• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Tes untuk Diagnosis Hematoma Subdural

Begini Tes untuk Diagnosis Hematoma Subdural

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Hematoma subdural merupakan kumpulan darah di luar otak dan biasanya disebabkan oleh cedera kepala parah. Pendarahan dan peningkatan tekanan pada otak dari hematoma subdural dapat mengancam jiwa. Beberapa hematoma subdural dapat sembuh secara spontan, tetapi ada juga yang membutuhkan drainase bedah. 

Pendarahan di hematoma subdural berada di bawah tengkorak dan di luar otak, bukan di otak itu sendiri. Namun, ketika darah menumpuk, tekanan pada otak meningkat. Tekanan pada otak ini menyebabkan gejala hematoma subdural. Apabila tekanan di dalam tengkorak naik ke tingkat yang sangat tinggi, hematoma subdural dapat menyebabkan ketidaksadaran dan kematian. 

Pilihan Diagnosis Hematoma Subdural

Biasanya, orang yang datang ke rumah sakit setelah cedera kepala sering menjalani pencitraan kepala, biasanya dengan computed tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI scan). Tes ini membuat gambar bagian dalam tengkorak, biasanya mendeteksi adanya subdural hematoma. MRI merupakan diagnosis yang lebih unggul dari CT scan dalam mendeteksi hematoma subdural, tetapi CT scan lebih cepat dan lebih mudah dilakukan. 

Baca juga: Waspada Komplikasi Akibat Hematoma Subdural

Meskipun jarang terjadi, angiografi digunakan untuk mendiagnosis hematoma subdural. Selama angiografi (angiogram), kateter dimasukkan melalui arteri di pangkal paha dan dimasukkan ke dalam arteri leher dan otaknya. Pewarna khusus kemudian disuntikkan, dan layar sinar-X menunjukkan aliran darah melalui arteri dan vena. 

Pemindaian CT scan atau MRI dilakukan untuk dapat melihat otak, tengkorak, pembuluh darah. Pemindaian ini juga dapat mengungkapkan jika ada darah di dalam otak. Selain cara diagnosis tersebut, dokter juga dapat memesan tes darah untuk memeriksa jumlah darah secara lengkap. Tes hitung darah lengkap dapat mengukur sel darah merah yang rendah dapat menunjukkan kehilangan darah yang signifikan. 

Dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa denyut jantung dan tekanan darah untuk melihat perdarahan internal. Untuk mengetahui pemeriksaan apa yang sebaiknya dijalani pada kasus kamu, sebaiknya tanyakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

Baca juga: Waspada Lumpuh Otak yang Dapat Terjadi Akibat Kecelakaan

Perawatan Hematoma Subdural Berdasarkan Keparahan

Pengobatan hematoma subdural tergantung pada tingkat keparahannya. Perawatan mulai dari pengamatan dengan cermat (tanpa pengobatan) hingga operasi otak. Pada hematoma subdural kecil dengan gejala ringan, dokter mungkin merekomendasikan tidak ada pengobatan khusus selain pengamatan. Tes pencitraan kepala berulang kali sering dilakukan untuk memantau apakah hematoma subdural membaik. 

Hematoma subdural yang lebih parah atau berbahaya memerlukan pembedahan untuk mengurangi tekanan pada otak. Ahli bedah dapat menggunakan berbagai teknik untuk mengobati hematoma subdural:

  • Burr hole trephination. Sebuah lubang dibor di tengkorak di atas area hematoma subdural, dan darah disedot keluar melalui lubang. 
  • Craniotomy. Bagian yang lebih besar dari tengkorang dihilangkan, untuk memungkinkan akses yang lebih baik ke hematoma subdural dan mengurangi tekanan. Tengkorak yang diangkat diganti segera setelah prosedur. 
  • Kraniektomi. Bagian tengkorak diangkat untuk waktu yang lama, untuk memungkinkan otak yang terluka mengembang dan membengkak tanpa kerusakan permanen. Pengobatan ini tidak sering digunakan untuk mengobati hematoma subdural. 

Komplikasi hematoma subdural dapat terjadi segera setelah cedera atau kadang-kadang setelah cedera telah diobati. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Herniasi otak, yang memberi tekanan pada otak dan dapat menyebabkan koma atau kematian. 
  • Kejang.
  • Kelemahan atau mati rasa otot permanen. 

Baca juga: Beda Epidural Hematoma dan Subdural Hematoma

Tingkat komplikasi tergantung pada keparahan cedera otak. Masalah kesehatan lainnya dapat memengaruhi subdural kronis atau akut. Orang yang menggunakan antikoagulan (pengencer darah) berisiko lebih tinggi. Orang yang berusia di atas 65 tahun memiliki risiko lebih tinggi, terutama untuk tipe kronis. 

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2020. Subdural Hematoma.

Healthline. Diakses pada 2020. Subdural Hematoma.