• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Kehamilan Ektopik Menghambat Promil Selanjutnya?

Benarkah Kehamilan Ektopik Menghambat Promil Selanjutnya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Salah satu komplikasi kehamilan yang bisa dialami wanita adalah kehamilan ektopik. Apa itu? Kehamilan ektopik merupakan kondisi kehamilan yang terjadi di luar kandungan atau rahim. Kondisi ini bisa menyebabkan pengidapnya mengalami perdarahan dari vagina. Tidak hanya itu, kehamilan ektopik juga memicu nyeri hebat di panggul atau perut bawah. 

Kehamilan ektopik tidak boleh diabaikan dan harus segera ditangani agar tidak memicu kondisi yang membahayakan. Selain itu, kehamilan ini menyebabkan janin tidak berkembang dengan normal. Kabar buruknya, kondisi ini bisa memengaruhi kondisi tubuh wanita, terutama organ reproduksi. Lantas, apakah kehamilan ektopik bisa menghambat program hamil (promil) selanjutnya? 

Baca juga: Inilah Perbedaan Kehamilan Biasa dan Kehamilan Ektopik

Dampak Kehamilan Ektopik pada Wanita

Jawabannya, iya bisa saja. Pada beberapa kasus, wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik sangat mungkin mengalami gangguan pada kehamilan selanjutnya. Risiko gangguan ini menjadi lebih tinggi jika seorang wanita memiliki riwayat gangguan pada kesuburan dan masalah pada reproduksi sebelumnya. Meski begitu, kehamilan ektopik tidak selalu akan berdampak seperti itu. 

Ada beberapa wanita yang masih memiliki peluang untuk menjalani kehamilan normal, meski sebelumnya sudah pernah mengalami kehamilan ektopik. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, seorang wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik mungkin akan mengalami hal yang sama di kemudian hari, mengalami keguguran berulang, hingga menghambat program hamil selanjutnya. 

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada rahim. Artinya, sel telur yang sudah dibuahi malah menempel di organ tubuh lain. Pada kasus kehamilan ektopik, tuba falopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) merupakan organ yang paling sering ditempeli sel telur. 

Baca juga: Mengalami Kehamilan Ektopik, Apakah Berbahaya?

Selain tuba falopi, kehamilan ektopik juga bisa terjadi di indung telur, leher rahim (serviks) atau di rongga perut. Hingga kini masih belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab seorang wanita bisa mengalami kehamilan ektopik. Namun, kondisi ini sering dikaitkan dengan kerusakan pada tuba falopi. Kerusakan pada tuba falopi bisa terjadi karena bawaan lahir, faktor genetik, ketidakseimbangan hormon, serta peradangan akibat infeksi atau prosedur medis dan perkembangan organ reproduksi yang tidak normal.

Selain menghambat promil selanjutnya, kehamilan ektopik juga bisa memicu komplikasi lainnya yang mengancam nyawa. Pada kasus yang parah, kondisi ini bisa menyebabkan pecahnya tuba falopi. Kalau sudah begitu, risiko terjadinya perdarahan bisa meningkatkan hingga mengancam nyawa. Sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit jika merasakan ada kelainan pada kehamilan yang sedang dijalani. 

Sekilas, kondisi kehamilan ini mungkin akan terlihat sama seperti kehamilan normal. Namun, janin yang ada pada kehamilan ektopik sebenarnya tidak akan bisa berkembang. Segera pergi ke rumah sakit dan lakukan pemeriksaan ke dokter kandungan jika mengalami gejala seperti muncul rasa sakit seperti tertusuk di perut, panggul, bahu, atau leher. 

Baca juga: Perlu Diwaspadai, Inilah 4 Gejala Kehamilan Ektopik

Ibu hamil juga harus mewaspadai gejala seperti nyeri pada salah satu sisi di bagian bawah perut, nyeri di dubur saat buang air besar, perdarahan ringan hingga berat dari vagina, pusing atau lemas, serta diare. Jika ragu, kamu bisa mencoba untuk bicara dan bertanya seputar kehamilan pada dokter kandungan melalui aplikasi Halodoc. Dokter bisa dengan mudah dihubungi kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call atau Chat. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Ectopic Pregnancy. 
American Pregnancy. Diakses pada 2020. Ectopic Pregnancy. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Ectopic pregnancy.