Perbedaan Kepiting dan Rajungan: Mana yang Lebih Enak?

DAFTAR ISI
- Perbedaan Fisik dan Habitat Kepiting vs Rajungan
- Perbandingan Nutrisi: Mana yang Lebih Sehat?
- Manfaat Kesehatan dari Mengonsumsi Keduanya
- Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
- Cara Sehat Memilih dan Mengonsumsi
- Studi Terkait Nutrisi Seafood
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Makanan laut atau seafood merupakan salah satu hidangan favorit masyarakat Indonesia. Di antara banyaknya pilihan hidangan laut yang menggugah selera, kepiting dan rajungan sering kali menjadi primadona di berbagai restoran. Keduanya memiliki rasa yang gurih, manis, dan tekstur daging yang memanjakan lidah. Namun, tahukah kamu bahwa kepiting dan rajungan adalah dua hewan yang berbeda?
Banyak orang masih sering tertukar saat membedakan kepiting dan rajungan, baik saat membelinya di pasar maupun saat memesan di restoran. Secara sekilas, bentuk fisik keduanya memang tampak serupa karena masih berada dalam satu ordo, yaitu Decapoda (hewan berkaki sepuluh). Meski begitu, jika diperhatikan lebih saksama, habitat, bentuk cangkang, hingga tekstur daging keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Mengetahui perbedaan kepiting dan rajungan bukan hanya soal selera kuliner, tetapi juga sangat penting dari kacamata kesehatan dan nutrisi. Keduanya memang kaya akan protein berkualitas tinggi, asam lemak omega-3, dan berbagai mineral esensial. Namun, ada perbedaan tingkat kolesterol dan profil nutrisi yang sebaiknya kamu perhatikan, terutama jika kamu atau anggota keluargamu memiliki riwayat masalah kardiovaskular atau alergi makanan laut.
Nah, mau tahu apa saja perbedaan kepiting dan rajungan dari segi fisik, nutrisi, hingga dampak kesehatannya? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu ketahui agar tidak salah pilih saat mengonsumsinya!
Perbedaan Fisik dan Habitat Kepiting vs Rajungan
Langkah pertama untuk membedakan kedua hewan ini adalah dengan melihat bentuk fisik dan mengetahui dari mana mereka berasal. Hal ini juga akan memengaruhi daya tahannya saat dijual di pasaran.
1. Habitat dan Tempat Hidup
Kepiting yang sering kita konsumsi (terutama kepiting bakau atau Scylla serrata) umumnya hidup di daerah perairan payau, hutan bakau (mangrove), hingga di dekat pantai yang berlumpur. Mereka memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa untuk bertahan hidup di darat tanpa air selama beberapa hari, asalkan insangnya tetap lembap. Itulah sebabnya kamu sering melihat kepiting dijual di pasar dalam keadaan hidup dan diikat dengan tali.
Sebaliknya, rajungan (Portunus pelagicus) atau yang dikenal di dunia internasional sebagai blue swimming crab, hidup sepenuhnya di laut yang dalam dengan salinitas (kadar garam) yang tinggi. Rajungan tidak bisa bertahan hidup lama jika diangkat dari air. Begitu ditangkap oleh nelayan dan diangkat ke darat, rajungan akan segera mati. Oleh karena itu, rajungan lebih sering dijual di pasar swalayan dalam keadaan sudah mati, didinginkan di atas tumpukan es, atau bahkan dagingnya sudah dikupas dan dikemas dalam kaleng.
2. Bentuk dan Warna Cangkang
Perbedaan visual yang paling mencolok ada pada cangkangnya. Kepiting memiliki cangkang yang lebih membulat, tebal, dan sangat keras. Warnanya cenderung gelap, berkisar antara hijau kecokelatan, hitam, hingga hijau lumut polos tanpa corak yang menonjol. Capit kepiting juga jauh lebih besar, pendek, dan sangat kuat karena digunakan untuk menggali lumpur dan memecahkan cangkang mangsanya.
Di sisi lain, rajungan memiliki cangkang yang bentuknya lebih memanjang ke samping dan pipih (ramping). Cangkang rajungan lebih tipis dan lebih mudah dipecahkan dibandingkan kepiting. Warna rajungan sangat menarik dan memiliki corak bercak-bercak putih. Rajungan jantan biasanya memiliki warna dasar kebiruan, sedangkan yang betina cenderung berwarna kehijauan dengan bercak putih yang sama. Capit rajungan juga lebih panjang dan ramping.
3. Tekstur dan Rasa Daging
Karena habitatnya yang berbeda, tekstur daging kedua hewan ini pun tidak sama. Daging kepiting terasa lebih padat, tebal, dan mengenyangkan. Rasa daging kepiting cenderung lebih manis. Sementara itu, daging rajungan lebih empuk, lembut, dan berserat halus. Meskipun rasanya mungkin tidak semanis kepiting bakau, daging rajungan memiliki sensasi gurih laut (umami) yang sangat kuat, sehingga sangat cocok dijadikan isian lumpia, sup asparagus, atau dimsum.
Tips Memilih Seafood Segar
- Periksa Aroma: Seafood yang segar memiliki aroma laut yang khas dan tidak berbau busuk, amis menyengat, atau berbau seperti amonia.
- Cek Mata dan Cangkang: Untuk rajungan utuh, pilih yang matanya masih terlihat bening (tidak keruh). Pastikan cangkangnya utuh dan tidak berlendir.
- Tekan Dagingnya: Jika membeli daging rajungan kupas, pastikan dagingnya padat dan kenyal, tidak lembek atau berair berlebihan.
Perbandingan Nutrisi: Mana yang Lebih Sehat?
Baik kepiting maupun rajungan tergolong dalam makanan padat nutrisi. Keduanya merupakan sumber protein tanpa lemak (lean protein) yang sangat baik untuk pembentukan sel dan jaringan tubuh. Namun, ada sedikit perbedaan dalam komposisi nutrisinya.
1. Kandungan Kalori dan Protein
Keduanya rendah kalori jika direbus atau dikukus. Dalam 100 gram daging kepiting maupun rajungan, terdapat sekitar 80 hingga 90 kalori. Keduanya menyumbangkan sekitar 16 hingga 19 gram protein berkualitas tinggi yang mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Ini membuat keduanya menjadi menu yang sangat cocok untuk mereka yang sedang menjalani diet penurunan berat badan atau pembentukan otot, asalkan cara masaknya benar (tidak digoreng atau dimasak dengan kuah santan kental).
2. Kadar Kolesterol
Ini adalah poin krusial yang paling sering ditanyakan. Makanan laut dari golongan Crustacea (seperti udang, kepiting, dan lobster) memang memiliki reputasi sebagai makanan tinggi kolesterol. Secara umum, kepiting bakau memiliki kadar kolesterol yang sedikit lebih tinggi dibandingkan rajungan laut. Dalam 100 gram daging kepiting, kadar kolesterolnya bisa mencapai sekitar 78-95 mg. Sedangkan rajungan memiliki sekitar 50-70 mg kolesterol per 100 gram.
Batas konsumsi kolesterol harian bagi orang sehat adalah 300 mg per hari, dan 200 mg bagi penderita penyakit jantung. Mengonsumsi satu porsi (sekitar 100-150 gram) daging kepiting atau rajungan masih sangat aman dan tidak akan langsung membuat kolesterol darah melonjak tajam. Yang menjadi masalah adalah bahan tambahan saat memasaknya, seperti saus padang yang menggunakan banyak minyak, mentega (butter), atau santan, yang menyumbang lemak jenuh dalam jumlah besar.
3. Vitamin dan Mineral Esensial
Rajungan dan kepiting adalah gudangnya mineral. Keduanya sangat kaya akan Zinc (seng), Selenium, Tembaga (Copper), dan Fosfor. Zinc sangat penting untuk menjaga fungsi sistem imun dan mempercepat penyembuhan luka. Selenium berperan sebagai antioksidan kuat yang melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, daging kedua hewan ini kaya akan Vitamin B12, yang esensial untuk fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah.
Manfaat Kesehatan dari Mengonsumsi Keduanya
Dengan profil nutrisi yang mengesankan, memasukkan kepiting dan rajungan ke dalam pola makan sehat (dalam jumlah moderat) dapat memberikan berbagai manfaat medis bagi tubuh, antara lain:
1. Mendukung Kesehatan Otak dan Jantung
Keduanya mengandung asam lemak Omega-3 rantai panjang (EPA dan DHA). Meskipun jumlahnya tidak sebanyak pada ikan salmon atau sarden, Omega-3 dalam kepiting dan rajungan tetap berkontribusi dalam menurunkan peradangan sistemik di dalam tubuh. Omega-3 terbukti secara klinis dapat membantu menurunkan kadar trigliserida dalam darah, mencegah pembekuan darah, serta mendukung perkembangan dan fungsi kognitif otak.
2. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Kandungan Zinc (seng) dan Selenium yang sangat tinggi pada hewan cangkang ini bertindak sebagai tameng bagi sistem kekebalan tubuh. Selenium membantu merangsang aktivitas sel darah putih dan bertindak sebagai antioksidan yang menjaga tiroid tetap berfungsi optimal. Kekurangan kedua mineral ini sering dikaitkan dengan mudahnya seseorang terserang penyakit infeksi.
3. Mencegah Anemia
Berkat kandungan Vitamin B12 (kobalamin) yang tinggi, mengonsumsi kepiting atau rajungan dapat membantu mencegah anemia megaloblastik, yaitu suatu kondisi di mana tubuh tidak dapat menghasilkan sel darah merah yang cukup dan sehat. Gejala tubuh yang kekurangan Vitamin B12 meliputi mudah lelah, lemas, kulit pucat, dan gangguan saraf tepi (kesemutan).
Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Walaupun bergizi tinggi, konsumsi kepiting dan rajungan juga membawa beberapa risiko kesehatan yang harus diwaspadai, terutama bagi individu dengan kondisi medis tertentu.
1. Alergi Makanan Laut (Seafood Allergy)
Kepiting dan rajungan mengandung protein spesifik bernama tropomiosin, yang merupakan pemicu utama alergi krustasea. Alergi ini bisa muncul di usia berapa pun, meskipun sebelumnya kamu tidak pernah memiliki riwayat alergi seafood. Jika kamu mengalami gejala alergi makanan laut seperti gatal-gatal (biduran), pembengkakan pada bibir atau wajah (angioedema), mual, kram perut, hingga sesak napas setelah makan kepiting atau rajungan, segera cari pertolongan medis. Reaksi alergi parah dapat memicu syok anafilaksis yang mengancam nyawa. Untuk penanganan pertama pada reaksi gatal kemerahan di kulit yang bersifat ringan, kamu bisa beli obat alergi seperti antihistamin melalui aplikasi kesehatan, namun konsultasi dengan dokter tetap diutamakan.
2. Kandungan Natrium (Sodium) Alami
Sebagai hewan laut, rajungan secara alami mengandung natrium yang lebih tinggi dibandingkan hewan darat. Satu porsi rajungan bisa mengandung sekitar 200-300 mg natrium. Bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), asupan natrium harian harus dibatasi. Oleh karena itu, hindari memasak hidangan ini dengan tambahan garam yang berlebihan, saus tiram, atau kecap asin.
3. Risiko Kontaminasi Logam Berat dan Mikroplastik
Hewan bercangkang yang hidup di dasar perairan (benthic feeder) rentan menyerap polutan dari lingkungan sekitarnya, termasuk logam berat seperti kadmium, merkuri, dan timbal. Kepiting bakau yang hidup di perairan muara yang tercemar limbah industri memiliki risiko tinggi terpapar logam berat. Oleh karena itu, pastikan untuk membeli kepiting atau rajungan dari sumber laut atau budidaya yang bersih dan terpercaya. Buang bagian insang dan usus kepiting sebelum dimasak, karena bagian tersebut paling banyak menyimpan kotoran dan racun.
Cara Sehat Memilih dan Mengonsumsi
Untuk memaksimalkan manfaat gizi dan meminimalkan risiko (seperti asupan kolesterol dan lemak jenuh berlebih), perhatikan cara pengolahannya:
- Kukus atau Rebus: Ini adalah metode paling sehat. Mengukus kepiting dengan jahe, serai, dan bawang putih tidak hanya membunuh bakteri pathogen, tetapi juga menjaga nutrisi agar tidak larut, sekaligus menghilangkan bau amis.
- Hindari Saus Tinggi Kalori: Kepiting saus lada hitam, saus padang, atau saus telur asin memang lezat, tetapi kalorinya bisa membengkak hingga tiga kali lipat akibat penggunaan margarin, minyak, dan gula. Jika sedang menjaga diet, pilih bumbu kuah bening atau asam manis dengan sedikit minyak.
- Porsi Bijak: Batasi konsumsinya 1-2 kali seminggu, dan padukan dengan banyak sayuran berserat tinggi untuk membantu mengikat lemak dan kolesterol di saluran cerna.
Studi Terkait Nutrisi Seafood
Journal of Food Composition and Analysis menerbitkan studi yang mengulas profil asam lemak dan kandungan mineral pada krustasea laut. Studi tersebut menjelaskan bahwa krustasea laut seperti rajungan memiliki rasio asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) terhadap asam lemak jenuh (SFA) yang sangat baik untuk profil lipid darah manusia.
Penelitian ini menegaskan bahwa ketakutan masyarakat akan kolesterol pada makanan laut sering kali berlebihan, padahal asam lemak sehat (Omega-3) di dalamnya justru bersifat kardioprotektif (melindungi jantung), selama tidak digoreng atau dimasak menggunakan lemak trans.
Mengetahui perbedaan kepiting dan rajungan memberikan kita wawasan yang lebih baik dalam merencanakan menu harian. Rajungan bisa menjadi pilihan aman dengan kolesterol yang sedikit lebih rendah, sementara kepiting menawarkan sensasi daging yang lebih padat dan manis. Pilihan ada di tanganmu, sesuaikan dengan selera dan kondisi kesehatanmu saat ini.
Jika kamu merasakan gejala yang tidak biasa, seperti gatal-gatal persisten, gangguan pencernaan berat, atau kekhawatiran terkait kadar kolesterol setelah mengonsumsi hidangan laut, jangan ragu untuk memeriksakannya lebih lanjut.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Food and Agriculture Organization (FAO). Diakses pada 2026. Nutritional Profile of Marine Crustaceans.
U.S. Department of Agriculture (USDA) FoodData Central. Diakses pada 2026. Crab, crab meat, cooked.
Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA). Diakses pada 2026. Shellfish Allergy.
American Heart Association (AHA). Diakses pada 2026. Seafood, Omega-3 Fatty Acids and Heart Health.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Tabel Komposisi Pangan Indonesia.
FAQ
1. Apakah perbedaan kepiting dan rajungan memengaruhi kadar kolesterolnya?
Ya, secara umum kepiting memiliki kadar kolesterol yang sedikit lebih tinggi (sekitar 78-95 mg per 100 gram) dibandingkan rajungan (sekitar 50-70 mg per 100 gram). Meski begitu, keduanya masih aman dikonsumsi jika diolah tanpa banyak tambahan lemak jenuh seperti mentega atau santan.
2. Apakah ibu hamil boleh makan kepiting dan rajungan?
Boleh, asalkan kepiting atau rajungan dimasak hingga benar-benar matang sempurna untuk membunuh bakteri jahat seperti Listeria dan Salmonella. Selain itu, batasi porsinya dan hindari mengonsumsi organ dalam (seperti insang atau usus/tomalley) karena bagian tersebut paling berisiko menyimpan polutan logam berat.
3. Mengapa rajungan cepat mati saat diangkat dari laut?
Rajungan hidup sepenuhnya di perairan laut dalam yang memiliki salinitas (kadar garam) tinggi dan selalu berada di dalam air. Insang mereka tidak beradaptasi untuk menahan kelembapan di udara terbuka, berbeda dengan kepiting bakau yang berevolusi untuk bisa bertahan hidup di lumpur saat air surut.
4. Bisakah kita tiba-tiba alergi rajungan padahal sebelumnya tidak?
Sangat bisa. Alergi makanan laut dapat berkembang pada usia dewasa (adult-onset food allergy), meskipun kamu sering makan seafood tanpa masalah saat masa kanak-kanak. Sistem kekebalan tubuh bisa tiba-tiba mengenali protein tropomiosin dalam daging krustasea sebagai ancaman, sehingga memicu reaksi alergi.



