Ad Placeholder Image

Bolehkah Ibu Hamil Makan Jengkol? Ini Faktanya

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

“Jengkol kerap dianggap tabu untuk dikonsumsi ibu hamil. Padahal, makanan ini aman dikonsumsi ibu hamil asalkan tidak berlebihan.”

Bolehkah Ibu Hamil Makan Jengkol? Ini FaktanyaBolehkah Ibu Hamil Makan Jengkol? Ini Faktanya

DAFTAR ISI


Masa kehamilan adalah fase di mana seorang wanita sering kali mengalami perubahan selera makan yang drastis, atau yang lebih dikenal dengan istilah “ngidam”. Terkadang, makanan yang diidamkan memiliki aroma dan rasa yang sangat kuat, salah satunya adalah jengkol. Tanaman dengan nama latin Archidendron pauciflorum ini sangat populer di Indonesia karena teksturnya yang empuk dan rasanya yang khas jika dimasak dengan bumbu yang tepat. Namun, di balik kelezatannya, muncul kekhawatiran terkait keamanannya bagi janin.

Banyak calon ibu yang berdebat dan bertanya-tanya, sebenarnya bolehkah bumil makan jengkol secara medis? Secara umum, ibu hamil diperbolehkan mengonsumsi jengkol, asalkan dalam porsi yang sangat wajar dan tidak berlebihan. Mengonsumsi jengkol tidak dilarang secara mutlak karena jengkol pada dasarnya mengandung beberapa nutrisi yang baik. Namun, jengkol mengandung senyawa khusus yang disebut asam jengkolat (jengkolic acid), yang jika menumpuk di dalam tubuh dapat memicu masalah pada saluran kemih hingga gagal ginjal akut, sebuah kondisi yang sangat berbahaya bagi wanita hamil.

Selama kehamilan, ginjal ibu bekerja jauh lebih keras karena harus menyaring darah ekstra untuk mendukung pertumbuhan janin, serta membuang limbah dari tubuh ibu dan bayi sekaligus. Adanya beban tambahan dari asam jengkolat yang sulit larut dapat memperberat kerja ginjal. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk mengetahui batas aman, cara pengolahan yang tepat, dan tanda-tanda bahaya keracunan jengkol agar kehamilan tetap sehat dan aman.

Selain memperhatikan pantangan dan anjuran makanan, pastikan kamu juga selalu memenuhi kebutuhan nutrisi esensial melalui makanan bergizi dan rutin mengonsumsi vitamin dan suplemen kehamilan sesuai anjuran dokter. Nah, untuk memahami lebih dalam mengenai efek jengkol pada tubuh ibu hamil, mari kita bahas ulasan medis selengkapnya di bawah ini!

Kandungan Nutrisi dalam Jengkol

Sebelum membahas risikonya, ada baiknya kita mengetahui bahwa jengkol sebenarnya bukanlah makanan yang sama sekali tidak bergizi. Di balik baunya yang menyengat karena senyawa sulfur, jengkol mengandung sejumlah nutrisi makro dan mikro yang bermanfaat. Beberapa kandungan nutrisi utama dalam 100 gram jengkol mentah meliputi:

1. Protein Nabati: Jengkol merupakan sumber protein nabati yang cukup tinggi. Protein sangat esensial selama kehamilan untuk membangun jaringan tubuh janin, termasuk otak dan otot, serta membantu meningkatkan suplai darah ibu.

2. Zat Besi: Jengkol mengandung zat besi yang berfungsi mencegah anemia. Ibu hamil sangat rentan terhadap anemia defisiensi besi yang dapat menyebabkan kelelahan ekstrem, risiko persalinan prematur, hingga berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi.

3. Kalsium dan Fosfor: Kedua mineral ini penting untuk pembentukan tulang dan gigi janin yang kuat, serta mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis) pada ibu hamil.

4. Vitamin dan Antioksidan: Jengkol juga mengandung vitamin A, vitamin B, dan vitamin C, serta senyawa antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Meskipun kaya akan nutrisi, manfaat ini bisa langsung tertutupi oleh efek sampingnya jika jengkol dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan atau diolah dengan cara yang salah.

Risiko Asam Jengkolat pada Ibu Hamil

Ancaman utama dari mengonsumsi jengkol adalah keberadaan asam jengkolat (jengkolic acid). Ini adalah sejenis asam amino yang mengandung sulfur dan memiliki sifat yang sangat unik: asam ini sulit larut dalam air, terutama dalam suasana asam.

Ketika kamu makan jengkol, asam jengkolat akan masuk ke dalam aliran darah dan akhirnya disaring oleh ginjal untuk dibuang melalui urine. Jika urine kamu bersifat asam (pH rendah)—yang sering terjadi jika kamu kurang minum air putih—asam jengkolat tidak akan larut. Sebaliknya, ia akan mengendap dan membentuk kristal-kristal tajam di dalam ginjal, ureter, atau kandung kemih. Kondisi keracunan ini secara medis dikenal dengan istilah Djengkolism.

Mengapa ini sangat berisiko bagi ibu hamil? Pada masa kehamilan, volume darah dalam tubuh wanita meningkat hingga 50%. Ginjal harus meningkatkan laju filtrasi glomerulus (GFR) untuk mengatasi volume cairan yang ekstra ini. Artinya, ginjal ibu hamil sudah berada dalam kondisi kerja maksimal. Jika kristal asam jengkolat menyumbat saluran kemih pada masa ini, ginjal bisa mengalami peradangan akut hingga gagal ginjal. Sumbatan ginjal juga memicu nyeri kolik yang sangat hebat di area pinggang dan perut bawah, yang bisa memicu kontraksi rahim prematur.

Dampak Keracunan Jengkol terhadap Janin

Keracunan jengkol pada ibu hamil tidak hanya berdampak pada sang ibu, tetapi juga berpotensi membahayakan janin di dalam kandungan. Jika ibu mengalami gagal ginjal akut akibat sumbatan kristal asam jengkolat, tubuh ibu tidak akan mampu membuang racun (toksin) dan sisa metabolisme dengan baik.

Penumpukan toksin dalam darah ibu (uremia) dapat menembus plasenta dan memengaruhi perkembangan janin. Selain itu, gangguan ginjal akan mengacaukan keseimbangan cairan dan elektrolit ibu. Hal ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi yang tiba-tiba, memperburuk risiko preeklampsia—sebuah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ, yang dapat berakibat fatal bagi ibu maupun bayi.

Oleh karena itu, meskipun jengkol tidak mengandung racun yang secara langsung menyebabkan cacat lahir (teratogenik), efek domino dari kerusakan ginjal ibu sangatlah mengancam nyawa janin.

Gejala “Kejengkolan” yang Wajib Diwaspadai

Jika kamu sudah terlanjur mengonsumsi jengkol dan menyadari adanya perubahan pada tubuh, kamu harus sangat waspada. Gejala Djengkolism atau “kejengkolan” biasanya muncul antara 2 hingga 12 jam setelah konsumsi. Berikut adalah tanda-tanda yang harus segera mendapatkan penanganan medis:

1. Nyeri Pinggang dan Perut yang Hebat

Kristal jengkolat yang menggores saluran kemih akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, mirip dengan rasa sakit batu ginjal. Rasa sakit ini bisa menjalar dari pinggang belakang ke area selangkangan.

2. Kesulitan Buang Air Kecil (Disuria)

Kamu mungkin akan merasa ingin buang air kecil terus-menerus (anyang-anyangan), tetapi urine yang keluar hanya sedikit, atau bahkan disertai rasa perih dan terbakar yang sangat menyiksa.

3. Urine Berdarah (Hematuria)

Gesekan kristal tajam pada dinding saluran kemih akan menyebabkan perdarahan. Akibatnya, warna urine bisa berubah menjadi merah, kecokelatan, atau keruh keputihan.

4. Volume Urine Berkurang (Oliguria)

Dalam kondisi yang lebih parah, urine bisa sama sekali tidak keluar (anuria) karena ginjal benar-benar tersumbat, dan ini merupakan kondisi kegawatdaruratan medis.

Penting untuk Diingat: Langkah Pertama Jika Keracunan Jengkol
  1. Jangan panik. Segera hentikan konsumsi jengkol dalam bentuk apa pun.
  2. Minum air putih sebanyak-banyaknya secara perlahan untuk membantu melarutkan kristal dan membilas saluran kemih.
  3. Hindari minum minuman asam (seperti jus jeruk atau soda) karena suasana asam akan membuat kristal jengkolat semakin keras. Sebaliknya, minumlah cairan yang bersifat basa, seperti air yang dicampur sedikit soda kue (baking soda) jika disarankan oleh dokter.
  4. Segera kunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

Tips Aman Jika Ibu Hamil Ngidam Jengkol

Bagi ibu hamil yang mengalami ngidam berat dan merasa harus mengonsumsi jengkol untuk meredakan mual, tidak perlu sepenuhnya menahan diri. Kamu bisa memakannya, asalkan mematuhi aturan pengolahan dan konsumsi berikut ini untuk meminimalkan kadar asam jengkolat:

1. Rebus Jengkol Lebih Lama

Asam jengkolat dapat berkurang kadarnya melalui proses pemanasan. Rebuslah jengkol dalam waktu yang lama hingga benar-benar empuk. Kamu bisa merebusnya dua hingga tiga kali, dan selalu ganti air rebusannya untuk membuang racun yang terlarut.

2. Rendam dengan Air Kapur Sirih atau Abu Gosok

Sebelum dimasak, rendam jengkol mentah dalam air cucian beras, air kapur sirih, atau air campuran abu gosok selama beberapa hari. Cara tradisional ini telah terbukti secara ilmiah mampu menarik keluar asam jengkolat karena menciptakan suasana basa pada jengkol.

3. Jangan Makan Jengkol Mentah (Lalapan)

Sangat dilarang bagi ibu hamil mengonsumsi jengkol dalam keadaan mentah sebagai lalapan. Jengkol mentah memiliki kandungan asam jengkolat tertinggi yang utuh dan sangat berbahaya bagi ginjal.

4. Batasi Porsi Konsumsi

Makanlah 1 hingga 2 keping jengkol saja hanya untuk melegakan rasa ngidam. Jangan jadikan jengkol sebagai lauk utama yang dimakan bersama nasi dalam porsi piring besar. Porsi yang kecil akan lebih mudah ditangani oleh ginjal.

5. Imbangi dengan Hidrasi Maksimal

Setelah mengonsumsi jengkol, pastikan kamu meminum air putih ekstra, minimal 2 hingga 3 liter dalam sehari. Air putih yang cukup akan membuat urine menjadi lebih encer dan mencegah kristalisasi asam jengkolat di saluran kemih.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebagai ibu hamil, kesehatanmu adalah prioritas utama karena berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup janin. Kamu harus segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala-gejala “kejengkolan” seperti nyeri kolik perut bawah, kencing berdarah, atau demam setelah makan jengkol.

Bahkan, jika kamu tidak makan jengkol tetapi mengalami nyeri saat berkemih atau pembengkakan yang tidak wajar pada kaki (edema), segera konsultasikan ke dokter kandungan. Infeksi saluran kemih (ISK) sangat rentan terjadi pada ibu hamil dan gejalanya sering kali mirip dengan sumbatan ginjal tahap awal.

Studi Terkait Asam Jengkolat (Djengkolism)

National Center for Biotechnology Information (NCBI) mencatat studi medis mengenai kasus Djengkolism di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Studi tersebut menjelaskan bahwa Acute Kidney Injury (AKI) atau cedera ginjal akut yang diakibatkan oleh konsumsi biji jengkol terjadi karena asam amino jengkolic acid berpresipitasi dalam urine yang bersuasana asam (pH < 5.5).

Studi ini menegaskan bahwa tingkat bahaya tidak hanya bergantung pada seberapa banyak jengkol yang dikonsumsi, tetapi juga pada status hidrasi individu dan metode pengolahan makanannya. Pada wanita hamil yang volume plasma darahnya berubah, risiko kerusakan tubulus ginjal akibat kristal tajam ini menjadi lebih tinggi dan proses pemulihannya membutuhkan hidrasi intravena (infus) serta alkalisasi urine di rumah sakit.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Djengkolism: Case Report of Acute Kidney Injury Secondary to Djenkol Bean Ingestion.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Pregnancy diet: Focus on these essential nutrients.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience.

FAQ

1. Bolehkah bumil makan jengkol muda yang mentah sebagai lalapan?

Sangat tidak disarankan. Jengkol mentah memiliki kandungan asam jengkolat yang paling tinggi dibandingkan jengkol yang sudah dimasak. Ibu hamil wajib menghindari lalapan jengkol mentah karena risiko gagal ginjal akut sangat besar, ditambah risiko infeksi bakteri dari sayuran mentah.

2. Apakah jengkol bisa memicu keguguran?

Jengkol secara langsung tidak mengandung zat yang menggugurkan kandungan (aborsi). Namun, jika ibu hamil mengalami keracunan jengkol yang parah (gagal ginjal akut, nyeri kolik abdomen ekstrem, dan uremia), kondisi komplikasi tersebut dapat membahayakan nyawa janin dan berisiko memicu kelahiran prematur atau keguguran.

3. Bagaimana cara menghilangkan bau jengkol di mulut dan urine saat hamil?

Kamu bisa mengurangi baunya dengan memperbanyak minum air putih, mengunyah daun mint segar, menyikat gigi dengan bersih, atau meminum air rebusan daun sirih (pastikan konsultasi dokter sebelum minum herbal). Memasak jengkol dengan rempah yang kuat seperti daun salam dan serai juga membantu menetralisir baunya.

4. Apakah ada manfaat kesehatan makan jengkol saat hamil?

Ada. Jengkol kaya akan protein nabati, zat besi, kalsium, dan vitamin yang sebenarnya bagus untuk mencegah anemia dan mendukung pembentukan tulang janin. Asalkan porsinya sedikit dan jengkol telah direbus dengan sangat matang, ibu hamil bisa mendapatkan manfaat nutrisi ini.