• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Anak Tunggal Cenderung Manja Berlebihan?

Benarkah Anak Tunggal Cenderung Manja Berlebihan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Anak tunggal sering diidentikkan sebagai anak yang bersifat manja. Anggapan tersebut berkembang karena anak satu-satunya tumbuh tanpa ada “saingan” alias saudara. Sebab, bukan lagi rahasia bahwa saudara kandung kerap dianggap sebagai saingan dalam memperebutkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtua. Namun, benarkah hal itu berarti anak tunggal pasti akan manja berlebihan? 

Hal itu bisa saja benar, tetapi bukan berarti bahwa setiap anak tunggal pasti akan tumbuh menjadi anak yang manja. Semua kembali tergantung pada pola asuh orangtua dan bagaimana kemampuan Si Kecil dalam memahami kondisinya? 

Lantas, bagaimana pola asuh yang bisa coba diterapkan agar perkembangan fisik dan psikologis anak menjadi lebih baik dan tidak berkembang menjadi anak yang memiliki sifat manja berlebihan? Simak jawabannya di bawah ini! 

Baca juga: Jadi Anak Tunggal, Pria Cenderung Selingkuh

Pola Asuh untuk Anak Tunggal 

Pola asuh dan perhatian dari orangtua dan lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan psikologi anak. Namun, keberadaan saudara kandung nyatanya bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi penentu perkembangan anak. Dengan kata lain, tidak selalu anak tunggal pasti akan berkembang dengan membawa sifat manja berlebihan. 

Alasan ekonomi atau kesiapan kedua orangtua seringnya dijadikan alasan untuk membatasi jumlah anak. Namun jika masih mampu, sejumlah ahli psikologi sebenarnya menyarankan pasangan suami istri untuk memiliki anak lebih dari satu. Pasalnya, tidak sedikit orang yang menilai bahwa kedekatan antarsaudara kandung di masa kanak-kanak dapat memengaruhi pemahaman sosial-emosional, kemampuan kognitif, dan perkembangan psikologis anak.

Baca juga: Kesepian Tanpa Kakak Adik, Ini Dampak Psikologi ke Anak Tunggal

Tentu saja, hal ini tidak dimiliki dan tidak dialami oleh anak tunggal. Meski begitu, bukan berarti ayah dan ibu harus memaksakan diri. Jika memang harus memiliki hanya satu anak, coba terapkan pola asuh yang tepat untuk membantu perkembangan psikologi. Berikut ini beberapa tips yang bisa diterapkan agar perkembangan anak tunggal bisa lebih optimal: 

  • Ajarkan Bersosialisasi 

Meski tidak memiliki saudara kandung di rumah, ayah dan ibu bisa mengajak Si Kecil untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Selain dengan anak tetangga atau teman sebaya, cobalah untuk sesekali mengundang saudara sepupu anak untuk bermain bersama di rumah. Mendorong anak untuk bersosialisasi sejak dini bisa membantu mengembangkan keterampilan sosial. 

  • Beri Kebebasan 

Memberi kebebasan anak untuk berekspresi bisa membantu perkembangannya. Biasakan untuk mengajarkan dan membebaskan Si Kecil melakukan segala hal positif sendiri agar kreativitas dan kemandiriannya berkembang dengan baik.

  • Jangan Memaksa 

Menerapkan pola asuh yang tepat bisa membantu menghindari sifat yang kurang baik pada Si Kecil. Selain itu, anak-anak cenderung akan meniru atau belajar dari apa yang dilakukan orangtua. Agar anak tidak berkembang dengan sifat manja berlebih, orangtua juga sebaiknya tidak terbiasa memaksa anak melakukan hal yang tidak diinginkan. 

Hal ini bisa memengaruhi caranya berpikir, yaitu menganggap bahwa memaksa adalah cara yang tepat untuk mendapat sesuatu, padahal tidak seperti itu. Perlu diingat, setiap anak yang lahir istimewa dan membawa keunikan masing-masing. Meski tanpa saudara kandung, bukan berarti anak tidak akan bisa tumbuh menjadi anak yang mandiri. 

Baca juga: Humor Gelap Semakin Diminati, Apa Manfaatnya?

Jika masih ragu dan butuh saran dalam membesarkan anak tunggal, coba bicarakan pada ahlinya melalui aplikasi Halodoc saja. Ayah dan ibu bisa dengan mudah menghubungi psikolog atau dokter melalui Video/Voice Call dan Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips pola asuh anak yang tepat. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Only Child Syndrome: Proven Reality or Long-Standing Myth?
Psychology Today. Diakses pada 2020. The Adolescent Only Child.
Healthline. Diakses pada 2020. 9 Parenting Tips for Raising an Only Child.