• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Tes Agresif Sebabkan Kasus Positif Corona Makin Meningkat?

Benarkah Tes Agresif Sebabkan Kasus Positif Corona Makin Meningkat?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sudah tahu kan kalau virus merupakan salah satu makhluk hidup yang telah lama hidup di Bumi? Namun, mereka tak hidup seperti kita. Mereka harus membajak sel hidup lain untuk berkembang biak, itulah satu-satunya tujuan mereka untuk bertahan hidup dan mereplikasi diri. Contohnya, SARS-CoV-2 penyebab pagebluk COVID-19 saat ini.

Virus jahat ini kita telah menyerang jutaan penduduk Bumi, dan menewaskan ratusan ribu nyawa, termasuk di Indonesia. Di negara kita virus corona mengundang banyak tanya, khususnya beberapa hari kebelakang. Alasannya, kasus positif corona terus meningkat, bahkan memecahkan rekor hingga lebih dari 1.000 kasus positif dalam satu hari. 

Padahal, pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk menekan penyebarannya. Mulai penutup akses pintu masuk ke Indonesia, hingga penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Lantas, kira-kira apa penyebab di balik kenaikan kurva corona di Indonesia? 

Baca juga: Kita Semua Vs Virus Corona, Siapa Pemenangnya?

Lebih Agresif, Hampir 20.000 Tes

Pekan lalu, terdapat empat kali jumlah tambahan kasus positif COVID-19 yang melampaui angka 1.000 pasien per hari. Kasus pertama terjadi pada Selasa (9/6), di mana saat itu tercatat 1.042 kasus positif baru di tanah air. Keesokan harinya, angkat tersebut makin meningkat menjadi 1.241 kasus. Tak berhenti sampai di situ, pada Jumat (12/6) pemerintah mencatat sebanyak 1.111 kasus baru, dan 1.041 kasus pada hari Sabtu (13/6). 

Pertanyaanya, mengapa bisa tembus hingga angka 1.000? Ternyata, rekor itu tak muncul dengan sendirinya, tetapi berkaitan dengan pemeriksaan laboratorium secara masif dan agresif untuk menemukan kasus baru. Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto, kini pemerintah telah melakukan tracing yang lebih agresif, hampir mendekati 20.000 spesimen per harinya. Contohnya, pada Rabu (10/6), uji laboratorium spesimen yang diperiksa sebanyak 17.757 orang. 

"Pemeriksaan laboratorium yang secara masif, kita lakukan, kemudian kontak tracing yang secara agresif kita lakukan, inilah yang kemudian menggambarkan banyaknya kasus positif yang didapatkan" jelasnya pada Jumat (12/6).

Sebelumnya pemerintah hanya menargetkan 10.000 tes per hari. Namun, setelah target tersebut tercapai, maka ditingkatkan menjadi 20.000 spesimen per hari dengan positif rate 11,9 persen. Kini, setidaknya terdapat 103 unit laboratorium PCR aktif, dan tes cepat molekuler sebanyak 77 laboratorium. 

Nah, kesimpulannya, menurut Gugus Tugas, meningkatnya angka penambahan kasus COVID-19 merupakan hasil pemeriksaan laboratorium secara masif. 

Sebenarnya, kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga beberapa negara lainnya. Ambil contoh, Amerika Serikat (AS). Pada bulan April AS hanya melakukan 150.000 tes harian untuk menguak penyebaran virus corona. Namun, pada bulan Mei, pemerintah  rata-rata melakukan hampir 300.000 tes virus korona baru per hari. Apa yang terjadi? Sama halnya dengan dengar kita, angka positif virus corona pun kian meningkat per harinya. 

Imbas Gelombang Mudik? 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan daily report (laporan harian) yang disampaikan pemerintah merupakan data yang telah dianalisis beberapa hari sebelumnya. Ingat, tes PCR memakan waktu cukup lama, bahkan hingga satu minggu. Lantas, apa yang terjadi satu minggu sebelum Selasa (9/6), di mana kasus baru virus corona tembus lebih dari 1.000? 

Bila dilihat ke belakang, momen tersebut berdekatan dengan arus balik lebaran 2020. Terlepas dari kebijakan pemerintah mengenai larangan mudik, tetapi kecenderungan masyarakat untuk mudik tetap tinggi. Lalu, benarkah mudik menjadi biang keladi dari meningkatnya kasus corona pekan lalu? Sayangnya, belum dapat dipastikan secara akurat. 

Akan tetapi, beberapa pakar mengatakan mudik bisa menyebabkan penyebaran virus corona menjadi tak terkendali. Bahkan, berpotensi menewaskan lebih banyak orang. 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Menurut Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, banyak orang-orang di daerah zona merah seperti Jakarta dan sekitarnya, yang terinfeksi Covid-19 tidak menunjukan gejala atau asimtomatik.

"Mereka yang mudik ini pulang ke kampung dan tidak tahu membawa virus karena tidak dites, lalu ketemu orang tua dan sanak saudara dan menginfeksi mereka. Dari daerah yang tidak ada virus lalu menjadi terpapar dan terjadi perluasan penyebaran infeksi," kata Pandu.

Abai dan ‘Terserah’

Masih ingat dengan topik “Indonesia Terserah” yang sempat diperbincangkan pada pertengah Mei silam? “Indonesia Terserah” viral setelah adanya kerumunan saat penutupan McD Sarinah dan adanya keramaian di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat (15/5). 

Topik tersebut muncul setelah dibagikan oleh para tenaga medis sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap ketidaktegasan pemerintah, dan masyarakat yang apatis terhadap pandemi COVID-19. Sebenarnya tak cuma kedua momen tersebut saja, kini keramaian pun sudah mulai terlihat di beberapa lokasi di tanah air, meski kurva corona masih meningkat. 

Padahal, banyak ahli sudah mengatakan, cara memutus rantai penyebaran virus corona dimulai dari di sendiri. Pandangan ini salah satunya datang dari profesor infectious disease modelling,  Graham Medley, di London School of Hygiene and Tropical Medicine. 

“Saya pikir cara paling baik (mencegah penularan virus corona) adalah dengan membayangkan bahwa Anda mengidap virus tersebut, dan mengubah perilaku sehingga tak menularkannya pada orang lain”

Dengan menghindari menggunakan kendaraan umum, tempat-tempat umum, kantor, atau bahkan berkumpul bersama teman-teman, menggunakan masker, menerapkan tanggung jawab sosial, artinya kita telah mengurangi kemungkinan untuk “tertular” dan “menularkan”. 

Jika banyak dari kita yang melakukan tindakan ini, virusnya memang masih menyebar, tapi kecepatannya lebih lambat. Sayangnya, perilaku masa bodoh atau abai seperti di ataslah yang bisa menyebabkan rantai penularan virus corona sulit diputus. 

Baca juga: Kasusnya Meningkat , Ini 8 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

Meremehkan dan Gegabah Jadi Satu

Kilas balik ke belakang, pada tahun 2005 WHO membuat cetak biru (blueprint) besar tentang bagaimana dunia harus bersiap diri dan menanggapi krisis seperti ini. Blueprint tersebut merekomendasikan semua negara harus mengembangkan kapasitas pendeteksian wabah, dan segera memberitahu WHO. Kala itu, sebanyak 196 negara menandatanganinya, tetapi sayangnya mayoritas tak patuh. 

Kembali ke pandemi COVID-19, sebelum menutup perbatasan, dan mengarantina warga mereka, banyak pemimpin dunia meremehkan virus yang mampu menyapu dunia ini. “Situasi sungguh terkendali”, ujar Giuseppe Conte, Perdana Menteri Italia pada 30 Januari 2020. “Kita harus melakukan bisnis seperti biasa”, kata Boris Johnson Perdana Menteri Inggris pada 3 Maret 2020. 

Tak cuma itu saja, pandangan sepele terhadap virus corona juga keluar dari mulut Presiden Brazil, Jair Bolsonaro pada 10 Maret 2020. Katanya,  “Virus corona itu sarat dengan fantasi”.

Lantas, apa dampaknya atas sikap tersebut? Ketiga negara tersebut harus berusaha mati-matian untuk melawan serangan virus corona. Kurva kenaikan pasien positif corona meroket, fasilitas kesehatan lumpuh, avoidable death pun tak bisa dihindari.

Ribuan, bahkan ratusan ribu nyawa telah melayang di tiga negara tersebut. Ingat, ketiga negara tersebut hanyalah contoh kecil. Masih banyak kejadian serupa terjadi di negara-negara lain.

Pertanyaannya, apa hal ini pula yang terjadi di negara kita? 

Belum Terkalahkan

Menaruh harapan pada para pakar, dokter, petugas kesehatan, pejabat pemerintah, negara tertentu, atau WHO pun bukan satu-satunya cara untuk menumpas corona si virus durjana. Virus corona penyebab COVID-19 tak terlihat, tak diketahui keberadaannya, bisa berada di mana saja, dan penyebarannya sangat masif. Alasan inilah yang seharusnya menyadarkan kita, bahwa pademi COVID-19 merupakan tanggung jawab bersama. 

Di balik pandemi COVID-19, ada satu kesalahan yang dilakukan virus jahat ini. Bila virus seperti SARS-CoV-2 mampu berpikir, mereka juga seharusnya belajar. Jika tujuan mereka mereplikasi diri, harusnya mereka tak membunuh kita. Sebab begitu virus menjadi pagebluk, semua kecerdasan manusia akan dikerahkan untuk menghancurkan mereka. Setuju? 

Kita tentu tahu harus berbuat apa, karena manusia telah ikut peraturan ini sejak kehidupan di Bumi dimulai. Dan, virus belum pernah mengalahkan manusia. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Vox. Diakses pada 2020. Why fighting the coronavirus depends on you.
Vox. Diakses pada 2020. America’s coronavirus testing numbers are really improving — finally.
WHO. Diakses pada 2020. Coronavirus disease (COVID-19) in Indonesia.
Covid19.go.id. Diakses pada 2020.
Netflix. Diakses pada 2020. Corona Virus Explained - Documentary.
Katadata.co.id . Diakses pada 2020. Jelang Normal Baru, Tambahan Kasus Covid-19 Tembus 1.000 per Hari.
Kementerian Kesehatan RI - Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Kasus COVID-19 Didominasi Penularan Lokal.
The Independent - UK and Worldwide News. Diakses pada 2020. Coronavirus: Pretend you are infected already to protect yourself, advises health professor.
CNBC Indonesia. Diakses pada 2020. Terungkap Alasan Kasus Positif Covid-19 RI Tembus Rekor Terus.
BBC. Covid-19 di Indonesia masih alami tambahan kasus baru 1.000an orang per hari, 'jangan samakan Indonesia dengan Korea'.
BBC. Covid-19. Virus Corona: Mudik berpotensi picu 'penyebaran Covid-19 tidak terkendali dan tewaskan ratusan ribu orang'.
Kompas.com - Indonesia Terserah, Ekspresi Kekecewaan, dan Bentuk Protes kepada Pemerintah.