Trauma Masa Kecil, Apakah Benar Menjadi Pemicu OCD?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
trauma-masa-kecil-apakah-benar-menjadi-pemicu-ocd-halodoc

Halodoc, Jakarta – Masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan kenangan manis dan bahagia bersama orangtua dan teman-teman. Tapi nyatanya, tidak semua anak bernasib beruntung dan bisa merasakan kasih sayang yang berlimpah dari orangtuanya. Sebagian anak justru harus menerima dan menghadapi perceraian kedua orangtuanya di usia yang masih terbilang sangat kecil.

Jangan kira anak yang masih kecil tidak mengerti apa-apa. Nyatanya, peristiwa yang sangat buruk ini bisa menimbulkan trauma yang mendalam yang bisa ia ingat hingga dewasa. Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan risiko tinggi mengalami berbagai macam kelainan psikologis. Salah satunya adalah gangguan obsesif kompulsif atau yang dikenal juga dengan OCD. Simak bagaimana trauma masa kecil bisa memicu OCD di sini.

Apa Itu OCD?

OCD merupakan kelainan psikologis yang bisa menyebabkan pengidapnya memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Kelainan ini bisa dikenali dari gejala yang ditunjukkan pengidapnya, yaitu memiliki pikiran dan ketakutan yang tidak masuk akal (obsesi) yang kemudian akan memengaruhi perilakunya menjadi repetitif atau kompulsi.

Pengidap OCD bisa melakukan suatu hal secara berulang-ulang. Misalnya, memeriksa pintu dan jendela lebih dari tiga kali sebelum keluar rumah. Gangguan obsesif kompulsif ini bersifat jangka panjang, sama halnya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.

OCD Bisa Dipicu Trauma Masa Kecil

Penyebab pasti OCD sebenarnya belum diketahui, namun pengalaman hidup yang berat diduga berperan besar dalam memicu gangguan psikologis ini. Misalnya, kehilangan anggota keluarga, pernah mengalami bullying, perceraian orang tua. Itulah mengapa orang-orang yang pernah mengalami kejadian yang menyedihkan atau traumatis tersebut pada masa kecil berisiko tinggi mengalami OCD, apalagi bila dari awal ia memang memiliki risiko OCD.

Baca juga: Ini 6 Cara Mengurangi Dampak Trauma Masa Kecil

Penyebab dan Faktor Risiko OCD Lainnya

Selain pengalaman hidup, faktor keturunan juga merupakan pemicu terbesar timbulnya gangguan psikologis OCD. Memiliki orangtua atau saudara yang mengidap OCD bisa membuat seseorang berisiko tinggi mengalami gangguan yang sama. OCD diduga terjadi karena ada gen tertentu yang diturunkan oleh orangtua yang memengaruhi perkembangan otak seseorang. Tapi, jenis gen apa yang berpengaruh menimbulkan OCD masih diteliti hingga kini.

Faktor risiko lain yang mungkin juga berpengaruh terhadap timbulnya OCD adalah kepribadian yang dimiliki seseorang. Orang yang rapi, teliti, perfeksionis, serta memiliki disiplin tinggi berisiko lebih besar mengalami OCD.

Gejala OCD

Gangguan obsesif kompulsif bisa menimbulkan dampak yang berbeda-beda ke setiap orang. Tapi umumnya, kelainan ini menyebabkan pola pikir dan perilaku tertentu, yaitu obsesi, kompulsi, kelegaan sementara, dan kecemasan. Berikut contoh-contoh obsesi yang bisa dialami pengidap OCD:

  • Takut kotor, misalnya anti menyentuh barang yang sudah disentuh orang lain atau enggan bersalaman.
  • Sangat memerhatikan keteraturan dan tata letak yang simetris, misalnya menyusun pakaian berdasarkan gradasi warnanya.
  • Perasaan ketakutan yang berlebihan, sehingga pengidap bisa berulang kali memastikan bahwa pintu rumah sudah dikunci.
  • Munculnya pikiran yang tidak diinginkan, biasanya berkaitan dengan sikap agresif, seksualitas, keyakinan, dan agama. Misalnya, pengidap bisa tiba-tiba mengeluarkan sumpah serapah tanpa alasan yang jelas.

Baca juga: Kenali 4 Gejala yang Dialami Pengidap OCD

Pengobatan OCD

Bila kamu memiliki trauma masa kecil atau faktor risiko OCD lainnya, segera bicarakanlah pada psikolog yang bisa membantumu untuk mengatasi trauma tersebut, sehingga OCD bisa dicegah. Tapi, bila kamu terlanjur mengalami OCD, maka bisa menjalani terapi perilaku kognitif yang bermanfaat untuk menemukan pemicu kecemasan yang kamu alami. Selanjutnya, terapi tersebut bisa membantumu mengatasi kecemasan secara bertahap dengan cara yang sehat.

Baca juga: Penanganan yang Dilakukan pada Pengidap OCD

Kamu juga bisa menghubungi psikolog Halodoc untuk membicarakan masalah psikologis yang dialami oleh kamu atau orang terdekatmu. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa menghubungi dokter untuk meminta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.