• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Deteksi OCD

Begini Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Deteksi OCD

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Apa dirimu memiliki kebiasaan melakukan tindakan secara berulang-ulang? Bila iya, bisa jadi kondisi tersebut menandai adanya OCD atau obsessive compulsive disorder. Nah, sudah familiar dengan OCD? 

Obsessive compulsive disorder merupakan gangguan mental yang membuat pengidapnya harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang Andaikan tak melakukannya, maka pengidapnya akan selalu diselimuti ketakutan dan kecemasan.

Gangguan mental yang satu ini tak memandang jenis kelamin atau bahkan usia. Artinya, tiap orang bisa saja terserang OCD kapan saja. Akan tetapi, dalam kebanyakan kasus OCD umumnya terjadi di awal usia dewasa. 

Pengidap OCD sebenarnya tahu kalau pikiran dan tindakannya tersebut berlebihan. Namun, mereka merasa harus terus melakukanya dan tak bisa menghindarinya. 

Pertanyaannya, bagaimana sih cara mendeteksi atau mendiagnosis OCD pada diri seseorang? 

Baca juga: Trauma Masa Kecil, Apakah Benar Menjadi Pemicu OCD?

Dari Wawancara sampai Tes Lab

Terdapat beberapa cara untuk mendiagnosis OCD. Pertama, dokter atau psikiater akan menanyakan seputar pikiran dan perilaku seperti apa yang muncul secara berulang-ulang. Metode pemeriksaan ini dilakukan lewat wawancara dan psikotes atau kuesioner. Selain mewawancarai pengidap, cara mendeteksi OCD juga melalui wawancara dengan keluarga dan orang terdekat pengidapnya. Metode wawancara atau kuesioner ini dilakukan untuk membantu menemukan dan menyingkirkan masalah lain yang dapat menyebabkan gejala dan memeriksa komplikasi terkait. 

Selanjutnya, dokter akan melakukan tes laboratorium. Mulai dari hitung darah lengkap (CBC), pemeriksaan fungsi tiroid, dan skrining untuk alkohol dan obat-obatan. Di samping itu, ada pula evaluasi psikologis termasuk membahas pikiran, perasaan, gejala, dan pola perilaku. Kriteria diagnostik untuk OCD ada pada Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Dalam mendiagnosis OCD, dokter juga akan menilai dampak OCD terhadap kehidupan sehari-hari pengidapnya. Misalnya, apakah OCD ini sudah mengganggu prestasi pendidikan, kualitas pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas rutin lainnya. 

Hal yang perlu ditegaskan, keparahan gejala akibat OCD bisa bermacam-macam. Oleh sebab itu, amat penting untuk mengetahui isi pikiran dan alasan perilaku pengidapnya. Hal ini bertujuan untuk menentukan metode pengobatan yang efektif dan sesuai. 

Baca juga: Tenang, Anak OCD Bisa Bersosialisasi dengan Cara Ini

Berkaitan dengan Pikiran dan Perilaku

Obsessive compulsive disorder sebenarnya bisa memunculkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala OCD tentunya berkaitan dengan pikiran yang mengganggu dan timbul secara terus-menerus (obsesif), dan perilaku yang dilakukan berulang-ulang (kompulsif).

Akan tetapi, dalam beberapa kasus ada pengidapnya yang hanya mengalami pikiran obsesif, tanpa disertai perilaku kompulsif. Namun, ada juga yang mengalami hal sebaliknya. 

Nah, berikut beberapa gejala OCD yang bisa dialami oleh pengidapnya.

Pikiran Obsesif

  • Takut melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk bagi diri dan orang lain. Contohnya, merasa ragu apakah sudah mematikan kompor. 

  • Takut kotor atau terserang penyakit. Contoh, menghindari atau tidak mau bersalaman dengan orang lain. 

  • Sangat menginginkan sesuatu teratur dan selaras. Misalnya, menyusun baju berdasarkan gradasi warna. 

Perilaku Kompulsif

  • Mencuci tangan tangan berkali-kali, bahkan sampai lecet.

  • Memeriksa pintu atau kompor berkali-kali.

  • Terus menyusun benda menghadap ke arah yang sama. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
American Psychiatric Association. Diakses pada 2020. What is Obsessive-Compulsive Disorder?
NHS UK. Diakses pada 2020. Health A-Z. Obsessive Compulsive Disorder (OCD). 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).