
Bisu: Definisi, Penyebab, Penanganan, dan Informasi Lengkap
Bisu adalah kondisi tidak mampu berbicara yang dapat disebabkan oleh gangguan neurologis, fisik, atau psikologis.

DAFTAR ISI
- Pengertian Bisu (Mutisme) dan Fakta Medisnya
- Bagaimana Proses Terjadinya Suara dan Bicara?
- Jenis-Jenis Kondisi yang Menyebabkan Seseorang Bisu
- Penyebab Utama Terjadinya Mutisme atau Gangguan Bicara
- Diagnosis dan Deteksi Dini Gangguan Bicara
- Penanganan dan Terapi yang Tersedia
- Studi Terkait Gangguan Wicara dan Mutisme
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Dalam dunia medis dan kesehatan masyarakat, istilah “bisu” sering kali digunakan secara umum untuk mendeskripsikan kondisi seseorang yang tidak dapat berbicara atau mengeluarkan suara. Namun, secara medis, bisu adalah suatu kondisi yang jauh lebih kompleks dan mencakup berbagai gangguan yang dikenal dengan istilah mutisme, afasia, atau disabilitas rungu wicara. Hilangnya kemampuan berbicara bukanlah sebuah penyakit tunggal, melainkan sebuah gejala atau akibat dari kondisi medis lain yang mendasarinya, baik itu yang bersifat bawaan (kongenital) maupun yang didapat (acquired) akibat penyakit atau trauma.
Mengetahui dan memahami kondisi ini sangatlah penting, karena penyebab ketidakmampuan berbicara sangat bervariasi. Pada sebagian kasus, kondisi ini berkaitan erat dengan gangguan pendengaran sejak lahir. Bayi belajar berbicara dengan cara mendengarkan dan meniru suara di sekitarnya. Jika ia lahir dengan kondisi tuli bawaan dan tidak mendapatkan intervensi dini, maka ia tidak akan bisa belajar memproduksi kata-kata, yang sering kali diistilahkan oleh masyarakat awam sebagai “tuli-bisu”. Namun, di sisi lain, ada pula individu yang memiliki pendengaran normal dan organ bicara yang utuh, tetapi kehilangan kemampuan bicara akibat kerusakan otak, seperti stroke, atau bahkan karena faktor psikologis yang sangat berat.
Penanganan terhadap kondisi tidak bisa berbicara ini tentu harus disesuaikan dengan akar penyebabnya. Oleh karena itu, langkah deteksi dini sangatlah krusial, terutama pada anak-anak yang sedang berada dalam fase emas perkembangan bahasa. Jika kamu mendapati anak, anggota keluarga, atau bahkan diri sendiri tiba-tiba mengalami kesulitan dalam memproduksi suara atau berbicara, langkah terbaik adalah segera mencari pertolongan medis agar evaluasi menyeluruh dapat dilakukan oleh ahli saraf, dokter THT, atau psikolog.
Nah, mau tahu apa saja fakta medis terkait kondisi ini, jenis-jenisnya, serta bagaimana penanganan yang tepat? Berikut ulasannya secara lengkap!
Pengertian Bisu (Mutisme) dan Fakta Medisnya
Secara definisi dasar, bisu adalah ketidakmampuan seseorang untuk berbicara. Dalam terminologi medis, kondisi tidak bisa berbicara sering disebut sebagai mutism atau mutisme. Orang yang mengalami kondisi ini mungkin tidak dapat menghasilkan suara sama sekali (afonia) atau tidak mampu merangkai kata-kata menjadi bahasa yang bermakna meskipun organ suaranya berfungsi (afasia atau apraksia).
Penting untuk dipahami bahwa di era modern, penggunaan istilah “bisu” atau “tuli-bisu” mulai digantikan dengan istilah yang lebih inklusif dan akurat secara medis, seperti “disabilitas rungu wicara” atau “gangguan bicara dan bahasa”. Hal ini karena sebagian besar orang yang dianggap “bisu” sebenarnya memiliki pita suara yang sehat secara anatomis. Ketidakmampuan mereka memproduksi bahasa lisan umumnya lebih disebabkan oleh otak yang tidak dapat memproses bahasa (karena kerusakan saraf) atau karena mereka tidak pernah mendengar suara manusia sebelumnya (akibat tuli bawaan).
Kemampuan berbicara adalah proses neurologis dan fisik yang sangat rumit. Ini membutuhkan kerja sama yang sempurna antara otak (pusat bahasa), saraf kranial yang mengirimkan sinyal, sistem pernapasan yang mendorong udara, serta pita suara dan otot-otot di mulut dan lidah (artikulator) yang membentuk udara tersebut menjadi kata-kata yang dapat dimengerti.
Bagaimana Proses Terjadinya Suara dan Bicara?
Untuk memahami mengapa seseorang bisa kehilangan kemampuan berbicara, kita harus mengerti bagaimana suara diproduksi. Proses ini bermula di otak. Ada dua area utama di otak besar yang mengatur bahasa: Area Wernicke (berperan dalam pemahaman bahasa) dan Area Broca (berperan dalam memproduksi bahasa/bicara).
Ketika kamu ingin berbicara, otak menyusun kata-kata dan mengirimkan sinyal saraf ke otot-otot sistem pernapasan dan laring (kotak suara). Paru-paru kemudian memompa udara ke atas melalui trakea (tenggorokan) menuju laring. Di dalam laring, terdapat pita suara (vocal cords). Aliran udara dari paru-paru membuat pita suara ini bergetar, dan getaran inilah yang menghasilkan suara dasar.
Namun, suara getaran pita suara ini belumlah berupa kata-kata. Suara mentah ini kemudian naik ke tenggorokan atas, hidung, dan mulut. Di sinilah otot-otot artikulator bekerja. Lidah, bibir, gigi, dan langit-langit mulut bergerak dengan sangat cepat dan presisi untuk memodifikasi suara tersebut menjadi huruf-huruf mati (konsonan) dan huruf hidup (vokal), yang pada akhirnya merangkai sebuah kata dan kalimat. Jika terdapat gangguan, kerusakan, atau anomali pada salah satu saja dari komponen-komponen di atas—baik otak, saraf, pernapasan, pita suara, atau pendengaran—maka kondisi mutisme atau gangguan bicara dapat terjadi.
Jenis-Jenis Kondisi yang Menyebabkan Seseorang Bisu
Karena penyebabnya sangat beragam, kondisi tidak dapat berbicara terbagi ke dalam beberapa jenis diagnosis medis, di antaranya:
1. Mutisme Tuli (Deaf-Mutism)
Ini adalah jenis yang paling sering dikaitkan dengan istilah bisu di masyarakat. Seseorang dengan deaf-mutism lahir dengan gangguan pendengaran berat atau tuli total (sensorineural hearing loss). Karena mereka tidak bisa mendengar bahasa lisan sejak bayi, mereka tidak dapat mempelajari cara meniru suara dan berbicara secara alami. Organ bicara mereka biasanya normal. Dengan terapi wicara intensif dan alat bantu dengar atau implan koklea yang dipasang sejak dini, anak dengan kondisi ini sebenarnya berpotensi untuk dapat berbicara.
2. Mutisme Selektif (Selective Mutism)
Mutisme selektif adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang umum terjadi pada anak-anak. Anak dengan kondisi ini sebenarnya memiliki kemampuan berbicara dan berbahasa yang normal di lingkungan yang membuatnya merasa aman, seperti di rumah bersama orang tua. Namun, mereka akan menjadi “bisu” atau tidak mampu berbicara sama sekali di situasi sosial tertentu, seperti di sekolah atau saat bertemu dengan orang asing. Ini bukan karena mereka keras kepala, melainkan karena tingkat kecemasan yang melumpuhkan kemampuan mereka untuk memproduksi suara.
3. Mutisme Akinetik (Akinetic Mutism)
Ini adalah kondisi neurologis yang parah di mana penderitanya kehilangan kemampuan untuk bergerak (akinetik) dan berbicara (mutisme), meskipun mereka dalam keadaan sadar dan tidak lumpuh. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kerusakan pada lobus frontal otak akibat stroke, tumor otak, atau cedera kepala berat. Penderita mutisme akinetik tidak memiliki motivasi atau dorongan motorik untuk mulai berbicara atau bergerak.
4. Afasia dan Apraksia Bicara
Afasia adalah hilangnya kemampuan untuk memproduksi dan memahami bahasa akibat kerusakan pusat bahasa di otak, yang paling sering disebabkan oleh stroke hemoragik atau iskemik. Ada kondisi yang disebut Afasia Broca (afasia non-fluen), di mana penderitanya memahami apa yang diucapkan orang lain, tetapi ia tidak mampu mengucapkan kata-kata balasan secara fisik. Sementara itu, apraksia bicara (Apraxia of Speech) adalah gangguan saraf motorik di mana otak kesulitan mengkoordinasikan gerakan otot-otot kompleks yang dibutuhkan untuk berbicara. Pasien tahu persis apa yang ingin dikatakan, tetapi otot bibir, lidah, dan rahangnya tidak merespons dengan benar.
5. Anartria dan Afonia
Anartria adalah bentuk paling parah dari disartria, yaitu kelumpuhan otot-otot yang mengontrol jalannya bicara. Pasien tidak bisa berbicara karena otot wajah dan tenggorokannya lumpuh, sering terlihat pada penyakit neurodegeneratif seperti ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Sedangkan afonia adalah hilangnya suara sepenuhnya akibat penyakit atau kerusakan langsung pada pita suara, seperti kelumpuhan saraf laringeal, operasi pengangkatan laring (laringektomi) akibat kanker tenggorokan, atau trauma fisik pada area leher.
Faktor Risiko Gangguan Bicara pada Anak
- Adanya riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran genetik.
- Infeksi ibu selama masa kehamilan (seperti Rubella, CMV, atau Toksoplasmosis).
- Bayi lahir prematur atau dengan berat badan lahir sangat rendah.
- Penyakit kuning yang sangat parah (hiperbilirubinemia) saat bayi baru lahir.
- Trauma psikologis, kekerasan fisik, atau pengabaian (neglect) di usia dini.
Penyebab Utama Terjadinya Mutisme atau Gangguan Bicara
Kondisi yang membuat seseorang tidak bisa berbicara dapat dikategorikan berdasarkan akar penyebab kelainannya. Berikut adalah beberapa etiologi atau penyebab utama yang diakui secara medis:
1. Faktor Genetik dan Bawaan (Kongenital)
Kelainan genetik adalah salah satu penyebab utama tuli bawaan yang berujung pada mutisme. Mutasi pada gen Connexin 26 (GJB2) adalah salah satu penyebab paling umum gangguan pendengaran sensorineural bawaan. Selain itu, kelainan anatomis saat pembentukan janin, seperti celah bibir dan langit-langit (cleft lip and palate) yang sangat parah atau ketiadaan struktur laring secara bawaan, juga akan membuat anak tidak dapat berbicara secara normal.
2. Faktor Neurologis (Kerusakan Otak dan Saraf)
Segala jenis cedera atau penyakit yang merusak struktur otak, terutama di belahan otak kiri tempat pusat bahasa berada, dapat menyebabkan seseorang kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Penyebab utamanya meliputi stroke, cedera otak traumatis (TBI) akibat kecelakaan, tumor otak, ensefalitis (radang otak), hingga penyakit neurodegeneratif progresif seperti Penyakit Alzheimer, Parkinson, dan Multiple Sclerosis.
3. Faktor Fisik pada Organ Pita Suara
Kerusakan mekanis langsung pada pita suara (laring) akan menyebabkan suara hilang sama sekali (afonia). Hal ini sering terjadi akibat pembedahan di area leher, misalnya operasi pengangkatan kelenjar tiroid yang tidak sengaja merusak saraf laringeal rekuren yang mengontrol pita suara. Kanker laring, polip pita suara yang masif, serta paparan radiasi pengobatan kanker di area leher juga bisa memicu hilangnya fungsi suara.
4. Faktor Psikologis dan Emosional
Kondisi mental dan psikologis juga bisa menyebabkan seseorang tidak mau atau tidak mampu berbicara. Pada anak-anak, trauma emosional yang berat, pelecehan seksual, atau pengalaman yang sangat menakutkan bisa memicu mutisme traumatis. Selain itu, kondisi kejiwaan kronis tertentu seperti skizofrenia katatonik juga dapat membuat pasien tidak responsif dan sama sekali tidak mengeluarkan suara dalam jangka waktu yang lama.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala kesulitan bicara secara tiba-tiba, baik itu cadel, salah ucap, maupun tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali yang mengindikasikan serangan stroke atau gangguan saraf, jangan menunda. Segera konsultasi ke dokter melalui Halodoc untuk mendapatkan diagnosis awal dan penanganan medis darurat jika diperlukan.
Diagnosis dan Deteksi Dini Gangguan Bicara
Semakin awal kondisi mutisme atau gangguan bicara ini dideteksi, semakin besar peluang pasien untuk mendapatkan intervensi yang efektif. Proses diagnosis biasanya melibatkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorok), ahli saraf (neurolog), dan terapis wicara.
Langkah pertama dalam diagnosis, terutama pada bayi dan anak-anak, adalah tes pendengaran komprehensif. Di rumah sakit modern, bayi baru lahir rutin menjalani tes Otoacoustic Emissions (OAE) atau Auditory Brainstem Response (ABR) untuk mengecek apakah rumah siput (koklea) dan saraf pendengaran mereka merespons suara. Jika anak dipastikan tidak memiliki masalah pendengaran namun masih belum bisa bicara (speech delay parah), dokter akan mencari penyebab lain.
Jika kecurigaan mengarah pada masalah neurologis, tes pemindaian otak seperti CT Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) akan dilakukan. Pemindaian ini berfungsi untuk mencari tahu apakah ada kerusakan struktural, pendarahan, sumbatan pembuluh darah, atau tumor yang menekan pusat bahasa di otak.
Pada kasus yang dicurigai sebagai mutisme selektif, peran psikolog dan psikiater anak sangat dibutuhkan. Mereka akan melakukan wawancara klinis, mengevaluasi riwayat perkembangan anak, dan melakukan observasi perilaku di berbagai lingkungan sosial untuk mengonfirmasi diagnosis.
Penanganan dan Terapi yang Tersedia
Pendekatan terapi untuk seseorang yang bisu sangat bergantung pada diagnosis utamanya. Tidak ada satu pil ajaib yang bisa menyembuhkan kondisi ini. Secara umum, penanganan medis tidak berfokus pada sekadar pemberian obat, melainkan pada rehabilitasi dan terapi fungsional. Namun, dalam proses penyembuhan jaringan saraf, dokter terkadang meresepkan suplemen neurotropik. Kamu bisa beli vitamin dan suplemen saraf secara online dengan mudah jika memang ada indikasi medis yang dianjurkan oleh dokter.
1. Alat Bantu Dengar dan Implan Koklea
Bagi mereka yang menderita mutisme akibat tuli sensorineural bawaan (Deaf-Mutism), penanganan medis modern dapat memberikan solusi yang sangat menjanjikan. Penggunaan alat bantu dengar (hearing aid) yang canggih bisa digunakan untuk gangguan pendengaran ringan hingga sedang. Namun, untuk anak yang terlahir tuli total, operasi Implan Koklea (Cochlear Implant) adalah standar emas. Alat elektronik ini ditanamkan ke dalam telinga bagian dalam untuk secara langsung merangsang saraf pendengaran. Jika dilakukan pada usia sangat dini (sebelum usia 2 tahun) dan diikuti dengan terapi wicara intensif, anak tersebut bisa belajar mendengar dan berbicara layaknya anak normal.
2. Terapi Wicara dan Bahasa (Speech-Language Therapy)
Terapis wicara (Speech-Language Pathologist) adalah tenaga profesional utama yang akan menangani pasien afasia, apraksia, atau keterlambatan bicara. Untuk pasien stroke yang mengalami afasia, terapi wicara berfungsi melatih kembali otak dalam mengenali kata-kata dan melatih otot mulut untuk bergerak secara sinkron. Terapi ini membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung tingkat keparahan kerusakan otaknya.
3. Terapi Kognitif Perilaku (CBT) untuk Mutisme Selektif
Bagi anak-anak dengan mutisme selektif, paksaan untuk berbicara justru akan memperburuk kecemasannya. Penanganan yang dianjurkan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Psikolog akan menggunakan metode desensitisasi bertahap, terapi bermain (play therapy), dan penguatan positif. Anak diajarkan perlahan-lahan untuk merasa nyaman dengan suara mereka sendiri dalam lingkungan sosial dengan tingkat tekanan yang rendah, lalu secara perlahan dinaikkan intensitasnya.
4. Bahasa Isyarat dan Komunikasi Augmentatif (AAC)
Jika kemampuan bicara vokal tidak memungkinkan untuk dikembalikan, fokus utama akan beralih pada memastikan individu tersebut tetap dapat berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya. Bagi komunitas tuli-bisu, bahasa isyarat adalah bahasa ibu mereka. Di Indonesia, terdapat Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang dipelajari dan digunakan luas. Selain itu, kemajuan teknologi menghadirkan alat Augmentative and Alternative Communication (AAC), seperti aplikasi tablet yang mengubah teks menjadi suara (text-to-speech) atau papan gambar komunikasi untuk membantu mereka berinteraksi secara sosial.
Studi Terkait Gangguan Wicara dan Mutisme
Journal of Speech, Language, and Hearing Research menerbitkan studi di tahun 2017 yang menjelaskan bahwa intervensi bahasa menggunakan bahasa isyarat sejak bayi tidak menghambat perkembangan kemampuan bahasa lisan pada anak yang menggunakan implan koklea.
Studi ini mematahkan mitos lama bahwa orang tua dari anak tuli-bisu harus melarang penggunaan bahasa isyarat. Justru, pemahaman bahasa secara visual membantu pembentukan struktur linguistik di otak anak, yang kelak akan memfasilitasi kemampuannya dalam memahami bahasa vokal setelah alat pendengaran ditanamkan dan berfungsi dengan baik.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Jika kamu atau kerabatmu masih memiliki gejala terkait gangguan kemampuan berbicara yang tak kunjung membaik, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut. Penanganan sejak dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi atau penurunan kualitas hidup yang lebih permanen.
Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami dan mendapatkan saran medis akurat secara online melalui aplikasi Halodoc.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Deafness and hearing loss.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Aphasia – Symptoms and causes.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Diakses pada 2024. Selective Mutism.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Apraxia of Speech: Symptoms, Causes & Treatments.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD). Diakses pada 2024. Cochlear Implants.
FAQ
1. Apakah bisu adalah kondisi turunan dari orang tua?
Bisa jadi, tetapi tidak selalu. Jika kondisi bisu disebabkan oleh tuli sensorineural bawaan, hal itu sering kali diwariskan secara genetik, seperti mutasi genetik tertentu. Namun, bisu juga bisa disebabkan oleh faktor non-genetik seperti infeksi selama kehamilan, trauma fisik, maupun kondisi neurologis seperti stroke.
2. Apa perbedaan antara bisu dan tuli?
Tuli merujuk pada ketidakmampuan sebagian atau keseluruhan organ telinga untuk mendengar suara. Sedangkan bisu merujuk pada ketidakmampuan memproduksi suara atau berbicara. Seringkali keduanya berhubungan erat; seseorang yang terlahir tuli menjadi bisu karena ia tidak pernah mendengar bahasa untuk ditiru.
3. Apakah anak yang menderita mutisme selektif bisa sembuh?
Ya, sebagian besar anak dengan mutisme selektif bisa mengatasi kondisinya jika didiagnosis lebih dini dan mendapatkan terapi psikologis yang tepat, seperti Terapi Kognitif Perilaku (CBT). Dengan dukungan keluarga dan lingkungan sekolah, anak akan perlahan mampu berbicara di situasi sosial yang memicu kecemasannya.
4. Bagaimana cara terbaik berkomunikasi dengan orang yang tidak bisa berbicara?
Kamu dapat menggunakan bahasa isyarat jika kamu memahaminya. Jika tidak, sediakan alat tulis seperti pulpen dan kertas, atau gunakan perangkat digital genggam agar mereka bisa mengetik apa yang ingin disampaikan. Pastikan menjaga kontak mata dan bersabar dalam menunggu respons mereka.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


