Advertisement

Benarkah Gula Stevia Lebih Sehat dari Gula Biasa? Ini Faktanya

9 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   08 Januari 2026

Gula stevia mengandung rendah kalori kelimbang gula biasa, sehingga dinilai lebih menyehatkan.

Benarkah Gula Stevia Lebih Sehat dari Gula Biasa? Ini FaktanyaBenarkah Gula Stevia Lebih Sehat dari Gula Biasa? Ini Faktanya

DAFTAR ISI


Gula stevia berasal dari tanaman stevia rebaudiana yang ditemukan oleh ahli botani bernama Antonio Bertoni pada 1887. Sejak itu, stevia digunakan oleh masyarakat di Paraguay dan Brazil sebagai pemanis buatan.

Di dalam daun stevia mengandung senyawa bercita rasa manis, yaitu stevioside dan rebaudioside. Rasa manisnya diklaim ratusan kali lipat lebih tinggi daripada gula biasa.

Karena rasanya yang sangat manis, penggunaan gula stevia tidak sebanyak gula pasir.

Cara tersebut menyumbang lebih sedikit kalori dalam tubuh sehingga tidak berdampak pada berat badan secara signifikan.

Faktanya, Gula Stevia Lebih Menyehatkan

Gula stevia lebih rendah kalori ketimbang gula biasa. Gula dari tanaman Stevia rebaudiana ini juga tidak mengandung karbohidrat sehingga baik dikonsumsi pengidap diabetes.

Karbohidrat bisa memicu kenaikan glukosa atau kadar gula darah secara signifikan.

Itu sebabnya, pengidap diabetes disarankan untuk mengurangi asupan karbohidrat untuk menstabilkan kadar gula darah.

Alasan lainnya, gula stevia efektif menurunkan indeks glikemik (GI) makanan.

GI merupakan indikator seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh.

Dengan GI yang rendah, artinya, stevia berdampak pada penurunan kadar gula darah dalam tubuh, meski dalam tingkatan rendah.

Sederhananya, mengonsumsi gula stevia lebih menyehatkan ketimbang gula biasa.

Merupakan Pengganti Gula yang Baik

Stevia bisa digunakan sebagai pengganti gula biasa untuk masakan rumahan dan kue.

Namun, jika gula jenis ini tidak dimasak dengan cara yang tepat, stevia bisa menimbulkan rasa pahit.

Ketika mengganti gula biasa dengan stevia, makanan yang diolah dengan cara dipanggang tidak memiliki rasa dan tekstur yang sama dibanding menggunakan gula biasa.

Sebab, stevia mengalami proses reaksi yang memicu terjadinya perubahan warna jadi cokelat keemasan dan sedikit rasa pahit.

Stevia juga menambah tekstur makanan yang dipanggang menjadi lebih keras.

Terlepas dari itu, stevia bisa bekerja dengan baik sebagai pengganti gula.

Untuk meminimalisir rasa pahit yang ditimbulkan stevia, kamu bisa menggunakan campuran gula biasa berskala 1:1.

Asupannya Perlu Dibatasi

Menurut Food and Drug Administration (FDA), batas maksimal penggunaan harian stevia adalah 4 miligram per kilogram berat badan.

Stevia tidak memicu efek samping jika hanya digunakan sebagai pemanis buatan untuk masakan.

Namun, jika asupannya melebihi batasan yang ditetapkan, risiko efek samping seperti gangguan pencernaan bisa dialami.

Meski jarang terjadi, kembung, begah dan mual jadi efek samping yang perlu diwaspadai.

Gejala yang disebutkan terjadi karena stevia sulit dicerna oleh bakteri di dalam usus besar sehingga bakteri meningkatkan produksi gas pemicu kembung. Efek samping lainnya adalah risiko alergi.

Stevia berasal dari tumbuhan sehingga bisa meningkatkan risiko pada pengidap alergi tanaman.

Jika sudah begitu, reaksi berupa kulit gatal, kemerahan, terasa perih dan bengkak bisa saja terjadi.

Itulah fakta mengenai gula stevia dan efek samping ketika digunakan berlebihan.

Selain mengganti jenis gula dengan yang lebih sehat, kamu bisa bisa mengonsumsi vitamin guna menunjang kebugaran tubuh.

Apabila kamu sedang memulai pola makan sehat, optimalkan perjalanan sehatmu dengan program klinis yang diawasi langsung oleh dokter dan ahli gizi profesional.

Yuk, coba Halofit sekarang dan mulai langkah sehatmu hari ini!

Untuk informasi terkait Halofit by Halodoc, kamu bisa baca artikel ini:

Interaksi Stevia dengan Obat Lain

Walaupun stevia umumnya aman, kamu perlu tahu bahwa ada potensi interaksi dengan beberapa obat. Stevia bisa berinteraksi dengan:

  • Obat diabetes: Stevia bisa menurunkan kadar gula darah. Kalau kamu minum obat diabetes, gabungan ini bisa bikin gula darahmu terlalu rendah (hipoglikemia).
  • Obat tekanan darah: Stevia juga bisa menurunkan tekanan darah. Kalau kamu minum obat antihipertensi, ini bisa bikin tekanan darahmu terlalu rendah (hipotensi).
  • Diuretik (obat peluruh air seni): Beberapa penelitian nunjukkin stevia mungkin punya efek diuretik. Kalau kamu minum stevia bareng diuretik, resiko dehidrasi dan masalah kadar natrium di tubuhmu bisa naik.

Jadi, kalau kamu lagi minum obat-obatan tertentu, mending konsultasi dulu sama dokter sebelum rutin pakai stevia.

Peringatan sebelum Mengonsumsi Stevia

Stevia emang dianggap aman buat banyak orang, tapi ada beberapa hal yang harus kamu perhatiin:

  • Alergi: Walaupun jarang, beberapa orang bisa alergi sama stevia. Kalau kamu alergi sama tanaman dari keluarga Asteraceae/Compositae (kayak aster, krisan, matahari), resiko alergi stevia-mu mungkin lebih tinggi.
  • Gangguan pencernaan: Kebanyakan stevia bisa bikin masalah pencernaan kayak kembung, gas, atau mual.
  • Kehamilan dan menyusui: Umumnya, stevia aman buat ibu hamil dan menyusui dalam jumlah sedang. Tapi, tetap konsultasi sama dokter buat pastiin keamanan di kondisi kamu.

Gula Apa yang Paling Sehat? Pilihan dan Pertimbangan

Pertanyaan tentang “gula apa yang paling sehat?” sering muncul. Sebenarnya, tidak ada jenis gula yang sepenuhnya bebas risiko. Konsumsi gula, dalam bentuk apapun, tetap perlu dibatasi.

Namun, beberapa jenis gula atau pemanis alami dianggap lebih baik daripada gula putih rafinasi karena kandungan nutrisi dan pengaruhnya terhadap gula darah.

Berikut adalah beberapa pilihan pemanis alami yang bisa kamu pertimbangkan:

  • Stevia: Pemanis alami dari daun Stevia dengan nol kalori dan indeks glikemik (GI) nol. Cocok untuk mengontrol berat badan dan gula darah. Namun, rasanya mungkin sedikit berbeda dari gula biasa.
  • Gula kelapa/aren: Diproses minimal dari nira pohon kelapa atau aren. Mengandung sedikit mineral dan antioksidan. GI lebih rendah dari gula pasir, tetapi kandungan kalori dan karbohidrat hampir sama.
  • Madu (raw/mentah): Mengandung mineral, antioksidan, dan berpotensi prebiotik. GI lebih rendah dari gula pasir, tetapi tetap tinggi kalori dan gula. Tidak disarankan untuk bayi.
  • Sirup maple: Pemanis dari getah pohon maple yang diproses minimal. Mengandung mineral dan senyawa anti-inflamasi. GI moderat, tetapi tetap perlu dibatasi karena kandungan gula tinggi.
  • Gula kurma/sirup kurma: Terbuat dari kurma yang digiling atau dibuat sirup. Mengandung antioksidan, serat, dan mineral. GI lebih rendah dari gula putih.
  • Agave nektar: GI rendah, tetapi tinggi fruktosa. Konsumsi berlebihan berisiko untuk kesehatan hati dan kadar trigliserida.

Penting untuk diingat bahwa semua jenis gula tambahan, termasuk pemanis alami di atas, tetap berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Para ahli merekomendasikan pembatasan asupan gula tambahan untuk mencegah obesitas, diabetes tipe 2, dan masalah kesehatan lainnya.

Oleh karena itu, memilih pemanis alami bisa menjadi langkah yang lebih baik daripada menggunakan gula pasir.

Namun, kunci utamanya adalah tetap membatasi konsumsi gula secara keseluruhan.

Hubungi Dokter Ini untuk Tips Pola Makan Sehat Lainnya

Selain menggunakan gula stevia, masih banyak tips pola makan sehat lainnya yang bisa kamu lakukan.

Nah, apabila kamu atau orang terdekat sedang ingin beralih ke pola makan yang lebih sehat, kamu bisa menghubungi dokter spesialis gizi di Halodoc.

Mereka bisa menyarankan berbagai tips makan yang sehat untuk kamu lakukan. Tak hanya itu, tips yang disarankan juga akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tubuh kamu.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc telah berpengalaman serta mendapatkan penilaian baik dari pasien yang sebelumnya mereka tangani.

Berikut dokter di Halodoc yang bisa kamu hubungi:

1. dr. Diani Adrina Sp.GK

Dokter pertama yang bisa menyarankan tips makan sehat adalah dr. Diani Adrina Sp.GK. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti pada 2001.

Ia pun melanjutkan studinya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga akhirnya meraih gelar dokter spesialis gizi klinik pada 2007.

Saat ini, dr. Diani Adrina Sp.GK membuka praktik di Jakarta Selatan dan masih aktif tergabung sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dengan nomor STR 9821701523029479.

Dengan pengalaman selama 23 tahun, dr. Diani Adrina Sp.GK bisa memberikan saran di Halodoc terkait asupan yang sehat untuk dikonsumsi. 

Mereka akan membantu meninjau status gizi, memberi terapi nutrisi dan pola makan, dan masih banyak lagi. 

Jadwalkan Sesi Konsultasi dengan dr. Diani Adrina Sp.GK mulai dari Rp 70.000,- di Halodoc.

2. dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK

Selanjutnya, kamu bisa menghubungi dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK.

Ia sebelumnya telah berhasil mendapatkan gelar dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), pada 2017.

Kemudian, dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK melanjutkan studinya ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga akhirnya mendapatkan gelar dokter spesialis gizi pada 2023.

Saat ini, dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK praktik di Tangerang, Banten dan merupakan anggota aktif IDI dan (PDGKI) dengan nomor STR GO00000101356545.

Dengan pengalaman selama 6 tahun, dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK bisa memberikan saran melalui Halodoc terkait tips makan sehat.

Jadwalkan Sesi Konsultasi dengan dr. Karina Marcella Widjaja Sp.GK mulai dari Rp 70.000,- di Halodoc.

Itulah beberapa dokter spesialis gizi yang bisa memberikan tips seputar pola makan yang sehat.

Dokter tersebut tersedia selama 24 jam di Halodoc sehingga kamu bisa lakukan konsultasi dari mana saja dan kapan saja.

Namun, jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi melalui aplikasi Halodoc.

Tunggu apalagi? Ayo, pakai Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2026. Is Stevia a Good Substitute for Sugar? Benefits and Downsides.
Very Well Fit. Diakses pada 2026. Is Stevia Sweetener Better Than Sugar?
WebMD. Diakses pada 2026. Stevia.

FAQ

1. Apa kelebihan gula stevia dibandingkan gula biasa?

Berikut adalah beberapa keunggulan stevia dibandingkan gula biasa:

  • Tanpa kalori: Stevia hampir tidak mengandung kalori, sehingga cocok untuk orang yang sedang menjaga berat badan atau penderita diabetes.
  • Tidak menaikkan gula darah: Stevia memiliki indeks glikemik (IG) nol, yang berarti tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah.
  • Alami: Stevia berasal dari tanaman, sehingga dianggap sebagai pemanis alami.

2. Apakah stevia aman dikonsumsi setiap hari?

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan organisasi kesehatan dunia WHO telah menyatakan stevia aman dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

Batas asupan harian yang direkomendasikan adalah 4 mg per kilogram berat badan.

Namun, beberapa orang mungkin mengalami efek samping seperti kembung atau mual jika mengonsumsi stevia dalam jumlah berlebihan.

3. Apa manfaat stevia untuk kesehatan?

Selain menjadi alternatif pengganti gula, stevia juga menawarkan potensi manfaat kesehatan, seperti:

  • Mengontrol gula darah: Stevia tidak meningkatkan kadar gula darah, sehingga dapat membantu mengontrol diabetes.
  • Menurunkan tekanan darah: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stevia dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
  • Menjaga berat badan: Karena rendah kalori, stevia dapat membantu dalam program penurunan berat badan.