Ad Placeholder Image

Calves: Si Anak Sapi atau Otot Kaki? Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 18 Juni 2026

Calves Ternyata Anak Sapi dan Otot Betis

Calves: Si Anak Sapi atau Otot Kaki? Ini PenjelasannyaCalves: Si Anak Sapi atau Otot Kaki? Ini Penjelasannya

DAFTAR ISI


Ketika mendengar kata “calf”, sebagian dari kamu mungkin langsung teringat pada anak sapi dalam bahasa Inggris. Namun, dalam dunia medis dan anatomi tubuh manusia, istilah otot calf merujuk pada otot betis yang terletak di bagian belakang kaki bawahmu. Otot ini merupakan salah satu kelompok otot yang paling aktif dan penting dalam tubuh kita.

Bayangkan saja, setiap kali kamu berdiri, berjalan, berlari, atau bahkan sekadar berjinjit mengambil barang di tempat yang tinggi, otot calf bekerja keras untuk menopang seluruh berat badanmu. Lebih dari sekadar alat gerak, otot betis juga sering dijuluki sebagai “jantung kedua” bagi tubuh karena peran krusialnya dalam memompa darah dari kaki kembali ke atas menuju jantung.

Karena beban kerjanya yang sangat berat setiap hari, tidak heran jika otot calf sangat rentan mengalami berbagai masalah. Mulai dari kram yang sering menyerang di tengah malam, otot tegang akibat olahraga, hingga kondisi medis yang lebih serius seperti penggumpalan darah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami anatomi, fungsi, dan cara menjaga kesehatan si “jantung kedua” ini.

Nah, mau tahu apa saja rahasia di balik otot calf dan bagaimana cara merawatnya agar terhindar dari cedera? Berikut ulasan selengkapnya!

Anatomi dan Fungsi Otot Calf

Otot calf sebenarnya bukanlah satu otot tunggal, melainkan sebuah kelompok otot kompleks yang bekerja secara harmonis. Ada dua otot utama dan satu otot kecil tambahan yang menyusun bagian belakang kaki bawahmu ini:

1. Otot Gastrocnemius

Ini adalah otot betis yang paling besar, berada paling dekat dengan kulit, dan memberikan bentuk menonjol pada betis. Gastrocnemius memiliki dua kepala (bagian medial dan lateral) yang berawal dari tulang paha (femur) tepat di atas lutut, lalu memanjang ke bawah hingga menyatu dengan tendon Achilles di tumit. Otot ini didominasi oleh serat otot kedutan cepat (fast-twitch fibers), yang membuatnya sangat kuat untuk gerakan cepat dan eksplosif seperti melompat atau berlari sprint.

2. Otot Soleus

Terletak tepat di bawah dan di balik otot gastrocnemius, soleus adalah otot yang lebih datar dan lebar. Berbeda dengan gastrocnemius, soleus bermula dari tulang kering (tibia) dan tulang betis (fibula) di bawah lutut. Otot ini didominasi oleh serat otot kedutan lambat (slow-twitch fibers), sehingga fungsinya lebih berfokus pada daya tahan. Soleus terus bekerja secara pasif saat kamu berdiri diam untuk menjaga postur tubuh agar tidak jatuh ke depan.

3. Otot Plantaris

Ini adalah otot yang sangat kecil dengan tendon yang sangat panjang dan tipis. Uniknya, sekitar 10 persen manusia terlahir tanpa otot plantaris ini, dan ketiadaannya sama sekali tidak memengaruhi fungsi pergerakan kaki. Fungsinya lebih bersifat mendukung kerja gastrocnemius.

Ketiga otot ini bekerja sama untuk melakukan gerakan plantar flexion, yaitu gerakan menunjuk jari kaki ke bawah atau mengangkat tumit dari tanah. Selain itu, kontraksi dan relaksasi ritmis dari otot-otot ini saat kamu berjalan berfungsi memeras pembuluh darah vena di kaki, mendorong darah melawan gravitasi kembali menuju paru-paru dan jantung.

Masalah Kesehatan Umum pada Otot Betis

Mengingat perannya yang sangat vital, ada beberapa gangguan dan cedera yang sering mengintai otot calf, antara lain:

1. Kram Betis (Charley Horse)

Kram adalah kontraksi otot yang tiba-tiba, tidak disengaja, dan sangat menyakitkan. Kondisi ini paling sering terjadi di malam hari saat tidur atau setelah olahraga intens. Penyebabnya beragam, mulai dari dehidrasi, kekurangan elektrolit (seperti kalium, kalsium, atau magnesium), kelelahan otot, hingga sirkulasi darah yang kurang lancar.

2. Ketegangan Otot (Calf Strain)

Ketegangan terjadi ketika serat otot betis meregang melebihi kapasitasnya atau robek. Cedera ini sangat umum dialami oleh atlet atau orang yang melakukan olahraga dengan gerakan berhenti dan mulai mendadak (seperti tenis, basket, atau bulu tangkis). Gejalanya meliputi rasa nyeri seperti ditusuk di bagian belakang kaki, bengkak, dan kesulitan untuk menumpukan berat badan pada kaki yang cedera.

3. Deep Vein Thrombosis (DVT)

DVT adalah kondisi medis serius di mana terbentuk gumpalan darah pada pembuluh vena dalam di betis. Kondisi ini sering terjadi pada orang yang duduk terlalu lama (misalnya saat penerbangan jarak jauh) atau pasca-operasi. Gejala khasnya meliputi betis yang bengkak sebelah, terasa hangat saat disentuh, kemerahan, dan nyeri tumpul. Jika kamu mencurigai adanya DVT, jangan tunda untuk konsultasi ke dokter karena gumpalan darah ini bisa lepas dan membahayakan paru-paru.

4. Klaudikasio Intermiten

Ini adalah rasa nyeri atau kram pada betis yang terjadi hanya saat berjalan dan hilang saat istirahat. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh Penyakit Arteri Perifer (PAD), di mana arteri yang mengalirkan darah ke kaki menyempit akibat penumpukan plak, sehingga otot betis kekurangan pasokan oksigen saat beraktivitas.

Tips Mencegah Kram Otot Betis di Malam Hari
  1. Lakukan peregangan ringan pada area betis dan tumit selama 5 menit sebelum tidur.
  2. Pastikan tubuh terhidrasi dengan minum air putih minimal 8 gelas sehari, terutama jika cuaca panas.
  3. Penuhi asupan elektrolit (kalium dan magnesium) dari makanan alami seperti pisang, ubi jalar, alpukat, dan bayam.

Cara Menjaga dan Mengatasi Nyeri Otot Calf

Jika kamu mengalami cedera ringan atau nyeri otot betis akibat kelelahan beraktivitas, kamu bisa melakukan pertolongan pertama di rumah menggunakan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation):

1. Rest (Istirahat)

Segera hentikan aktivitas yang memicu rasa nyeri. Jangan memaksakan diri untuk berjalan atau berlari jika betis terasa tertarik. Istirahatkan kaki setidaknya selama 48 jam pertama untuk mencegah robekan serat otot yang lebih parah.

2. Ice (Kompres Es)

Bungkus beberapa bongkah es batu dengan handuk bersih dan tempelkan pada area betis yang nyeri atau bengkak. Lakukan selama 15-20 menit setiap beberapa jam. Suhu dingin akan membantu mengecilkan pembuluh darah, sehingga mengurangi pembengkakan dan meredakan peradangan lokal.

3. Compression (Kompresi)

Gunakan perban elastis (elastic bandage) untuk membalut betis. Balutan ini memberikan tekanan ringan yang membantu menyokong otot dan mencegah penumpukan cairan (edema) berlebih. Pastikan balutan tidak terlalu ketat agar aliran darah tidak terhambat.

4. Elevation (Elevasi)

Saat berbaring atau duduk, sangga kaki menggunakan tumpukan bantal agar posisi betis berada lebih tinggi dari jantung. Posisi ini memanfaatkan gravitasi untuk membantu mengembalikan cairan yang menumpuk di kaki bagian bawah kembali ke sirkulasi pusat.

Selain metode fisik di atas, kamu juga bisa meredakan keluhan nyeri dari dalam maupun luar. Sebagai opsi praktis, kamu bisa beli obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen (golongan obat bebas) di platform kesehatan, atau mengoleskan salep otot berbahan dasar menthol atau diklofenak secara tipis-tipis di area yang kaku.

Studi Mengenai Kesehatan Otot Betis

Journal of Sports Science & Medicine menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa fleksibilitas otot gastrocnemius dan soleus sangat berkorelasi dengan penurunan risiko cedera ekstremitas bawah. Peneliti menemukan bahwa peregangan statis secara rutin selama 30 detik setiap harinya dapat meningkatkan rentang gerak (Range of Motion) pada sendi pergelangan kaki secara signifikan.

Hal ini membuktikan bahwa rutinitas pemanasan dan pendinginan sederhana berdampak besar bagi elastisitas otot. Otot betis yang kaku akan memberikan beban berlebih pada tendon Achilles, yang pada akhirnya memicu radang tendon atau robekan otot ketika dipaksa berkontraksi dengan cepat.

Konsultasi Dokter

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala nyeri betis yang tak kunjung membaik dengan perawatan di rumah, tampak bengkak kemerahan, atau terasa panas saat disentuh, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui aplikasi kesehatan.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Muscle cramp – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Calf Muscle Anatomy & Function.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Anatomy, Bony Pelvis and Lower Limb, Calf.
World Health Organization. Diakses pada 2024. Physical Activity and Musculoskeletal Health.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Waspada Trombosis Vena Dalam (DVT).

FAQ

1. Apa bedanya otot gastrocnemius dan otot soleus?

Gastrocnemius adalah otot bagian luar yang lebih besar dan berfungsi untuk gerakan cepat dan melompat. Sementara soleus terletak lebih dalam, lebih fokus pada daya tahan, dan menstabilkan tubuh saat sedang berdiri.

2. Kenapa otot betis sering kram di malam hari?

Kram betis di malam hari sering dipicu oleh dehidrasi, kelelahan otot setelah aktivitas seharian di siang hari, kekurangan elektrolit (kalium dan magnesium), atau posisi tidur yang membuat jari kaki menunjuk ke bawah terlalu lama.

3. Bagaimana cara melatih dan menguatkan otot betis?

Latihan paling sederhana yang bisa dilakukan di mana saja adalah calf raises. Kamu cukup berdiri tegak, lalu perlahan angkat tumit setinggi mungkin hingga bertumpu pada jari kaki, tahan sejenak, lalu turunkan. Latihan lompat tali dan jalan menanjak juga sangat efektif.

4. Kapan nyeri pada betis harus segera diperiksakan ke dokter?

Segera kunjungi layanan medis apabila nyeri betis disertai dengan bengkak tiba-tiba pada satu kaki saja, kulit betis tampak merah dan terasa panas, nyeri dada, atau napas menjadi sesak, karena ini bisa menjadi tanda bahaya adanya sumbatan pembuluh darah.