• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Polusi Udara Tingkatkan Risiko Kematian Akibat Virus Corona?

Benarkah Polusi Udara Tingkatkan Risiko Kematian Akibat Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – COVID-19 adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yaitu SARS-CoV-2. Virus ini secara umum menyebabkan gejala gangguan pernapasan, seperti batuk hingga sesak napas. Namun, seperti yang diketahui, banyak hal lain selain virus yang menyebabkan gangguan pernapasan, salah satunya adalah polusi udara.

Melansir Medical News Today, sebuah tim peneliti dari Universitas Aarhus di Denmark dan Universitas Siena di Italia telah mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara polusi udara dan COVID-19. Studi yang diterbitkan dalam Environmental Pollution menemukan korelasi yang jelas antara polusi udara dan tingkat kematian dari COVID-19 di Italia. Hasil studi ini memberikan beberapa alasan mengapa ini bisa terjadi.

Baca juga: Ini Alasan Tingkat Kematian Akibat Corona Berbeda Tiap Wilayah

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Kematian?

Para ilmuwan kini telah mengidentifikasi beberapa faktor yang memengaruhi kematian COVID-19. Faktor-faktor ini termasuk kesehatan yang mendasarinya, usia seseorang, dan jenis kelamin. Dasar informasi dari data yang disimpulkan tentang penyakit pernapasan virus sebelumnya atau dari negara-negara, seperti Italia atau Tiongkok, yang memiliki paparan dini terhadap virus.

Para peneliti dari studi ini menemukan kemungkinan korelasi yang sebelumnya tidak ditangani oleh para ilmuwan, yakni hubungan antara polusi udara dan jumlah kematian akibat COVID-19. Korelasi ini menjadi jelas ketika mereka melihat situasi di Italia. Angka resmi dari pemerintah Italia menunjukkan variasi yang signifikan dalam hal angka kematian akibat virus, yang bisa tergantung pada area geografis.

Menurut angka-angka ini, wilayah utara Italia, seperti Lombardy atau Emilia Romagna, memiliki tingkat kematian 12 persen. Sementara di seluruh Italia, tingkat kematian sekitar 4,5 persen. Para penulis mencatat bahwa ada berbagai penjelasan untuk variasi-variasi ini. Perbedaannya mungkin karena cara masing-masing daerah mencatat kematian dan infeksi atau fakta bahwa kedua wilayah ini memiliki populasi dengan usia relatif lebih tua.

Para peneliti berpendapat bahwa polusi udara juga menjadi faktor lain yang mungkin dapat menjelaskan variasi ini. Selain memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi karena COVID-19, Lombardy dan Emilia Romagna juga menjadi area dengan tingkat polusi udara terburuk, tidak hanya di Italia, tetapi di seluruh Eropa.

Para peneliti mengambil data dari satelit NASA Aura dan European Environment Agency’s Air Quality Index. Kedua dataset memungkinkan gambaran yang jelas dan akurat tentang polusi udara relatif di berbagai wilayah geografis di seluruh Eropa.

Selain sebagai pusat utama produksi industri, yang merupakan penyebab utama pencemaran udara, para penulis mencatat bahwa kondisi geografis dan iklim Italia Utara juga memperburuk pencemaran udara. 

Baca juga: Alasan Diffuser Antiseptik Sebaiknya Dihindari

Polusi Udara Pengaruhi Sistem Kekebalan Tubuh

Korelasi antara polusi udara dan COVID-19 yang mematikan tidak berarti bahwa satu faktor akan langsung menyebabkan yang lain. Para peneliti merinci faktor-faktor lain yang mungkin menghubungkan polusi udara dengan penyakit relatif yang mematikan.

Diketahui bahwa virus corona semakin mematikan jika diderita orang yang memiliki penyakit bawaan, misalnya sindrom gangguan pernapasan akut. Kondisi ini menjadi jauh lebih buruk karena sistem kekebalan tubuh tidak sepenuhnya mampu mengatasi peradangan di berbagai bagian tubuh. Lebih lanjut, para penulis menunjukkan bahwa polusi udara adalah salah satu penyebab paling terkenal dari peradangan yang berkepanjangan, yang akhirnya melemahkan sistem imun.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology pada Oktober 2010 lalu menemukan, paparan polusi udara menekan sel T regulator (Treg) pada sistem kekebalan tubuh, dan penurunan tingkat fungsi Treg dikaitkan dengan gejala asma yang lebih parah dari biasanya dan kapasitas paru-paru yang lebih rendah.

Sel Treg bertanggung jawab untuk mengerem sistem kekebalan tubuh sehingga tidak bereaksi terhadap zat non-patogenik dalam tubuh yang berhubungan dengan alergi dan asma. Ketika fungsi Treg rendah, sel-sel gagal untuk memblokir respons peradangan yang merupakan ciri khas gejala asma.

Polusi udara juga bisa merusak silia di paru-paru seseorang. Silia, yang merupakan bagian mikroskopis, organel seperti rambut, adalah salah satu garis pertahanan pertama melawan infeksi yang ditularkan melalui udara.

Meskipun penulis percaya bahwa polusi udara dapat berkontribusi pada jumlah kematian yang lebih tinggi dari COVID-19 di Lombardy dan Emilia Romagna, mereka menekankan bahwa ini bukan kesimpulan yang harus dipercayai sepenuhnya. Para ilmuwan perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan signifikansi polusi udara dan untuk memahami lebih baik faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kematian akibat COVID-19.

Baca juga: Bisakah Virus Corona Mati pada Suhu Panas atau Dingin yang Ekstrem?

Apabila suatu hari kamu mengalami sejumlah gejala, seperti flu, batuk, demam, atau pilek, yang disertai dengan sesak napas, segera temui dokter di rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat

Jika kamu takut untuk pergi ke rumah sakit yang bisa saja menularkan COVID-19, kamu bisa hubungi dokter melalui chat di aplikasi Halodoc. Ceritakan keluhan kesehatan yang dialami, dan dokter akan memberikan perawatan yang tepat. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! 

Referensi:
ABC News. Diakses pada 2020. Does Air Pollution Increase Risk From COVID-19? Here's What We Know.
Berkeley News. Diakses pada 2020. Air Pollution Alters Immune Function, Worsens Asthma Symptoms.
Medical News Today. Diakses pada 2020. Air Pollution May Affect The Lethality of COVID-19.
The Guardian. Diakses pada 2020. Air Pollution Likely To Increase Coronavirus Death Rate.