Penyebab Bab Bayi Bercak Darah, Kapan Harus ke Dokter

DAFTAR ISI
- Penyebab Feses Bayi Berdarah
- Membedakan Warna Darah pada Feses
- Kapan Harus ke Dokter?
- Diagnosis Medis yang Mungkin Dilakukan
- Cara Menangani Kondisi Bayi di Rumah
- Studi Terkait
- FAQ
Melihat adanya bercak merah atau darah pada popok bayi tentu menjadi momen yang sangat mendebarkan bagi setiap orang tua. Rasanya jantung seakan berhenti berdetak saat menyadari bahwa kotoran si kecil tidak seperti biasanya. Fenomena feses bayi berdarah, atau dalam istilah medis disebut hematokezia, memang memerlukan perhatian khusus, namun tidak selalu berarti ada kondisi yang mengancam nyawa.
Penyebab dari kondisi ini sangat beragam, mulai dari hal yang ringan seperti luka kecil akibat sembelit hingga indikasi alergi makanan tertentu. Sebagai orang tua yang suportif, langkah pertama yang paling penting adalah tetap tenang agar kamu bisa melakukan observasi dengan teliti terhadap gejala penyerta lainnya yang muncul pada si kecil.
Penting untuk diingat bahwa sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan yang sangat sensitif. Perubahan kecil dalam asupan nutrisi atau infeksi bakteri ringan bisa langsung berdampak pada tekstur dan warna fesesnya. Oleh karena itu, memahami penyebab di balik munculnya darah tersebut adalah kunci utama dalam memberikan penanganan yang tepat.
Nah, jika kamu mendapati kondisi ini pada buah hati, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis dini. Mari kita bahas lebih dalam mengenai apa saja kemungkinan penyebab, gejala yang harus diwaspadai, hingga langkah penanganan yang bisa kamu lakukan.
Penyebab Feses Bayi Berdarah
Feses yang mengandung darah pada bayi bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut adalah beberapa penyebab yang paling umum ditemukan dalam praktik klinis:
1. Fisura Ani (Luka pada Dubur)
Ini adalah penyebab paling umum. Jika bayi mengalami sembelit atau konstipasi, feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada jaringan tipis di saluran anus. Darah yang muncul biasanya berwarna merah segar dan menempel di bagian luar feses atau terlihat di tisu saat kamu menyeka bokong bayi.
2. Alergi Makanan (Proktokolitis Alergi)
Kondisi ini sering terjadi pada bayi yang alergi terhadap protein susu sapi atau kedelai. Jika bayi mengonsumsi susu formula atau terpapar melalui ASI dari makanan yang dikonsumsi ibu, sistem imunnya mungkin bereaksi dan menyebabkan peradangan di usus besar, yang kemudian memicu perdarahan ringan.
3. Infeksi Saluran Pencernaan
Infeksi akibat bakteri seperti Salmonella, Shigella, atau Campylobacter, serta infeksi virus dan parasit, dapat menyebabkan diare berdarah. Biasanya kondisi ini disertai dengan gejala lain seperti demam, muntah, dan bayi tampak sangat rewel karena perutnya terasa sakit.
4. Intususepsi (Penyumbatan Usus)
Ini adalah kondisi medis darurat di mana satu bagian usus terlipat masuk ke bagian usus lainnya. Gejalanya sangat khas, yaitu feses yang tampak seperti “selai merah” (bercampur lendir dan darah) serta rasa sakit perut hebat yang datang dan pergi.
Membedakan Warna Darah pada Feses
Warna darah dapat memberikan petunjuk penting mengenai lokasi perdarahan di saluran cerna si kecil:
- Merah Terang: Biasanya menunjukkan perdarahan terjadi di saluran cerna bagian bawah (seperti anus atau usus besar bawah). Sering dikaitkan dengan fisura ani atau alergi.
- Merah Tua atau Kehitaman: Bisa menandakan perdarahan terjadi lebih tinggi di saluran pencernaan, seperti lambung atau usus halus. Asam lambung dapat mengubah warna darah menjadi lebih gelap.
- Bercak Lendir Merah: Seringkali merupakan tanda infeksi atau peradangan usus yang lebih serius.
Tips Mengamati Feses Bayi
- Perhatikan apakah darah menyatu dengan feses atau hanya di permukaan.
- Cek apakah ada lendir yang menyertai darah tersebut.
- Amati tekstur feses (apakah cair, sangat keras, atau normal).
- Ambil foto feses untuk ditunjukkan kepada dokter saat konsultasi.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun beberapa kasus bisa sembuh dengan sendirinya, ada beberapa tanda “bendera merah” yang mengharuskan kamu segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan:
- Bayi tampak sangat lemas atau tidak aktif seperti biasanya.
- Adanya demam tinggi yang tidak kunjung turun.
- Perut bayi tampak membuncit dan terasa keras saat disentuh.
- Bayi terus-menerus muntah atau menolak untuk menyusu/makan.
- Darah yang keluar berjumlah banyak atau terus-menerus.
- Bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (mata cekung, ubun-ubun cekung, atau jarang buang air kecil).
Jika kamu membutuhkan produk kesehatan pendukung seperti cairan elektrolit atau suplemen atas saran dokter, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Diagnosis Medis yang Mungkin Dilakukan
Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan penyebab pasti perdarahan tersebut:
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Dokter akan bertanya tentang riwayat makan bayi dan memeriksa area anus untuk melihat adanya fisura atau tanda-tanda iritasi luar.
2. Cek Sampel Feses
Sampel kotoran akan diperiksa di laboratorium untuk melihat adanya infeksi bakteri, parasit, atau adanya darah samar yang tidak terlihat secara kasat mata.
3. Tes Alergi atau Eliminasi Diet
Jika dicurigai alergi, ibu yang menyusui mungkin diminta berhenti mengonsumsi produk susu atau bayi diganti dengan formula khusus (hidrolisat parsial/total) untuk melihat perubahannya.
Cara Menangani Kondisi Bayi di Rumah
Sambil menunggu jadwal konsultasi atau selama masa pemulihan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Jaga Hidrasi: Pastikan bayi tetap mendapatkan cukup ASI atau susu formula agar tidak terjadi dehidrasi, terutama jika perdarahan disertai diare.
- Perawatan Kulit: Jika ada luka di anus (fisura), bersihkan area tersebut dengan air hangat secara lembut dan oleskan salep pelindung sesuai saran medis.
- Evaluasi Diet: Untuk bayi yang sudah MPASI, pastikan asupan seratnya cukup jika penyebabnya adalah sembelit. Namun, konsultasikan dulu sebelum menambah jenis makanan baru.
Studi Mengenai Kesehatan Pencernaan Bayi
The Journal of Pediatrics menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa proktokolitis alergi adalah penyebab paling sering dari perdarahan rektal pada bayi yang tampak sehat di bulan-bulan pertama kehidupan.
Studi ini menekankan bahwa sebagian besar kasus alergi ini bersifat sementara dan akan membaik saat sistem pencernaan bayi semakin matang. Namun, intervensi dini melalui perubahan diet ibu atau pemilihan formula yang tepat sangat krusial untuk mencegah anemia pada bayi.
Kesimpulan
Menemukan darah pada feses bayi memang mengkhawatirkan, namun dengan observasi yang tepat dan bantuan medis, sebagian besar kondisi ini dapat ditangani dengan baik. Jangan pernah mendiagnosis sendiri atau memberikan obat-obatan tanpa pengawasan dokter spesialis anak.
Selalu prioritaskan kesehatan si kecil dengan memantau setiap perubahan pada pola buang air besarnya. Jika gejalanya berlanjut atau disertai tanda gawat darurat, segera cari pertolongan medis profesional.
Punya Keluhan Kesehatan pada Si Kecil tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan terkait si kecil, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Infant Constipation: How is it treated?.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Hematochezia in Infants and Children.
HealthyChildren.org (AAP). Diakses pada 2026. Blood in Stool in Babies.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Managing Diarrhoea in Children.
FAQ
1. Apakah feses bayi berdarah selalu berbahaya?
Tidak selalu. Sebagian besar kasus disebabkan oleh fisura ani ringan atau alergi protein susu sapi yang bisa ditangani. Namun, tetap memerlukan pemeriksaan dokter untuk menyingkirkan kondisi serius.
2. Bisakah ASI menyebabkan darah pada feses bayi?
ASI sendiri tidak menyebabkan darah, tetapi apa yang ibu konsumsi (seperti susu sapi atau kacang-kacangan) bisa memicu reaksi alergi pada bayi yang menyusui sehingga muncul darah pada fesesnya.
3. Apa perbedaan darah karena sembelit dan infeksi?
Darah karena sembelit biasanya merah segar di luar feses dan bayi mengejan keras. Darah karena infeksi biasanya bercampur lendir, feses cair, dan disertai demam.
4. Haruskah saya berhenti menyusui jika ada darah di feses bayi?
Jangan berhenti menyusui. Biasanya dokter akan menyarankan ibu untuk melakukan diet eliminasi (menghindari makanan pemicu alergi) daripada menghentikan pemberian ASI.








