
DAFTAR ISI
- Alat Medis yang Digunakan Dokter untuk Melepas IUD
- Bagaimana Prosedur Pelepasan IUD Dilakukan?
- Kondisi Khusus: Bagaimana Jika Benang IUD Tidak Terlihat?
- Kapan IUD Harus Segera Dilepas?
- Persiapan dan Perawatan Setelah Pelepasan IUD
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Intrauterine Device (IUD) atau yang di Indonesia lebih akrab dikenal dengan sebutan KB spiral, merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang paling efektif dan banyak diminati oleh wanita. Alat kecil berbentuk seperti huruf “T” ini dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Bergantung pada jenisnya, baik itu IUD berlapis tembaga maupun IUD hormonal, alat ini dapat melindungi wanita dari kehamilan yang tidak direncanakan selama 3 hingga 10 tahun.
Namun, akan tiba saatnya IUD harus dikeluarkan dari dalam rahim. Alasan pelepasannya bisa bermacam-macam, mulai dari masa pakai yang sudah habis, adanya keinginan untuk merencanakan kehamilan, tubuh yang mengalami efek samping tertentu, hingga wanita yang telah memasuki masa menopause. Banyak wanita merasa cemas atau takut membayangkan proses pengeluaran alat ini dari dalam tubuh mereka.
Penting untuk ditegaskan bahwa proses pelepasan IUD adalah prosedur medis yang relatif cepat, sederhana, dan umumnya minim rasa sakit jika dilakukan oleh tenaga medis profesional. Sangat dilarang keras untuk mencoba menarik atau melepaskan IUD sendiri di rumah, karena dapat berisiko menyebabkan robekan pada rahim, perdarahan hebat, hingga infeksi. Dokter kandungan memiliki alat untuk melepas iud yang dirancang khusus dan steril guna memastikan prosedur berjalan dengan aman.
Lantas, apa saja instrumen yang digunakan oleh dokter di ruang praktik, dan bagaimana sebenarnya tahapan pengeluarannya? Mari kita bahas secara lengkap dan mendalam mengenai prosedur medis pengangkatan KB spiral ini.
Alat Medis yang Digunakan Dokter untuk Melepas IUD
Dalam prosedur standar, dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obgyn) atau bidan terlatih hanya membutuhkan beberapa peralatan dasar yang steril. Alat-alat ini dirancang khusus untuk meminimalkan trauma pada jaringan vagina dan serviks (leher rahim). Berikut adalah instrumen utama yang digunakan:
1. Spekulum (Cocor Bebek)
Spekulum adalah alat medis yang digunakan untuk membuka dinding vagina sehingga dokter dapat melihat leher rahim (serviks) dengan jelas. Alat ini bisa terbuat dari bahan logam tahan karat (stainless steel) yang bisa disterilkan ulang, atau dari bahan plastik tebal yang bersifat sekali pakai (disposable). Penggunaan spekulum pada proses pelepasan IUD sama persis dengan yang digunakan saat pemeriksaan Pap Smear atau saat IUD pertama kali dipasang.
2. Ring Forceps (Cunam/Klem Panjang)
Ini adalah instrumen paling krusial dalam proses pengeluaran IUD. Forceps memiliki bentuk menyerupai gunting panjang, namun ujungnya tidak tajam, melainkan berbentuk capit atau cincin tumpul. Dokter menggunakan alat ini untuk menjepit benang IUD yang menggantung di leher rahim dengan presisi. Ujungnya yang tumpul memastikan bahwa alat ini hanya menjepit benang tanpa melukai dinding serviks atau vagina pasien. Setelah benang terjepit dengan kuat, dokter akan menariknya secara perlahan untuk mengeluarkan IUD.
3. Sumber Cahaya Medis (Lampu Ginekologi)
Walaupun bukan alat yang menyentuh pasien secara langsung, lampu medis yang terang dan terarah sangat penting agar dokter dapat mengidentifikasi lokasi benang IUD dengan akurat di dalam lorong vagina yang gelap.
4. Larutan Antiseptik dan Swab
Sebelum prosedur penarikan dilakukan, dokter sering kali membersihkan area leher rahim menggunakan kapas panjang (swab) yang telah dicelupkan ke dalam larutan antiseptik (seperti povidone-iodine). Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko perpindahan bakteri dari vagina ke dalam rahim saat serviks sedikit terbuka akibat tarikan IUD.
Penting untuk Diingat: Jangan Lepas Sendiri!
- Rahim adalah organ yang sensitif. Menarik IUD tanpa sudut dan pencahayaan yang tepat bisa menyebabkan IUD patah tertinggal di dalam.
- Risiko infeksi panggul sangat tinggi jika menggunakan alat yang tidak steril (misalnya pinset rumahan atau jari tangan).
- Jika IUD tersangkut pada dinding rahim, tarikan paksa sendiri bisa menyebabkan perforasi (kebocoran/robekan) rahim yang berakibat fatal.
Bagaimana Prosedur Pelepasan IUD Dilakukan?
Prosedur pengangkatan IUD umumnya memakan waktu kurang dari lima menit. Bahkan, proses penarikannya sendiri hanya membutuhkan waktu beberapa detik. Berikut adalah langkah-langkah yang akan kamu jalani di ruang praktik dokter:
Langkah 1: Persiapan dan Posisi
Kamu akan diminta untuk mengosongkan kandung kemih terlebih dahulu. Kemudian, kamu akan berbaring di atas meja periksa ginekologi dengan posisi kaki terbuka dan ditopang pada sanggurdi (posisi litotomi), sama seperti saat pemasangan awal atau saat persalinan.
Langkah 2: Pemasangan Spekulum
Dokter akan memasukkan spekulum ke dalam vagina secara perlahan. Kamu mungkin akan merasakan sensasi tekanan atau dingin (jika spekulum terbuat dari logam), namun hal ini seharusnya tidak menyakitkan. Dokter kemudian akan membuka spekulum untuk memvisualisasikan leher rahim.
Langkah 3: Identifikasi Benang
Setiap IUD dilengkapi dengan 1 atau 2 utas benang nilon halus di ujung bawahnya. Benang ini secara alami akan menggantung keluar sedikit dari leher rahim menuju bagian atas vagina. Dokter akan mencari keberadaan benang ini secara visual.
Langkah 4: Penarikan IUD
Setelah benang terlihat, dokter akan menggunakan ring forceps untuk menjepit benang tersebut. Dengan tarikan yang lembut, stabil, dan perlahan, dokter akan menarik IUD keluar. Lengan IUD yang berbentuk huruf “T” bersifat fleksibel, sehingga akan melipat ke atas dengan sendirinya saat melewati lubang leher rahim yang sempit.
Langkah 5: Penyelesaian
Setelah IUD berhasil dikeluarkan, dokter akan melepaskan spekulum. Kamu mungkin akan merasakan kram perut ringan mirip nyeri haid selama sepersekian detik saat IUD melewati leher rahim, namun rasa tidak nyaman ini biasanya menghilang dengan sangat cepat.
Kondisi Khusus: Bagaimana Jika Benang IUD Tidak Terlihat?
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin tidak dapat melihat benang IUD saat melakukan pemeriksaan menggunakan spekulum. Hal ini bisa terjadi karena benang tergulung masuk ke dalam saluran serviks, terputus, atau IUD telah bergeser posisinya (ekspulsi parsial atau perforasi). Jika ini terjadi, dokter akan menggunakan instrumen tambahan:
1. Cytobrush (Sikat Sitologi)
Alat kecil mirip sikat maskara ini biasanya digunakan untuk mengambil sampel sel serviks (Pap smear). Dokter dapat memutar cytobrush dengan lembut di dalam saluran serviks untuk mengait dan menarik keluar benang IUD yang bersembunyi.
2. IUD Hook (Pengait IUD) atau Forceps Buaya
Jika benang tetap tidak dapat dijangkau, dokter akan memasukkan alat medis khusus yang ramping ke dalam rongga rahim, seperti IUD hook (pengait kecil) atau forceps buaya (capitan kecil yang panjang). Alat ini digunakan untuk meraba, mengait, dan menarik rangka IUD secara langsung. Proses ini biasanya memerlukan anestesi lokal pada serviks karena dapat menimbulkan kram yang lebih kuat.
3. Bantuan Ultrasonografi (USG) dan Histeroskopi
Jika posisi IUD tidak diketahui, dokter akan melakukan USG transvaginal untuk melacak letaknya di dalam rahim. Pada kasus yang sangat jarang di mana IUD tertanam pada dinding rahim, prosedur pengangkatan mungkin perlu dilakukan melalui bedah minor yang disebut histeroskopi (menggunakan kamera kecil ke dalam rahim) atau laparoskopi, yang tentunya dilakukan di ruang operasi.
Kapan IUD Harus Segera Dilepas?
Pelepasan IUD tidak selalu harus menunggu sampai batas waktu pakainya habis. Ada beberapa kondisi medis yang mengharuskan alat kontrasepsi ini segera diangkat oleh dokter:
1. Masa Pakai Telah Berakhir
Ini adalah alasan paling umum. IUD hormonal (seperti Mirena, Kyleena) biasanya bertahan antara 3 hingga 5 tahun, sedangkan IUD tembaga (seperti Nova T, Copper T) bisa bertahan hingga 10 tahun. Membiarkan IUD melewati batas waktunya dapat menurunkan efektivitasnya mencegah kehamilan dan meningkatkan risiko infeksi.
2. Merencanakan Kehamilan
Jika kamu dan pasangan memutuskan untuk memiliki anak, IUD dapat dilepas kapan saja pada siklus menstruasi. Kesuburan wanita umumnya akan kembali normal dengan segera setelah IUD (baik tembaga maupun hormonal) dikeluarkan.
3. Mengalami Efek Samping yang Mengganggu
Beberapa wanita mungkin tidak cocok dengan IUD. Indikasi pengangkatan dini meliputi: perdarahan menstruasi yang sangat hebat (menorrhagia) hingga menyebabkan anemia, kram perut atau nyeri panggul yang kronis, atau nyeri hebat saat berhubungan seksual (dispareunia).
4. Terjadi Infeksi Panggul (PID)
Jika kamu didiagnosis menderita Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammatory Disease) dan kondisinya tidak membaik dalam 48-72 jam setelah pemberian antibiotik, IUD mungkin bertindak sebagai benda asing yang menghalangi penyembuhan, sehingga dokter akan menyarankan untuk mengangkatnya.
5. IUD Berpindah Posisi (Ekspulsi)
Terkadang rahim dapat menolak IUD dan mendorongnya keluar secara parsial atau seluruhnya ke saluran serviks. Jika IUD bergeser, efektivitasnya hilang dan dapat menyebabkan nyeri akut. IUD yang bergeser tidak boleh didorong masuk kembali, melainkan harus ditarik keluar seluruhnya.
Persiapan dan Perawatan Setelah Pelepasan IUD
Meskipun prosedur ini ringan, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk meminimalkan ketidaknyamanan:
1. Sebelum Tindakan
Sekitar 30 hingga 60 menit sebelum jadwal dokter, kamu dapat mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol atau ibuprofen (sesuai anjuran). Ini dapat membantu memblokir rasa kram saat IUD ditarik melewati leher rahim.
2. Setelah Tindakan
Normal untuk mengalami flek darah atau perdarahan ringan selama satu hingga dua hari setelah prosedur. Pastikan kamu membawa pantyliner atau pembalut ke klinik. Selain itu, kamu mungkin akan merasakan kram ringan menyerupai menstruasi yang akan berangsur mereda.
3. Perlindungan Kontrasepsi
Sperma dapat hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama 5 hari. Jika kamu tidak ingin hamil, sangat penting untuk tidak melakukan hubungan seksual tanpa kondom selama 7 hari sebelum IUD dilepas, atau segera ganti dengan metode kontrasepsi lain pada hari yang sama saat IUD dicabut.
Studi Mengenai Pelepasan IUD
American Journal of Obstetrics & Gynecology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa ketakutan pasien terhadap rasa sakit saat pelepasan IUD sering kali tidak sejalan dengan realitas medis. Dalam studi retrospektif tersebut, lebih dari 80% wanita melaporkan bahwa rasa sakit yang dialami saat ekstraksi IUD secara signifikan jauh lebih rendah dibandingkan saat pemasangannya (insersi).
Penelitian lain menyoroti pentingnya penanganan oleh tenaga kesehatan bersertifikat dalam kasus “missing strings” (benang hilang). Penggunaan panduan ultrasonografi (USG) terbukti memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 95% dalam menemukan dan memandu ekstraksi IUD tanpa komplikasi, membuktikan betapa amannya prosedur ini jika didukung oleh fasilitas medis yang memadai.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Birth control (contraception): IUD removal.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Intrauterine Device (IUD) Removal.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Diakses pada 2024. Long-Acting Reversible Contraception (LARC): IUD and Implant.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Family Planning: A Global Handbook for Providers.
FAQ
1. Apakah prosedur menggunakan alat untuk melepas iud ini menyakitkan?
Bagi sebagian besar wanita, proses ini tidak menyakitkan, melainkan hanya menimbulkan sensasi kram ringan yang berlangsung selama beberapa detik saat IUD melewati leher rahim. Rasa tidak nyaman ini jauh lebih ringan dibandingkan saat pemasangan awal.
2. Berapa lama proses pelepasan KB spiral berlangsung di ruang dokter?
Prosedur pelepasannya sendiri sangat cepat. Jika benang terlihat dengan jelas, dokter hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk menarik dan mengeluarkan IUD dari dalam rahim.
3. Apakah saya boleh mencoba mencabut IUD sendiri menggunakan jari di rumah?
Tidak. Menarik IUD sendiri sangat berbahaya. Dokter menggunakan instrumen steril dan sudut penarikan yang tepat. Mencabutnya sendiri dapat memicu pendarahan hebat, patahnya IUD di dalam rahim, infeksi, hingga kerusakan permanen pada dinding serviks.
4. Kapan saya bisa merencanakan kehamilan setelah KB IUD dilepas?
Kamu bisa langsung mencoba untuk hamil segera setelah IUD dikeluarkan. Tingkat kesuburan wanita akan langsung kembali normal pada siklus ovulasi berikutnya, baik untuk pengguna IUD non-hormonal maupun hormonal.



