• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Diagnosis Rubella Dilakukan?

Bagaimana Cara Diagnosis Rubella Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Ruam rubella dapat terlihat seperti banyak ruam virus lainnya. Jadi dokter biasanya mendiagnosis rubella dengan bantuan tes laboratorium. Kamu akan melakukan tes darah untuk dapat mendeteksi keberadaan berbagai jenis antibodi rubella dalam darah. 

Antibodi ini menunjukkan apakah kamu pernah mengalami infeksi baru atau sebelumnya atau vaksin rubella. Infeksi rubella dapat menyebabkan gejala ringan atau bahkan tidak ada gejala pada kebanyakan orang. 

Walaupun begitu, infeksi rubella dapat menyebabkan masalah serius bagi bayi yang belum lahir yang ibunya terinfeksi selama kehamilan. Rubella tidak sama dengan campak, tetapi kedua penyakit tersebut memiliki beberapa gejala, termasuk ruam merah. 

Mengenal Gejala Rubella

Tanda dan gejala umum rubella muncul antara dua dan tiga minggu setelah terpapar virus. Gejala ini biasanya bertahan sekitar satu hingga lima hari dengan tanda-tanda:

  1. Demam ringan 38,9 derajat Celsius atau lebih rendah.
  2. Sakit kepala.
  3. Hidung tersumbat atau berair.
  4. Mata merah meradang.
  5. Pembesaran, kelenjar getah bening lunak di pangkal tengkorak, belakang leher dan di belakang telinga
  6. Ruam halus berwarna merah muda yang dimulai pada wajah dan dengan cepat menyebar ke batang tubuh, kemudian ke lengan dan kaki, sebelum menghilang dalam urutan yang sama.
  7. Sendi yang sakit, terutama pada perempuan muda

Baca juga: Tetap Waspada, Ini Cara Mencegah Campak Jerman pada Anak

Hubungi dokter jika merasa ibu atau anak mungkin terpapar rubella atau jika memiliki tanda atau gejala yang tercantum di atas. Jika saat ini kamu mempertimbangkan untuk hamil, periksa catatan vaksinasi untuk memastikan apakah kamu telah menerima vaksin MMR. 

Jika kamu hamil dan mengidap rubella, terutama selama trimester pertama, virus dapat menyebabkan kematian atau cacat lahir serius pada janin yang sedang berkembang. Rubella selama kehamilan adalah penyebab paling umum dari ketulian bawaan. 

Karena itu, sangat penting buat ibu hamil untuk menjalani pemeriksaan rutin untuk mengetahui kekebalan tubuh terhadap rubella. Namun, jika kamu belum pernah menerima vaksin dan merasa terkena rubella, segera hubungi dokter. Tes darah mungkin mengonfirmasi bahwa kamu sudah kebal.

Informasi selengkapnya mengenai gejala dan diagnosis rubella bisa ditanyakan langsung melalui aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. 

Fakta Mengenai Rubella

Menurut Centers for Disease Control and Prevention disebutkan kalau diagnosis awal rubella dilihat apakah seseorang tersebut menunjukkan gejala-gejala yang diungkapkan di atas atau tidak. Kemudian, pertimbangan lainnya adalah jika orang tersebut baru kembali dari perjalanan luar negeri atau terpapar dengan penyakit penyakit ruam demam.

Mengumpulkan spesimen tenggorokan, hidung, atau urine untuk deteksi virus melalui pengujian reaksi rantai polimer (PCR), dan darah untuk pengujian serologis adalah tes yang perlu dilakukan untuk mengetahui positif tidaknya terinfeksi rubella.

Baca juga: Adakah Komplikasi yang Disebabkan Rubella?

Pengidap rubella harus diisolasi selama 7 hari setelah mereka mengalami ruam. Orang yang berisiko walaupun setelah dicek hasilnya negatif, tetap disarankan untuk divaksinasi. Kebanyakan orang tidak mengalami efek samping dari vaksin. 

Sekitar 15 persen orang mengalami demam antara tujuh sampai 12 hari setelah vaksinasi, dan sekitar 5 persen orang mengalami ruam ringan. Beberapa remaja dan wanita dewasa mengalami nyeri sendi sementara atau kekakuan setelah menerima vaksin. Sangat jarang vaksin menyebabkan reaksi alergi yang serius.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Rubella.
Centers For Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Rubella.