mudah tersinggung atau merasa sakit hati jika dikritik, bahkan jika kritik tersebut konstruktif.
  • Menarik diri: Cenderung menyendiri dan menghindari aktivitas yang melibatkan banyak interaksi sosial.
  • Takut ditolak: Memiliki keinginan kuat untuk diterima, namun justru menghindar karena khawatir akan penolakan.
  • Sulit dekat: Merasa tidak nyaman atau kesulitan membangun hubungan yang dekat dan intim dengan orang lain.
  • Sangat mandiri: Enggan bergantung pada orang lain dan merasa lebih aman saat sendirian. Kemandirian ini terkadang bisa ekstrem.

Avoidant Personality Disorder (AVPD)

AVPD adalah gangguan kepribadian yang lebih intens dan kronis dibandingkan sekadar rasa malu. Kondisi ini ditandai dengan:

  • Rasa malu yang mendalam.
  • Perasaan tidak kompeten.
  • Ketakutan ekstrem terhadap penolakan, kritik, atau penghinaan.

Ketakutan-ketakutan ini memengaruhi kehidupan sehari-hari secara signifikan. Pengidap AVPD seringkali menghindari situasi sosial, termasuk pekerjaan atau organisasi, karena takut melakukan kesalahan atau dinilai negatif.

Penyebab Perilaku Avoidant

Beberapa faktor dapat berkontribusi pada perkembangan perilaku avoidant, di antaranya:

  • Pola asuh yang kurang memberikan dukungan emosional atau terlalu menuntut kemandirian sejak usia dini.
  • Pengalaman traumatis di masa lalu, seperti pelecehan (fisik, emosional, atau seksual) atau pengkhianatan.

Menurut penelitian, pengalaman negatif di masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan avoidant personality disorder di kemudian hari.

Perbedaan Avoidant dengan Introvert/Pemalu

Penting untuk membedakan antara perilaku avoidant dengan sifat pemalu atau introvert. Orang pemalu atau introvert mungkin merasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi seiring waktu mereka bisa merasa lebih nyaman dalam interaksi sosial.

Sementara itu, penderita AVPD merasa tertekan secara konstan dan terus-menerus menghindari keintiman. Perilaku avoidant terbentuk dari rasa takut dan trauma, bukan sekadar preferensi untuk menyendiri seperti pada introvert.

Yuk, ketahui juga informasi lain seputar Psikologi – Kondisi Psikis dan Informasi Lengkapnya di sini.

Avoidant Sebagai Mekanisme Pertahanan Diri

Sederhananya, avoidant adalah sikap menghindar yang digunakan sebagai mekanisme perlindungan diri. Hal ini didorong oleh rasa takut akan penilaian negatif atau penolakan dari orang lain.

Perilaku ini bisa menjadi bagian dari kepribadian seseorang atau merupakan kondisi klinis yang memerlukan penanganan khusus. Dalam beberapa kasus, avoidant bisa menjadi cara seseorang untuk melindungi diri dari potensi rasa sakit emosional.

Namun, dalam jangka panjang, perilaku ini justru dapat menghambat kemampuan seseorang untuk membangun hubungan yang sehat dan memuaskan.

Jika kamu butuh teman bicara, Ini Rekomendasi Psikolog Online Berpengalaman di Halodoc yang bisa dihubungi kapan pun dan di mana pun.

Cara Menangani Perilaku Avoidant

Penanganan perilaku avoidant tergantung pada tingkat keparahan dan dampaknya pada kehidupan seseorang. Beberapa opsi penanganan meliputi:

  • Psikoterapi: Terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi psikodinamik dapat membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang mendasari avoidant.
  • Obat-obatan: Dalam beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat-obatan seperti antidepresan atau obat anti-kecemasan untuk membantu mengurangi gejala yang terkait dengan avoidant, seperti depresi atau kecemasan sosial.
  • Dukungan sosial: Bergabung dengan kelompok dukungan atau mencari dukungan dari teman dan keluarga dapat membantu individu merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan emosional.

Penting untuk mencari bantuan profesional jika perilaku avoidant mengganggu kualitas hidup dan hubungan kamu.

Dukungan psikososial yang tepat dapat membantu individu dengan masalah kesehatan mental, termasuk avoidant, untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pahami informasi lebih lanjut seputar Kesehatan Mental – Gejala, Penyebab, Pencegahan & Pengobatannya di sini.

Kesimpulan

Avoidant adalah pola perilaku menghindar yang berasal dari rasa takut akan penolakan dan penilaian negatif.

Memahami akar masalah ini penting untuk mencari penanganan yang tepat. Jika kamu merasa ciri-ciri avoidant mengganggu kehidupan kamu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

Itulah penjelasan seputar perilaku avoidant yang perlu kamu ketahui. Mengalami kondisi ini pasti terasa sulit dijalani, kamu dapat menghubungi psikiater di Halodoc yang tersedia 24 jam untuk mendengarkanmu.

Klik banner di bawah ini untuk menghubungi psikiater terpercaya:

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Avoidant Personality Disorder: Symptoms & Treatment.
Healthdirect. Diakses pada 2026. Avoidant Personality Disorder (AVPD).
Psychology Today. Diakses pada 2026. Avoidant Personality Disorder.