Ad Placeholder Image

Bekas Imunisasi BCG Bernanah? Normal, Jangan Panik!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Bekas Imunisasi BCG Bernanah? Orang Tua Tak Perlu Panik!

Bekas Imunisasi BCG Bernanah? Normal, Jangan Panik!Bekas Imunisasi BCG Bernanah? Normal, Jangan Panik!

DAFTAR ISI


Melihat kondisi kulit bayi yang berubah setelah imunisasi seringkali membuat orang tua merasa khawatir, terutama jika muncul benjolan kecil yang tampak seperti bisul. Salah satu fenomena yang paling sering ditanyakan oleh para ibu adalah kondisi bekas suntik BCG bernanah dan pecah. Meskipun terlihat menyeramkan atau seperti infeksi, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa reaksi ini sebenarnya merupakan bagian alami dari proses pembentukan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) adalah salah satu imunisasi wajib di Indonesia yang diberikan untuk melindungi bayi dari bentuk berat penyakit TBC, seperti meningitis TB dan TB milier. Berbeda dengan imunisasi lainnya, BCG menggunakan bakteri hidup yang dilemahkan (Mycobacterium bovis). Karakteristik bakteri ini menyebabkan respons lokal pada jaringan kulit di tempat penyuntikan, yang pada akhirnya akan meninggalkan bekas atau jaringan parut yang khas.

Kekhawatiran biasanya memuncak ketika benjolan tersebut mulai melunak, berisi cairan kekuningan, dan akhirnya pecah meninggalkan luka terbuka. Banyak orang tua yang tergoda untuk memberikan salep atau obat tertentu guna mempercepat penyembuhan. Namun, sebagai tindakan awal, sangat penting untuk mengetahui mana reaksi yang normal dan mana yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Jika kamu merasa sangat cemas dengan kondisi bekas suntik bcg bernanah dan pecah, kamu bisa konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa fenomena bernanah ini terjadi, bagaimana cara merawatnya dengan benar di rumah, serta tanda-tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Dengan pemahaman yang tepat, kamu tidak perlu panik dan bisa mendampingi proses tumbuh kembang Si Kecil dengan lebih tenang.

Memahami Vaksin BCG dan Cara Kerjanya

Vaksin BCG terbuat dari galur bakteri Mycobacterium bovis yang telah dilemahkan di laboratorium sehingga tidak menyebabkan penyakit, tetapi cukup kuat untuk memicu sistem imun mengenali bakteri penyebab TBC. Vaksin ini diberikan secara intrakutan, artinya disuntikkan tepat di bawah lapisan kulit teratas, biasanya di lengan kanan atas. Karena bakteri tersebut “hidup”, sistem imun tubuh akan bereaksi secara aktif tepat di lokasi suntikan tersebut.

Proses ini memicu apa yang disebut dengan reaksi lokal tertunda. Tidak seperti vaksin flu atau DPT yang mungkin menyebabkan bengkak dalam hitungan jam, reaksi BCG membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk berkembang. Munculnya nanah sebenarnya menandakan bahwa sel darah putih sedang bekerja melawan bakteri di lokasi tersebut, yang merupakan bukti bahwa vaksin “bekerja” membangkitkan memori sistem imun anak.

Mengapa Bekas Suntik BCG Bernanah dan Pecah?

Kondisi bernanah pada bekas suntikan BCG dikenal secara medis sebagai pembentukan pustula. Ini bukan infeksi bakteri sekunder dari luar, melainkan respons peradangan dari dalam tubuh. Ketika nanah tersebut pecah, cairan akan keluar dan luka akan perlahan-lahan mengering membentuk keropeng. Proses pecahnya pustula ini justru membantu tubuh mengeluarkan sisa-sisa sel mati dan memulai proses granulasi atau pembentukan jaringan kulit baru.

Fenomena ini dialami oleh sekitar 90-95% anak yang menerima vaksin BCG. Jika bekas suntikan tidak menunjukkan reaksi sama sekali, terkadang (meski jarang) diperlukan evaluasi apakah vaksinasi berhasil atau perlu diulang, meskipun saat ini parut BCG bukan lagi satu-satunya indikator keberhasilan vaksinasi. Jadi, selama kondisi anak tetap aktif dan tidak demam tinggi, nanah yang pecah adalah tanda yang baik.

Tahapan Reaksi Normal Imunisasi BCG

Penting bagi orang tua untuk mengetahui lini masa atau timeline normal setelah bayi mendapatkan suntikan BCG agar tidak salah mendiagnosis kondisi anak:

  • Minggu 0-2: Bekas suntikan biasanya hanya berupa bintik merah kecil yang mungkin akan menghilang sementara.
  • Minggu 2-4: Muncul benjolan merah kecil (papula) yang terasa agak keras saat diraba.
  • Minggu 4-6: Benjolan berubah menjadi pustula atau bisul kecil yang berisi cairan nanah. Di tahap ini, kulit di sekitarnya mungkin tampak kemerahan.
  • Minggu 6-8: Pustula akan pecah secara alami. Luka ini mungkin tampak seperti borok kecil berdiameter 5-10 mm.
  • Minggu 8-12: Luka akan mengering, membentuk keropeng, dan akhirnya sembuh meninggalkan jaringan parut yang sedikit mencekung (scar).

Cara Merawat Bekas Suntik yang Pecah

Perawatan luka BCG sebenarnya sangat sederhana karena tubuh memiliki mekanisme penyembuhannya sendiri. Berikut adalah langkah-langkah yang disarankan:

  1. Jaga Kebersihan: Pastikan area tersebut tetap bersih. Saat memandikan bayi, cukup basuh dengan air bersih dan sabun lembut yang biasa digunakan bayi.
  2. Keringkan dengan Lembut: Setelah mandi, tepuk-tepuk area luka dengan handuk bersih atau kain kasa steril hingga kering. Jangan digosok.
  3. Gunakan Pakaian Longgar: Pakaikan baju yang berbahan katun dan longgar agar tidak terjadi gesekan berlebih pada luka yang bisa memicu iritasi atau rasa nyeri.
  4. Biarkan Terbuka: Sebaiknya luka tidak ditutup dengan plester atau perban yang kedap udara. Udara membantu luka mengering lebih cepat. Jika luka mengeluarkan banyak cairan, cukup tutup dengan kasa steril yang ditempel longgar.
Tips Tambahan Perawatan Bayi
  1. Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh area bekas suntikan bayi.
  2. Jangan mencoba mengeluarkan nanah secara paksa dengan memencetnya.
  3. Pastikan kuku bayi tetap pendek agar tidak menggaruk luka saat gatal.

Hal-Hal yang Dilarang Selama Masa Penyembuhan

Kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua karena panik justru bisa memperburuk keadaan. Berikut adalah hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada bekas suntik BCG bernanah dan pecah:

Jangan mengoleskan alkohol, cairan antiseptik yang perih (seperti povidone iodine), atau minyak tawon pada luka. Zat-zat ini justru dapat mematikan bakteri vaksin yang sedang bekerja dan menghambat proses penyembuhan alami. Selain itu, hindari penggunaan bedak tabur di area tersebut karena serbuk bedak bisa terjebak di dalam luka dan memicu infeksi sekunder atau granuloma. Terakhir, dilarang keras mengoleskan salep antibiotik tanpa instruksi dokter, karena ini bukan infeksi bakteri biasa.

Kapan Harus Waspada dan Menghubungi Dokter?

Meskipun bernanah adalah normal, ada kondisi langka yang disebut limfadenitis BCG atau abses besar yang memerlukan penanganan medis. Segera hubungi tenaga medis jika kamu menemukan tanda-tanda berikut:

1. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening

Jika muncul benjolan di bawah ketiak atau di sekitar leher pada sisi yang sama dengan lengan yang disuntik, ini bisa menandakan reaksi berlebih pada kelenjar getah bening.

2. Abses yang Sangat Luas

Jika area kemerahan menyebar luas (lebih dari 3-5 cm), kulit terasa sangat panas, dan bayi tampak sangat kesakitan atau rewel terus-menerus.

3. Demam Tinggi

Reaksi BCG biasanya tidak menyebabkan demam. Jika bayi mengalami demam di atas 38 derajat Celcius setelah pustula pecah, mungkin terjadi infeksi sekunder.

Studi Mengenai Reaksi Vaksin BCG

Journal of Clinical Infectious Diseases menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa pembentukan parut dan pustula adalah manifestasi klinis yang diharapkan dari vaksinasi BCG yang sukses secara teknis. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa frekuensi komplikasi berat seperti osteitis atau penyebaran kuman BCG sangat rendah (kurang dari 1 per 1 juta dosis), sementara reaksi lokal seperti nanah adalah hal yang lumrah dan tidak berbahaya.

Studi lain dalam jurnal pediatri internasional menekankan bahwa edukasi kepada orang tua mengenai timeline reaksi BCG dapat menurunkan tingkat kecemasan dan mencegah penggunaan obat-obatan yang tidak perlu pada bayi. Hal ini mengonfirmasi bahwa pendekatan “observasi aktif” adalah yang terbaik dalam menangani bekas luka ini.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan terkait bekas imunisasi atau kesehatan Si Kecil, tapi bingung harus melakukan apa? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Untuk mendukung daya tahan tubuh Si Kecil dan menjaga kebersihan kulitnya, kamu juga bisa memenuhi kebutuhan suplemen bayi dan beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan produk kesehatan yang 100% asli dan diantar langsung ke rumah.

Jika gejala pada bekas suntikan tampak tidak biasa atau disertai keluhan lain, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak di Halodoc demi mendapatkan diagnosis yang akurat.

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. BCG vaccine: WHO position paper.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Buku KIA: Informasi Imunisasi Dasar Lengkap.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Childhood Immunizations: What to Expect.
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2026. BCG Tuberculosis Vaccine Side Effects.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. BCG Vaccination and Lymphadenitis Management.

FAQ

1. Apakah bekas suntik BCG yang pecah boleh kena air?

Ya, boleh. Bekas suntikan BCG yang pecah tetap boleh terkena air saat mandi. Pastikan saja area tersebut dikeringkan dengan cara ditepuk lembut menggunakan handuk bersih setelahnya.

2. Berapa lama luka bekas suntik BCG akan sembuh?

Proses penyembuhan total, mulai dari benjolan pecah hingga menjadi jaringan parut yang kering, biasanya memakan waktu sekitar 2 hingga 4 minggu sejak nanah muncul.

3. Bolehkah memberikan salep antiseptik pada luka BCG?

Sangat tidak disarankan. Memberikan salep atau cairan antiseptik justru dapat mengganggu proses pembentukan kekebalan tubuh yang sedang diinisiasi oleh bakteri vaksin.

4. Anak tidak memiliki bekas luka BCG, apakah vaksinnya gagal?

Belum tentu. Meskipun sebagian besar anak menunjukkan bekas luka, ada sebagian kecil yang tidak membentuk parut meski vaksinasi berhasil. Konsultasikan dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut jika diperlukan tes Mantoux.