Benarkah Virus Zika Dapat Menyebabkan Kelainan pada Janin?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   21 Desember 2018
Benarkah Virus Zika Dapat Menyebabkan Kelainan pada Janin? Benarkah Virus Zika Dapat Menyebabkan Kelainan pada Janin?

Halodoc, Jakarta –  Infeksi virus zika selama kehamilan dapat menyebabkan sindrom kelainan janin dan cacat lahir. Jika kamu sedang hamil atau mencoba untuk hamil, virus zika mungkin adalah kekhawatiran utama. Virus yang ditularkan nyamuk ini dapat memiliki konsekuensi yang berpotensi memberikan gangguan kesehatan bagi wanita hamil dan bayinya.

Zika telah menyebar ke hampir 100 negara di seluruh Afrika, Asia, Karibia, Amerika Tengah, Kepulauan Pasifik, dan Amerika Selatan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, menemukan bahwa virus zika dapat menyebabkan glaukoma pada bayi yang terpapar di rahim.

Hal ini juga dikaitkan dengan gangguan pendengaran, masalah penglihatan, dan gangguan pertumbuhan pada bayi. Spektrum penuh untuk bayi yang terinfeksi dengan zika masih sedang dipelajari, tapi bayi yang tidak menunjukkan tanda-tanda awal cacat lahir juga dapat mengembangkan kerusakan progresif.

Virus zika juga dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan atau hampir di waktu kelahiran. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), tidak ada studi klinis untuk mengukur risiko pada bayi yang belum lahir jika ibunya terinfeksi. Dalam kasus yang jarang terjadi, virus zika dapat diteruskan melalui transfusi darah.

Virus zika bisa terdeteksi pada jaringan janin cairan ketuban bayi yang baru lahir, plasenta, dan ASI, tetapi karena jumlahnya kecil, hal ini tidak menjadi sesuatu ancaman kesehatan yang signifikan.

Infeksi Zika mirip dengan kasus flu ringan dan mungkin termasuk gejala, seperti demam ringan, sakit kepala, ruam, otot dan nyeri sendi, dan konjungtivitis (mata merah). Gejala bisa berlangsung beberapa hari hingga seminggu. Hanya 20 persen orang yang terinfeksi virus zika akan benar-benar menjadi sakit. Ada kemungkinan wanita hamil lebih mungkin mengembangkan gejala ini setelah terinfeksi.

Secara khusus, Centers for Disease Control and Prevention, menganjurkan wanita hamil tanpa gejala yang pernah berkunjung ke tempat dengan transmisi zika yang sedang berlangsung untuk melakukan pengujian antara 2—12 minggu setelah kembali dari daerah kunjungan.

Centers for Disease Control and Prevention juga merekomendasikan bahwa wanita hamil tanpa gejala, tetapi yang tinggal di daerah yang terkena zika diuji untuk virus pada awal perawatan pranatal dan tengah trimester kedua. Bahkan, jika kamu tidak menunjukkan gejala, janin yang belum lahir harus diperiksa, biasanya melalui USG.

Gunakan Lotion Penolak Nyamuk

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan produk dengan DEET, yang bisa menjadi pelingdung terhadap zika serta penyakit Lyme dan virus West Nile. Anak-anak usia 2 bulan dan lebih tua dapat dengan aman menggunakan penolak yang mengandung 5—7 persen DEET. Semprotkan penolak nyamuk ke tangan, lalu gosokkan ke kulit anak. Berhati-hatilah untuk menghindari mata, hidung, dan mulut.

Berpakaianlah dengan Bijak

Pada malam hari atau ketika ada banyak nyamuk di sekitar, tutupi tubuh dengan baju berlengan panjang, celana panjang, dan kaos kaki. Di daerah-daerah yang berisiko tinggi, kamu mungkin ingin memilih pakaian yang sebelumnya menggunakan insektisida permethrin.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai virus zika serta penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga:

 

 

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan