Ad Placeholder Image

Benarkah Demam Berdarah Bisa Diketahui Lewat Air Liur?

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 Juni 2026

“Mendiagnosis demam berdarah bisa dilakukan dengan memperhatikan gejala dan pemeriksaan darah. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa DBD juga bisa diketahui lewat air liur.”

Benarkah Demam Berdarah Bisa Diketahui Lewat Air Liur?Benarkah Demam Berdarah Bisa Diketahui Lewat Air Liur?

DAFTAR ISI


Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang paling signifikan di Indonesia. Sebagai negara beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi pada periode tertentu, kondisi lingkungan di Indonesia sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk penyebab penyakit ini. Setiap tahunnya, ribuan kasus tercatat di berbagai fasilitas layanan kesehatan, dari klinik kecil hingga rumah sakit besar, dengan puncak kasus biasanya terjadi pada pertengahan musim hujan.

Ketika ada satu anggota keluarga yang terdiagnosis positif mengalami Demam Berdarah Dengue, kepanikan kecil sering kali melanda seisi rumah. Kekhawatiran akan tertular penyakit yang sama sangatlah wajar, mengingat gejala DBD bisa berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, seperti syok atau pendarahan hebat. Dalam kebingungan merawat pasien di rumah sakit atau di rumah, banyak mitos dan pertanyaan bermunculan seputar cara transmisi virus ini antarmanusia.

Salah satu kekhawatiran yang paling sering ditanyakan oleh masyarakat awam ketika sedang menyuapi makan, memandikan, atau sekadar berinteraksi dekat dengan pasien adalah apakah dbd menular lewat air liur. Ketakutan untuk berbagi alat makan, gelas minum, atau bahkan tidur di ruangan yang sama sering kali membuat perawatan pasien menjadi penuh dengan jarak dan kecemasan yang sebenarnya tidak beralasan.

Penting bagi kita untuk memahami secara tepat bagaimana mekanisme penyebaran virus Dengue ini bekerja agar kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat tanpa harus mengucilkan pasien. Nah, mau tahu fakta medis yang sebenarnya mengenai cara penularan penyakit ini dan langkah-langkah apa yang benar-benar efektif untuk memutus rantai penularannya? Berikut ulasan lengkapnya!

Memahami Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Sebelum kita menjawab berbagai mitos seputar penularannya, sangat penting untuk memahami apa itu Demam Berdarah Dengue dari kacamata medis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Dengue (DENV). Virus Dengue sendiri tergabung dalam kelompok genus Flavivirus dan memiliki empat serotipe atau jenis yang berbeda, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Keempat serotipe virus ini dapat ditemukan bersirkulasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Karena terdapat empat jenis serotipe, seseorang pada dasarnya bisa terkena penyakit demam berdarah hingga empat kali seumur hidupnya. Sembuh dari infeksi satu jenis serotipe hanya akan memberikan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe spesifik tersebut, namun tidak memberikan perlindungan penuh terhadap tiga jenis lainnya. Bahkan, infeksi yang kedua (dengan serotipe yang berbeda) sering kali memicu respons imun yang berlebihan di dalam tubuh, sehingga gejala yang muncul cenderung jauh lebih berat dan berisiko tinggi memicu Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Dengue Shock Syndrome (DSS).

Virus ini tidak bisa berjalan atau terbang dengan sendirinya untuk mencari inang manusia. Virus Dengue membutuhkan agen perantara biologis atau yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah “vektor”. Vektor utama penyakit ini adalah nyamuk jenis Aedes aegypti, dan pada tingkat yang lebih rendah juga bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes albopictus. Nyamuk betina dari spesies inilah yang bertindak sebagai “taksi” pembawa virus dari satu manusia ke manusia lainnya.

Fakta Medis: Apakah DBD Menular Lewat Air Liur?

Sekarang, mari kita bedah pertanyaan utamanya. Jawaban singkat, tegas, dan berdasarkan fakta medis adalah: TIDAK. Demam Berdarah Dengue sama sekali tidak bisa ditularkan melalui air liur, keringat, air mata, bersin, atau cairan pernapasan lainnya.

Untuk memahami mengapa hal tersebut tidak mungkin terjadi, kita perlu melihat bagaimana siklus hidup virus Dengue bekerja. Virus Dengue hidup, mereplikasi diri, dan bersirkulasi secara dominan di dalam aliran darah inangnya (manusia), bukan di kelenjar air liur, kelenjar keringat, atau saluran pernapasan manusia. Karena letaknya ada di dalam darah, virus ini membutuhkan cara yang spesifik untuk bisa keluar dari tubuh orang yang sakit dan masuk ke aliran darah orang yang sehat.

Satu-satunya cara alami virus ini bisa berpindah adalah jika seekor nyamuk Aedes aegypti betina menggigit dan mengisap darah seseorang yang sedang berada dalam fase “viremia” (fase di mana kadar virus di dalam darah sangat tinggi). Darah yang terinfeksi tersebut masuk ke dalam perut nyamuk. Di dalam tubuh nyamuk, virus akan berkembang biak selama sekitar 8 hingga 12 hari, menembus dinding lambung nyamuk, dan akhirnya berkumpul di kelenjar air liur si nyamuk (bukan air liur manusia).

Setelah proses inkubasi di dalam tubuh nyamuk tersebut selesai, nyamuk itu menjadi infeksius seumur hidupnya. Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia sehat lainnya untuk mengisap darah, ia akan terlebih dahulu menyuntikkan air liurnya yang mengandung zat antikoagulan (pencegah darah membeku) beserta ribuan partikel virus Dengue langsung ke dalam kapiler darah manusia tersebut. Di sinilah proses penularan resmi terjadi.

Oleh karena transmisi harus melalui rute darah-ke-darah dengan perantara nyamuk, kamu tidak perlu khawatir tertular DBD saat makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, berciuman, berpelukan, atau mengobrol dalam jarak dekat dengan penderita DBD. Kamu juga tidak perlu memisahkan alat makan pasien menggunakan air mendidih seolah-olah itu adalah penyakit menular seksual atau penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19 atau tuberkulosis.

Mitos vs Fakta Seputar Penularan DBD
  1. Mitos: DBD menular jika kita tersentuh keringat pasien yang sedang demam tinggi.
    Fakta: Keringat tidak mengandung partikel virus Dengue yang cukup atau relevan untuk menyebabkan infeksi.
  2. Mitos: Orang yang pernah kena DBD otomatis kebal seumur hidup.
    Fakta: Kekebalan hanya berlaku untuk jenis (serotipe) virus yang menyerang saat itu. Masih ada tiga jenis lain yang bisa menginfeksi di kemudian hari.
  3. Mitos: Pasien DBD harus diisolasi di ruangan tertutup tanpa boleh dijenguk.
    Fakta: Pasien tidak menularkan penyakit dari manusia ke manusia. Isolasi dengan kelambu dilakukan agar pasien tidak digigit nyamuk yang bisa menyebarkan virus ke orang lain di sekitarnya.

Fase Perjalanan Penyakit DBD yang Harus Diwaspadai

Setelah memahami bahwa penularannya sangat bergantung pada gigitan nyamuk, hal penting berikutnya yang perlu dikuasai adalah mengenali fase perjalanan penyakit ini. Tidak seperti penyakit infeksi biasa yang gejalanya memburuk seiring dengan tingginya suhu tubuh, Demam Berdarah Dengue memiliki fase unik yang sering kali menipu atau dikenal dengan istilah “Siklus Pelana Kuda”. Ada tiga fase utama yang harus dipantau dengan sangat ketat:

1. Fase Demam (Febrile Phase)

Fase ini berlangsung pada hari ke-1 hingga hari ke-3 pasca inkubasi. Pasien akan mengalami demam yang mendadak sangat tinggi, bisa mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius. Demam ini sering kali disertai dengan sakit kepala parah, nyeri pada bagian belakang mata (nyeri retro-orbital), nyeri sendi dan otot yang sangat hebat (dikenal juga sebagai breakbone fever), kehilangan nafsu makan, mual, serta munculnya ruam kemerahan atau bintik-bintik merah di bawah kulit (petechiae) yang tidak hilang saat ditekan.

2. Fase Kritis (Critical Phase)

Ini adalah fase yang paling mengecoh dan membahayakan, biasanya terjadi pada hari ke-4 hingga hari ke-5. Pada fase ini, suhu tubuh pasien perlahan turun dan demam tampaknya mulai mereda mendekati suhu normal. Banyak pasien atau keluarga yang merasa bahwa kondisi sudah membaik dan penyakit sudah sembuh. Padahal, justru di titik inilah risiko terjadinya kebocoran plasma darah (plasma leakage) memuncak. Pembuluh darah menjadi lebih permeabel atau berpori, menyebabkan cairan darah merembes keluar dari pembuluh ke jaringan sekitar, seperti rongga perut atau paru-paru. Tekanan darah bisa turun drastis (syok), dan trombosit dapat merosot tajam, memicu pendarahan seperti mimisan, gusi berdarah, atau buang air besar berwarna hitam.

3. Fase Pemulihan (Recovery Phase)

Jika pasien berhasil melewati masa kritis dengan penanganan medis dan terapi cairan yang adekuat, ia akan memasuki fase pemulihan yang terjadi antara hari ke-6 hingga ke-7. Pada tahap ini, cairan tubuh yang sebelumnya merembes keluar akan perlahan diserap kembali ke dalam sirkulasi darah. Nafsu makan mulai membaik, denyut nadi mulai stabil, dan volume buang air kecil kembali normal. Beberapa pasien mungkin akan mengalami ruam gatal di telapak tangan atau kaki, yang merupakan pertanda sirkulasi mulai membaik.

Cara Mencegah Penularan DBD di Lingkungan Keluarga

Mengingat tidak ada obat antivirus spesifik yang dirancang khusus untuk membunuh virus Dengue, pengobatan utama yang diberikan di rumah sakit bersifat suportif, yaitu pemberian cairan infus untuk mencegah dehidrasi parah dan syok, serta pemantauan angka trombosit dan hematokrit secara rutin. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghadapi penyakit ini adalah dengan tidak membiarkannya terjadi. Pencegahan gigitan nyamuk adalah kunci mutlak untuk memutus rantai penularan, baik untuk orang sehat maupun untuk melindungi orang yang sakit agar tidak menjadi sumber penularan bagi nyamuk di rumah.

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus masih menjadi protokol emas yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Nyamuk Aedes aegypti sangat menyukai genangan air bersih dan jernih yang tidak mengalir di dalam rumah maupun di pekarangan.

1. Menguras dan Membersihkan

Kuras tempat-tempat penampungan air secara rutin, minimal seminggu sekali. Bak mandi, toren air, drum, vas bunga, hingga wadah minum hewan peliharaan adalah tempat-tempat favorit nyamuk betina untuk bertelur. Telur nyamuk Aedes bahkan bisa menempel kuat di dinding bak dan bertahan hidup dalam kondisi kering selama beberapa bulan, lalu menetas kembali saat terendam air.

2. Menutup Rapat

Pastikan semua tempat penampungan air bersih tertutup rapat. Jika menggunakan tempayan atau drum, berikan penutup yang tidak memiliki celah. Jika tidak memungkinkan untuk ditutup rapat, pastikan wadah tersebut rutin dikuras dan disikat dinding bagian dalamnya.

3. Mendaur Ulang Barang Bekas

Jangan biarkan barang-barang bekas seperti botol plastik, ban bekas, kaleng, atau tempurung kelapa berserakan di pekarangan rumah. Saat hujan turun, air akan menggenang di benda-bena tersebut, menciptakan ratusan habitat baru yang ideal bagi jentik nyamuk untuk tumbuh berkembang.

Selain 3M, langkah “Plus” yang bisa kamu aplikasikan di rumah antara lain menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras secara rutin, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk (seperti ikan cupang atau guppy) pada kolam, menggunakan obat antinyamuk semprot atau losion penolak nyamuk (repellent), memasang kawat kasa anti nyamuk pada ventilasi jendela, dan menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender atau sereh di pekarangan rumah.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluargamu mengalami demam tinggi mendadak yang tidak kunjung turun setelah hari ketiga meskipun telah mengonsumsi obat penurun panas (paracetamol), sebaiknya jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan medis, terutama pengecekan darah lengkap di laboratorium. Sangat tidak disarankan untuk sembarangan meminum obat-obatan pereda nyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen, aspirin, atau asam mefenamat) saat mencurigai gejala DBD, karena obat-obatan tersebut justru memiliki efek mengencerkan darah yang dapat memperburuk risiko perdarahan lambung.

Tanda-tanda bahaya (warning signs) yang mengharuskan pasien segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit meliputi:

  • Nyeri perut bagian bawah atau ulu hati yang sangat hebat dan tak tertahankan.
  • Muntah yang terus-menerus, lebih dari 3 kali dalam waktu 24 jam.
  • Muntah darah segar atau muntah dengan cairan yang berwarna kehitaman menyerupai ampas kopi.
  • Pendarahan dari hidung (mimisan) atau gusi yang sulit berhenti.
  • Tubuh terasa sangat lemas, letargi, atau justru gelisah dan mudah marah.
  • Ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa dingin dan berkeringat.
  • Sulit bernapas atau napas terasa lebih cepat dari biasanya karena penumpukan cairan di paru-paru.

Studi Terkait

World Health Organization (WHO) menerbitkan publikasi studi dan lembar fakta di tahun 2024 yang mengonfirmasi bahwa penularan Demam Berdarah Dengue terjadi secara eksklusif melalui perantara gigitan nyamuk betina genus Aedes, terutama *Aedes aegypti*.

Dalam publikasi tersebut tidak ditemukan bukti klinis yang mendukung bahwa penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak kasual seperti bersalaman, berbagi alat makan, maupun melalui percikan liur dan sekresi pernapasan (droplet). Pemahaman ini penting sebagai dasar dalam menentukan strategi isolasi pasien di rumah sakit, di mana isolasi bertujuan menghindari gigitan nyamuk di ruangan, bukan menjauhkan kontak dengan tenaga medis atau keluarga.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika gejala demam tidak kunjung membaik atau justru disertai tanda-tanda dehidrasi dan pendarahan spontan, segera periksakan diri untuk menghindari komplikasi syok dengue yang fatal.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Dengue and severe dengue.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Diakses pada 2024. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Dengue Transmission.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Dengue fever – Symptoms and causes.

FAQ

1. Jadi, apakah dbd menular lewat air liur?

Sama sekali tidak. Penyakit Demam Berdarah Dengue hanya dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang membawa virus tersebut dari orang yang sakit, bukan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita seperti air liur, ingus, maupun keringat.

2. Apakah aman tidur satu kamar dengan pasien DBD?

Sangat aman asalkan tidak ada nyamuk vektor di dalam ruangan tersebut. Untuk keamanan ekstra, disarankan menggunakan kelambu di atas tempat tidur pasien dan memasang obat antinyamuk agar nyamuk tidak menggigit pasien lalu menularkannya ke kamu.

3. Bisakah ibu hamil menularkan virus Dengue ke janinnya?

Penularan vertikal dari ibu hamil ke janin (maternal-fetal transmission) adalah suatu kemungkinan medis, namun kasusnya tercatat sangat langka. Jika terjadi, bayi berisiko lahir prematur atau dengan berat badan rendah, sehingga ibu hamil yang terinfeksi membutuhkan pemantauan medis yang ekstra ketat di rumah sakit.

4. Makanan atau minuman apa yang cepat menaikkan trombosit pasien?

Pada dasarnya, trombosit akan naik secara otomatis jika kondisi klinis dan kekebalan tubuh pasien membaik di fase pemulihan. Minuman seperti jus jambu biji, air kelapa, dan sari kurma memang sangat baik, namun fungsinya adalah untuk menjaga agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik dan mencegah keparahan perembesan plasma, bukan secara magis memproduksi trombosit.