07 November 2018

Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Rubella

Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Rubella

Halodoc, Jakarta – Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah pada kulit. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan remaja, tetapi juga rentan terjadi pada ibu hamil. Penularan utamanya adalah melalui percikan air liur (droplet) di udara yang dikeluarkan pengidap rubella melalui batuk dan bersin. Rubella bisa menular melalui penggunaan alat makan bersama, serta menyentuh mata, hidung, dan mulut setelah memegang benda yang terkontaminasi virus rubella.

Rubella dan Kehamilan

Rubella yang terjadi selama kehamilan, terutama sebelum usia kehamilan lima bulan, berpotensi menyebabkan sindrom rubella kongenital bahkan kematian bayi dalam kandungan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang lahir dengan sindrom rubella kongenital. Sindrom rubella kongenital bisa menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, katarak, penyakit jantung bawaan, kerusakan otak, kerusakan paru-paru, diabetes tipe 1, hipertiroidisme, hipotiroidisme, dan pembengkakan otak.

Gejala Penyakit Rubella

Anak yang mengidap rubella mengalami gejala yang lebih ringan dibanding orang dewasa. Beberapa pengidap tidak mengalami gejala meskipun bisa menularkan virus rubella pada orang lain. Virus rubella membutuhkan waktu selama 14 - 21 hari sejak terjadi pajanan hingga menimbulkan gejala. Selain itu, virus rubella membutuhkan waktu selama 5 hari - 1 minggu untuk bisa menyebar ke seluruh tubuh dan menularkan ke orang lain. Berikut ini gejala umum rubella yang perlu diwaspadai:

  • Demam.

  • Sakit kepala.

  • Hidung tersumbat atau pilek.

  • Tidak nafsu makan.

  • Mata merah.

  • Pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher.

  • Ruam berbentuk bintik kemerahan di wajah yang bisa menyebar ke area tangan, badan, dan kaki.

  • Nyeri pada sendi, banyak terjadi pada remaja wanita yang mengidap rubella.

Diagnosis dan Pengobatan Penyakit Rubella

Diagnosis rubella dilakukan dengan pengambilan sampel air liur atau ludah untuk diperiksa di laboratorium. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antibodi rubella. Keberadaan antibodi IgM menandakan bahwa seseorang sedang mengidap rubella. Sedangkan, antibodi IgG menandakan bahwa seseorang pernah mengidap rubella atau sudah mendapat vaksin MR (measles - rubella).

Pada ibu hamil yang berisiko tinggi, pemeriksaan rubella dimasukkan ke dalam serangkaian tes prenatal melalui tes darah. Jika ibu hamil didiagnosa mengidap rubella, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan, yaitu USG dan amniosentesis (pengambilan sampel cairan ketuban).

Setelah diagnosis ditetapkan, rubella bisa diobati di rumah dengan langkah sederhana. Upaya ini dilakukan hanya untuk meringankan gejala, bukan untuk mempercepat penyembuhan rubella. Di antaranya adalah dengan beristirahat sebanyak mungkin, perbanyak minum air putih untuk cegah dehidrasi, serta konsumsi obat pereda nyeri dan penurun demam (seperti parasetamol dan ibuprofen).

Pencegahan Penyakit Rubella

Cara terbaik untuk mencegah rubella yaitu vaksinasi MR, terutama bagi wanita yang berencana hamil. Pemberian vaksin juga direkomendasikan pada anak usia 9 bulan - 15 tahun dan diberikan melalui suntikan pada jaringan lemak lengan atas. Vaksin MR ini diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Tes darah juga perlu dilakukan oleh wanita yang berencana hamil. Jika belum ditemukan kekebalan terhadap rubella, dokter menyarankan untuk vaksinasi MR dan menunggu minimal 4 minggu untuk hamil.

Itulah fakta yang perlu diketahui tentang penyakit rubella. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar rubella, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa bertanya pada dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja melalui fitur Contact Doctor via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: