
Baik untuk Mental, Begini Cara Menerapkan Gaya Hidup Stoicism
“Stoicism merupakan suatu filosofi yang menekankan ketenangan pada individu ketika menghadapi perasaan atau situasi yang sulit. Menerapkan stoicism di kehidupan sehari-hari bisa membantumu berpikir lebih logis, membuat perasaan lebih tenang, dan juga memutuskan segala hal tanpa gegabah.”

DAFTAR ISI
- Mengenal Filosofi Stoicism dan Relevansinya Saat Ini
- Prinsip Utama dalam Stoicism
- Cara Menerapkan Gaya Hidup Stoicism Sehari-hari
- Manfaat Stoicism untuk Kesehatan Mental
- Kapan Harus Menghubungi Tenaga Profesional?
- Studi Terkait
- FAQ
Kesehatan mental telah menjadi perhatian utama bagi masyarakat modern Indonesia. Di tengah gempuran informasi di media sosial, tuntutan pekerjaan yang tinggi, hingga dinamika kehidupan perkotaan yang melelahkan, banyak orang mencari cara untuk tetap tenang dan tangguh. Salah satu metode yang kian populer dan terbukti secara psikologis bermanfaat adalah dengan menerapkan prinsip filosofi kuno bernama Stoicism atau Stoisisme.
Meskipun berasal dari Yunani Kuno ribuan tahun lalu, ajaran ini sangat relevan untuk mengatasi kecemasan (anxiety), stres, hingga depresi ringan yang sering dialami saat ini. Stoicism bukan tentang menekan emosi atau menjadi orang yang dingin, melainkan tentang bagaimana kita melatih persepsi kita terhadap realitas agar tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan di luar kendali kita.
Penting bagi kamu untuk memahami bahwa ketenangan batin adalah fondasi dari kesehatan fisik yang optimal. Pikiran yang stres secara kronis dapat memicu peradangan dalam tubuh, menurunkan sistem imun, hingga mengganggu kualitas tidur. Dengan mempelajari cara mengelola pikiran, kamu secara tidak langsung juga sedang menjaga kesehatan organ-organ tubuhmu.
Nah, mau tahu bagaimana cara mulai mempraktikkan filosofi ini dalam kehidupan nyata demi kesehatan mental yang lebih baik? Berikut ulasannya!
Mengenal Filosofi Stoicism dan Relevansinya Saat Ini
Stoicism didirikan oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke-3 SM. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam hal-hal eksternal seperti kekayaan, ketenaran, atau status sosial, melainkan dalam kebajikan (virtue) dan ketenangan pikiran. Tokoh-tokoh besar seperti Marcus Aurelius (seorang Kaisar Romawi), Seneca, dan Epictetus telah mewariskan pemikiran-pemikiran yang kini banyak diadopsi dalam teknik psikologi modern, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Di era digital, kita sering kali merasa cemas karena membandingkan hidup kita dengan orang lain atau merasa frustrasi karena hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Stoicism hadir sebagai “obat” untuk jiwa, memberikan kerangka berpikir yang logis untuk menyaring apa yang layak dipikirkan dan apa yang sebaiknya diabaikan.
Prinsip Utama dalam Stoicism
Sebelum mulai menerapkan gaya hidup ini, kamu perlu memahami tiga pilar utamanya:
1. Dikotomi Kendali (Dichotomy of Control)
Ini adalah prinsip paling mendasar. Stoicism membagi segala hal di dunia menjadi dua: hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Hal yang bisa kita kendalikan hanyalah pikiran, persepsi, dan tindakan kita sendiri. Sementara itu, cuaca, opini orang lain, hasil akhir dari sebuah usaha, hingga masa lalu adalah hal-hal di luar kendali kita. Stres sering muncul saat kita mencoba mengendalikan apa yang sebenarnya tidak bisa dikendalikan.
2. Premeditatio Malorum (Visualisasi Negatif)
Banyak orang diajarkan untuk selalu berpikir positif. Namun, kaum Stoik menyarankan kita untuk sesekali membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri, melainkan agar kita secara mental siap menghadapinya dan lebih menghargai apa yang kita miliki saat ini.
3. Amor Fati (Mencintai Takdir)
Prinsip ini mengajak kita untuk tidak hanya menerima apa yang terjadi, tetapi benar-benar mencintainya. Setiap tantangan atau musibah dilihat sebagai bahan bakar untuk memperkuat karakter kita. Dengan sikap ini, tidak ada kejadian yang benar-benar “buruk”, melainkan hanya ada kesempatan untuk mempraktikkan kesabaran dan ketangguhan.
Cara Menerapkan Gaya Hidup Stoicism Sehari-hari
Menerapkan filosofi ini membutuhkan latihan yang konsisten. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa kamu lakukan:
1. Jeda Sebelum Bereaksi
Saat terjadi sesuatu yang menjengkelkan, misalnya macet atau kritik pedas dari atasan, jangan langsung marah. Berikan jeda sejenak. Ingatkan diri sendiri bahwa kejadian tersebut netral; yang membuatnya “buruk” adalah penilaian atau label yang kamu berikan pada kejadian tersebut. Kamu punya kekuatan untuk memilih reaksi yang lebih tenang.
2. Menulis Jurnal (Journaling)
Seperti yang dilakukan Marcus Aurelius dalam bukunya Meditations, cobalah luangkan waktu di pagi atau malam hari untuk menulis. Tinjau apa yang telah kamu lakukan, apakah tindakanmu sudah selaras dengan nilai-nilaimu, dan hal-hal apa saja yang berada di luar kendalimu hari itu. Ini membantu membersihkan sampah pikiran dan meningkatkan kesadaran diri.
3. Latihan Ketidaknyamanan Sukarela
Sesekali, cobalah untuk keluar dari zona nyaman secara sengaja. Misalnya, mandi air dingin, tidak makan makanan mewah selama sehari, atau berjalan kaki alih-alih naik kendaraan untuk jarak dekat. Ini melatih mentalmu agar tidak terlalu bergantung pada kenyamanan fisik, sehingga saat kondisi sulit benar-benar terjadi, kamu tidak akan mudah hancur.
Tips Menjaga Ketenangan Pikiran
- Fokus pada solusi, bukan pada masalah yang tidak bisa diubah.
- Batasi konsumsi media sosial yang memicu perasaan tidak puas.
- Praktikkan mindfulness atau pernapasan dalam saat merasa cemas.
Manfaat Stoicism untuk Kesehatan Mental
Menerapkan cara berpikir ini memiliki dampak langsung pada kesejahteraan psikologis. Beberapa manfaatnya antara lain:
- Mengurangi Kecemasan: Dengan melepaskan keinginan untuk mengendalikan masa depan atau pendapat orang lain, beban pikiranmu akan berkurang drastis.
- Meningkatkan Resiliensi: Kamu menjadi lebih tangguh menghadapi kegagalan karena menganggapnya sebagai bagian alami dari kehidupan dan sarana pembelajaran.
- Meningkatkan Fokus: Kamu bisa mengalokasikan energi mentalmu sepenuhnya pada hal-hal yang benar-benar bisa kamu ubah, sehingga produktivitas meningkat.
Selain kesehatan mental, kesehatan fisik juga perlu ditunjang dengan nutrisi yang tepat. Terkadang, stres yang berlebihan juga berkaitan dengan kekurangan vitamin tertentu, seperti vitamin B kompleks yang mendukung fungsi saraf. Jika diperlukan, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen kesehatan dengan produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Kapan Harus Menghubungi Tenaga Profesional?
Meskipun filosofi seperti Stoicism sangat membantu, ada kalanya gangguan mental memerlukan penanganan medis yang lebih spesifik. Jika kamu mengalami gejala-gejala berikut secara terus-menerus selama lebih dari dua minggu, sebaiknya jangan mendiagnosis diri sendiri:
- Perasaan sedih atau putus asa yang mendalam.
- Gangguan tidur (insomnia) atau nafsu makan yang berubah drastis.
- Kehilangan minat pada hobi yang biasanya disukai.
- Pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Jika kondisi tersebut terjadi, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater dapat memberikan terapi bicara atau pengobatan yang sesuai dengan kondisi medis kamu.
Studi Mengenai Stoicism dan Psikologi
The Journal of Positive Psychology menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa individu yang mempraktikkan teknik-teknik Stoic menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesejahteraan emosional dan penurunan tingkat stres yang dirasakan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa prinsip dikotomi kendali secara efektif membantu individu mengurangi kecenderungan ruminasi (memikirkan hal buruk secara berulang). Hal ini membuktikan bahwa ajaran filosofis kuno ini memiliki landasan ilmiah yang kuat dalam mendukung kesehatan mental manusia modern.
Menerapkan gaya hidup Stoik memang bukan perjalanan instan. Dibutuhkan ketekunan untuk melatih otot mental kita agar tidak reaktif terhadap dunia luar. Namun, dengan latihan yang konsisten, kamu akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dicuri oleh situasi apa pun.
Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan secara menyeluruh, baik dari segi pikiran maupun fisik. Kamu bisa mendapatkan vitamin dan suplemen yang mendukung kesehatan saraf dan otak dengan praktis di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, jika kamu merasa beban pikiran sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter atau psikolog terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui platform Halodoc.
Referensi:
Pigliucci, M. (2017). How to Be a Stoic: Using Ancient Philosophy to Live a Modern Life. Basic Books.
Robertson, D. (2019). How to Think Like a Roman Emperor: The Stoic Philosophy of Marcus Aurelius. St. Martin’s Press.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Stress management: Know your triggers.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Stoicism and its contribution to modern psychotherapy.
FAQ
1. Apakah menerapkan Stoicism berarti kita tidak boleh menangis atau bersedih?
Tidak. Stoicism bukan tentang menekan emosi, melainkan memahami emosi tersebut. Kamu tetap boleh merasa sedih, namun kamu belajar untuk tidak membiarkan kesedihan tersebut menguasai logika dan tindakanmu dalam jangka panjang.
2. Apa perbedaan utama Stoicism dengan bersikap apatis?
Sangat berbeda. Orang apatis tidak peduli pada apa pun. Sedangkan kaum Stoik sangat peduli pada kebajikan, tugas sosial, dan menjadi manusia yang baik. Mereka hanya “tidak peduli” pada hasil akhir yang di luar kendali mereka setelah mereka berusaha maksimal.
3. Bagaimana cara menerapkan visualisasi negatif tanpa menjadi pesimis?
Tujuannya adalah persiapan, bukan kecemasan. Bayangkan tantangan agar kamu bisa menyiapkan rencana mitigasi, sehingga ketika hal itu benar-benar terjadi, kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan dan tidak kaget secara emosional.
4. Apakah Stoicism bisa digabung dengan ajaran agama?
Bisa. Banyak orang menemukan bahwa prinsip-prinsip Stoic seperti penerimaan dan fokus pada kebajikan sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pada keikhlasan dan pengendalian diri.
Punya Keluhan Kesehatan atau Merasa Stres? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau sering merasa stres akibat tekanan sehari-hari, tapi bingung harus melakukan apa? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


